MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar terus berupaya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak. Berbagai program dilaksanakan. Seperti program pengembangan kreativitas perempuan dan Jagai Anak’ta.
Untuk saat ini, Pemkot Makassar melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (DP3A) membuat program lorong ramah anak yang terintegrasi dengan program Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Danny Pomanto, yakni Lorong Wisata.
Kepala DP3A Kota Makassar Achi Soleman, mengatakan program inti DP3A yakni lorong ramah anak. Di dalam lorong tersebut telah menyatu dengan lorong wisata.
“Kita akan menemukan berbagai kreativitas anak, pemenuhan hak anak, bagaimana ruang parstisipasi anak bisa berkembang dalam Lorong Wisata tersebut. Bahkan kami mencoba memenuhi hak anak di Lorong Ramah Anak, seperti dalam Konvensi Hak Anak yakni hak pendidikan, sekolah, kesehatan, hak bermain. Sebab tumbuh kembang anak dilihat dari ruang mereka,” terang Achi yang menjadi tamu siniar (podcast) Berita Kota Makassar, Jumat (7/1).
Hanya saja, diakui Achi, bahwa mengubah pola pikir orang tua agar bisa memenuhi hak anak seperti pendidikan, tidak semudah membalik telapak tangan. Karena ada mindset dalam kepala sebagian orang tua, lebih baik mempekerjakan anak mereka daripada bersekolah.
“Kita akan terus mengedukasi warga akan pentingnya pemenuhan hak anak. Kami miliki kelompok shelter warga, yang merupakan gerakan partisipasi masyarakat, yang bertujuan memutus mata rantai kekerasan. Akhiri kekerasan perempuan dan anak, serta kesetaraan gender,” ujar Achi.
Olehnya itu, Achi menegaskan, Pemkot Makassar melalui dinas yang dipimpinnya akan terus berupaya melakukan pendampingan dan pemberdayaan perempuan. Apalagi ada bidang di DP3A yang memang membidangi kualitas hidup keluarga.
“Pola asuh keluarga kepada anak dimaksimalkan. Ketahanan keluarga serta bagaimana mengedukasi ibu-ibu soal keterampilan, sehingga pemberdayaan ekonominya bisa masuk ke situ. Apalagi, kami memiliki Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang berupaya menangani dan mengatasi psikologi sosial agar perkembangan anak lebih baik lagi. Selama pandemi covid keterbatasan orang bergerak,” jelasnya.
Begitu pula upaya dalam mengurangi pengaruh paham radikalisme yang telah diatur dalam undang-undang dan perwali. DP3A telah bersinergi dengan Densus 88 serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
“Kita terus melakukan sosialisasi dan mengintervensi keluarga agar bisa mencegah paham radikalisme. Angka kekerasan perempuan juga terus kita tekan hingga menurun. Kita berharap keterlibatan tokoh masyarakat, RT dan RW untuk memberikan pemahaman ke masyarakat akan bahayanya kekerasan dalam keluarga dan kekerasan terhadap anak. Jika menemukan ada kejadian seperti itu, bisa menghubungi UPTD digitalisasi layanan, form layanan dari google, agar mendapatkan pendampingan layangan, mediasi serta Rumah Aman. Selain Instagram, juga ada layanan 112 call center, dan UPTD PPA 0811483811,” tutup Achi. (war)
