MENJADI seorang kreator konten bisa dibilang gampang-gampang susah. Jika video hasil kreasi yang dibuat mampu dinikmati oleh penonton, maka warganet akan berlomba-lomba untuk menyaksikannya. Dan di situlah seorang kreator konten dianggap berhasil. Demikian pula sebaliknya.
NAMANYA Marsidi Bagas Zulhas. Namun lebih akrab dipanggil Daeng Konjo. Itu karena ia putra asli Kajang, Kabupaten Bulukumba, kelahiran 15 Oktober 1985.
Sebuah video yang diunggahnya di media sosial Youtube viral baru-baru ini. Ia melaporkan suasana banjir yang terjadi di terowongan Jalan Rappokalling. Yang menarik, karena Daeng Konjo menarasikannya ibarat tengah melaporkan sebuah pertandingan sepak bola. Gayanya itu juga dipertunjukkan ketika menjadi tamu di siniar (podcast) untuk kanal Berita Kota Makassar, Senin (24/1).
Selain itu, Daeng Konjo juga jago impersonate (menirukan) gaya bicara orang terkenal. Mulai dari Rhoma Irama dan pasangannya Ani, menyanyi ala Ariel Noah, serta berceramah menirukan suara almarhum Ustaz Zainuddin MZ. Termasuk penjual obat yang ada di pinggir jalan. Keahliannya itu ditunjukkan dan disampaikan dalam wawancara di kanal Youtube Berita Kota.
Walau sudah terkenal di media sosial sebagai seorang kreator konten, Daeng Konjo tak ingin jumawa. Ia mengaku membuat konten yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Khususnya yang lucu dan mengundang tawa orang yang menontonnya.
”Orang itu kan selera humornya berbeda. Karena itu kita harus tulus memberikan dan menunjukkan bakat yang ada dalam diri kita. Bergantung pada pemirsa dan netizen. Satu pesanku, jangan suka baper,” terang Daeng Konjo.
Lahir di Kajang lalu sekolah SMP di Makassar, tak membuat Marsidi abai terhadap falsafah dan kultur leluhur. Ia mengaku selalu menerapkannya di manapun berada. Khususnya Pappasang ri Kajang. Seperti percaya pada Tuhan yang berkehendak. Pentingnya bersatu dan tidak boleh bercerai berai. Memperluas ikatan kekeluargaan. Jujur ketika berkata dan tegas dalam mengambil tindakan. Sabar dalam menghadapi hal-hal tertentu. Mengerjakan semua yang diperintahkan oleh pemerintah.
”Orang Bugis-Makassar juga menerapkan hal itu. Mereka paling tidak mau tetangganya kelaparan. Walaupun yang ada sedikit, kemudian dibagi-bagi. Jadi intinya jangan kikir,” tandas Dg Konjo.
Merunut ke belakang, Dg Konjo mengaku pertama kali mengunggah konten ke media sosial miliknya di tahun 2018. Kondisi obyek wisata Tanjung Bayam yang kotor dan terkadang dijadikan tempat berbuat tak senonoh, menjadi sorotannya kala itu.
”Sebenarnya tidak pernah direncanakan untuk buat konten di situ. Waktu itu jalan-jalan ke sana sama teman-teman untuk latihan dance. Tapi melihat kondisinya yang kotor, direkam menggunakan HP. Saya pakai bahasa Makassar. Tidak lama kemudian lokasi tersebut dibersihkan,” terangnya.
Selain spontan, Dg Konjo mengaku tak pernah menulis ide atau gagasan untuk pembuatan kontennya. Semuanya dilakukan secara realistis dan nyata. Tidak terlalu dibuat-buat walau masih amatiran.
Hingga saat ini Dg Konjo belum membentuk sebuah tim tersendiri untuk penggarapan konten. Dirinya hanya berkolaborasi dadakan dengan orang-orang yang ingin bekerja sama secara spontan pula.
Dengan cara seperti itu, siapa sangka Dg Konjo telah banyak mendapatkan endorse. Termasuk untuk kendaraan. Ia memang tidak pilih-pilih produk dan tidak pasang tarif.
Apa yang dilakoni Dg Konjo saat ini bermula di tahun 2006. ”Saya sebenarnya bukan orang yang PD (percaya diri). Lebih pada nekat. Waktu itu ikut audisi pelawak sama Dg Nojeng. Tapi saya tidak lolos ke Jakarta. Tapi tidak apa-apa. Saya sudah dapat pengalaman, walau sampai saat ini masih awam dengan dunia entertain,” tuturnya.
Dg Konjo akan terus mencoba. Pesannya, jangan langsung pikirkan gagal ketika hendak memulai. Karena banyak orang yang selalu diterpa kegagalan namun akhirnya bisa meraih keberhasilan. (*/rus)
