WAJO, BKM — Pemkab Wajo terus berbenah menjalankan berbagai langkah untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki Danau Tempe.
Bupati Wajo Amran Mahmud saat tampil menjadi pembicara diskusi publik yang digelar Wija Lamaddukkelleng Pencita Alam (WILPALA) secara virtual, Senin (10/1) mengurai berbagai konsep dan program yang sedang dijalankan pemerintah saat ini.
Menurut Amran, Danau Tempe merupakan salah satu danau purba dan daerah tangkapan air yang secara geografis berada pada tiga kabupaten, yakni Kabupaten Wajo, Soppeng dan Sidrap.
Danau Tempe memiliki sejumlah fungsi. Diantaranya, sebagai kawasan tangkapan air dan reservasi air pada bagian tengah Sulawesi Selatan. Sumber cadangan air baku bagi kegiatan pertanian dan rumah tangga, serta sebagai habitat bagi biota air dan burung, baik yang tinggal maupun yang bermigrasi Begitu pula, sebagai kawasan perikanan darat, kawasan budidaya tanaman palawija dan kawasan pariwisata.
Sebagai habitat biota air, Danau Tempe kaya akan sumber daya berupa biota air, baik jenis-jenis binatang dan tumbuhan yang hidup di air. Jenis faunanya adalah jenis-jenis ikan dan udang.
“Saat ini aktivitas perikanan yang berlangsung di Danau Tempe adalah perikanan tangkap dengan melakukan aktifitas sumber daya ikan. Ke depan, kita akan kembangkan dengan pola perikanan budidaya yang saat ini sedang kita kembangkan dengan keramba jaring apung,” urai Amran.
Produksi ikan yang dihasilkan dari Danau Tempe dalam 69 tahun terakhir, menunjukkan data produksi perikanan dari tahun 1950 sampai dengan 2019 di empat kecamatan yang berbatasan langsung dengan Danau Tempe di Wajo cenderung mengalami penurunan. Karena itu, pemerintah berusaha melakukan penyelamatan.
“Pemkab Wajo terus berupaya melakukan penyelamatan. Dengan dukungan masyarakat dalam upaya penyelamatan dan pengelolaan Danau Tempe, alhamdulillah produksi perikanan Danau Tempe mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir. Bahkan, pada tahun 2020 mencapai 17.564 ton,” lanjutnya. (ono/C)

