Site icon Berita Kota Makassar

Melestarikan Alat Musik Langka dan Ajarkan Langsung di Kelas

ADA banyak cara yang bisa dilakukan dalam upaya melestarikan budaya dan alat musik tradisional. Salah satunya lewat pembelajaran langsung di depan kelas. Andi Ni’ma Fada menjadi bagian dari proses itu.

JEMARI perempuan berhijab biru itu dengan lincahnya memainkan dawai sebuah kecapi. Kemudian masuk dalam syair sebuah lagu tempo dulu. Judulnya; Alamasea-sea. Liriknya dituntaskan hingga akhir.
”Beginilah cara saya memperkenalkan alat musik tradisional kepada anak-anak di dalam kelas. Pembelajaran langsung seperti sangat mereka sukai,” tutur Andi Ni’ma Fada. Ia menjadi tamu dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar dan telah tayang.
Andi Ni’ma adalah guru mata pelajaran seni budaya di SMP Negeri 4 Kota Makassar. Di pengujung tahun 2021 lalu, ia dinobatkan sebagai juara III Guru Inpiratif Tingkat Kota Makassar untuk kategori guru ASN. Salah satu best practise yang dihadirkannya ketika masuk tahapan penilaian, yakni pembelajaran langsung alat musik tradisional.

Di awal wawancara, Andi Ni’ma ditanya tentang motivasinya mengikuti ajang ini. Ia berargumen, dirinya ingin menunjukkan kepada sesamanya guru, baik yang ada di SMPN 4 Makassar maupun guru matapelajaran seni budaya secara umum bahwa mereka juga mampu berbuat dan berprestasi. Sebab selama ini kerap ada keaguan untuk ikut berkompetisi dalam ajang seperti.
”Terus terang, banyak guru seni budaya yang sangat berbakat dan berprestasi pula. Bahkan sampai ke level internasional. Tapi itu dalam bentuk pertunjukan langsung. Misalnya seni tarik, musik, dan seni seni rupa. Banyak yang hebat-hebat. Namun untuk yang urusan akademik, mereka agak enggan. Untuk itu, saya ingin menunjukkan bahwa kita juga bisa berprestasi pada bidang akademik, selain seni pertunjukan. Apalagi teman-teman juga mendorong, jadi saya ikut ajang ini,” jelasnya.
Selain kesehariannya sebagai tenaga edukatif, Andi Ni’ma juga tergabung dalam organisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya sebagai wakil ketua. Untuk divisi musik di organisasi ini, ia dipercaya sebagai ketua. Mereka yang tergabung di MGMP ini saling berkolaborasi, berkreasi, dan berkegiatan memajukan pembelajaran di sekolah. Salah satunya dengan menghadirkan buku yang bisa dijadikan referensi untuk mendukung proses belajar mengajar di kelas.
Andi Ni’ma Fada melakukan hal itu dengan menulis sejumlah buku. Ini pula yang menjadi bagian dari portofolio ketika ikut ajang Guru Inpiratif 2021.
Ditanya tentang dari mana mendapat ilmu tentang kecapi hingga pintar memainkannya, ternyata Andi Ni’ma adalah alumni Jurusan Seni Musik tahun 1988 di Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP) yang kini telah berubah nama menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM). Dari diploma tiga (D3) yang baru ada ketika itu, Andi Ni’ma kemudian lanjut ke jenjang starata satu (S1) pada jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik). Lalu S2 Program Pascasarjana (PPs) UNM jurusan Antropologi. Tesisnya mengkaji tentang musik tradisional. Dari pengalaman yang ditulis dalam bentuk skripsi dan tesis kemudian dibuatnya menjadi buku.
Buku pertamanya dicetak pada tahun 2018 berjudul Simfoni Kecapi. ”Pengalaman menulis itu sangat luar biasa,” akunya.
Dari situ ia kemudian mengikuti ajang Inobel (Inovasi Pembelaran) tingkat nasional. Andi Ni’ma masuk menjadi finalis. Bahkan mengikuti workshop hingga Yogya dan Bali. Lagi-lagi ia mengangkat musik tradisional.
Buku Simfoni Kecapi yang ditulis Andi Ni’ma berisi tentang tutorial bagaimana bisa mengajarkan kecapi modern bernama Kitoka kepada peserta didik. Termasuk dua alat musik tradisional lainnya, masing-masing suling bambu dan teknik dasar bermain gendang. Buku ini telah dicetak sebanyak 200 eksemplar. Kini tersisa kurang lebih 10 eksemplar untuk koleksi pribadi. Yang lainnya telah menyebar di kalangan guru seni budaya. Bukan hanya di Makassar, tapi juga daerah kabupaten di Sulsel.
”Jadi buku ini untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah. Di dalamnya sudah satu paket. Anak-anak bisa bermain gendang, suling, dan kecapi Kitoka,” ujarnya.
Kecapi merk Kitoka yang dimainkan Andi Ni’ma dan juga digunakannya untuk pembelajaran di kelas merupakan alat musik diatonis yang diciptakan oleh Karsin Kati. Nama Kitoka merupakan akronim dari Kecapi Diatonis Karsin.
Ada perbedaan yang cukup mencolok antara kecapi tradisional dengan kecapi Kitoka. ”Kalau kecapi Kitoka ini lebih stabil nada dan bunyinya, sehingga mudah untuk diajarkan di sekolah. Bisa bermain pada tujuh nada (diatonis). Sekaligus bisa digunakan untuk bermain kecapi tradisional. Sementara kecapi tradisional lebih banyak bermain di perasaan. Cakupan nadanya juga terbatas, hanya lima. Ada nada yang hilang.
Kecapi Kitoka, menurut Andi Ni’ma, dilengkapi dengan sebuah alat untuk menjempit satu papan tekan. Fungsinya untuk mengubah penggunaan dari modern ke tradisional atau sebaliknya.
”Nama alatnya namanya cida. Bahasa Bugis itu. Cipi (penjepit) dawai. Kalau penjepit dipasang, otomatis satu papan tekan tidak terpakai. Jadi sisa lima papan tekan yang berfungsi. Begitu cida dilepas, bisa menjadi tujuh nada yang standar,” terangnya.
Untuk proses penyeteman, Andi Ni’ma mengaku sangat mudah. Karena sudah ada aplikasi di gawai yang bisa membantu. Tuner ukulele dan gitar bisa digunakan, karena sama. Hal ini memudahkan untuk belajar sendiri dalam bermain kecapi Kitoka.
Buku kedua adalah rangkuman bentuk pertunjukan musik tradisional Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Di dalamnya berisi tentang Mabbiola Ugi yang ada di Kabupaten Wajo. Bassing-bassing dari Kajang, Bulukumba.
Ada pula buku seni budaya yang dibuat pada saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung di tengah pandemi.
Sebuah buku dengan ukuran yang besar dan cukup tebal, merupakan hasil kolaborasi dan kerja sama Andi Ni’ma dengan seorang peneliti musik tradisional ternama dari Jerman. Mereka bertemu melalui media sosial seperti Blog, Facebook dan Youtube.
”Awalnya dia mengirim pesan lewat inbox, menyampaikan akan berkunjung ke Indonesia dan berharap bisa dibantu, karena ini menyangkut pelestarian dan juga publikasi. Saya kemudian terlibat untuk menghubungi pemusik tradisional yang ada di Sulsel. Karena dia mengalami keterbatasan bahasa. Hanya bisa berbahasa Inggris. Saya sampaikan saya bisa membantu dia,” jelasnya.
Andi Ni’ma kemudian menghubungi para pemain musik tradisional tersebut, karena selama ini memang sudah kenal dengan mereka. Namun ada cerita lucu yang diperolehnya dari perjalanan kerja sama ini.
”Awalnya dia hubungi Pa’biola Ugi melalui media sosial dengan menggunakan bahasa Inggris. Tapi sampai berbulan-bulan tidak ditanggapi. Saya tanya namanya, kemudian saya hubungi orangnya. Ternyata alasannya tidak merespons, karena dikira penipu. Sebab yang dihubungi itu tidak tahu bahasa Inggris,” ungkapnya.

Buku terakhir yang ditulis Andi Ni’ma dan terbit di tahun 2020 tentang alat musik tandilo. Ia menyebut alat musik petik dengan dua dawai yang terakhir ditemukannya di Mamasa ini sudah sangat langka. Kala itu Desember 2019 Andi Ni’ma berkunjung dan bertemu langsung nenek yang memainkannya.

”Saya memang berusaha mencari masih adakah yang memiliki dan memainkan alatnya. Saya ke lokasi di Mamasa dan bertemu dengan Nene’ Lempang Barana atau biasa dipanggil Nene’ Esa. Usianya waktu itu 85 tahun dan sudah meninggal baru-baru ini. Saya tanya dari mana dia mendapatkan alat musik tersebut. Dia bilang peninggalan ayahnya. Dipakai menghibur untuk memecah kesunyian dan menghibur dirinya sendiri,” jelas Andi Ni’ma yang sempat belajar memainkan alat musik tersebut.
Dia pun mencatat secara teliti detail alat musik tersebut. Selanjutnya meminta untuk dibuatkan duplikasinya kepada seorang pembuat kecapi di Kabupaten Maros.
Andi Ni’ma sangat berharap alat musik ini jangan sampai punah. Dari duplikasi tandilo yang dibuatnya, ia ingin anak-anak di sekolah tahu, mengenal dan bisa memainkannya.
”Ke depan saya berharap ada teknik yang bisa digunakan sehingga dapat menjadi diatonis permainannya. Mungkin bertiga atau grup. Ada beberapa nada yang dapat dihasilka. Sampai saat ini baru ada empat nada melalui penyeteman yang berbeda untuk menghasilkan nada yang lain,” tandasnya. (*/rus)

Exit mobile version