MARLINA atau akrab di sebut Kak Lina, adalah wanita yang mendedikasikan hidupnya selama delapan tahun untuk berjuang mencerdaskan generasi bangsa yang tinggal di daerah plosok.
Laporan:FACHRUL AWALIL ILMI
Hal itu, bukan perkara mudah, selain menjalankan misinya untuk mencerdaskan anak yang tinggal di plosok, Lina juga memiliki kewajiban lain yakni sebagai seorang dosen. Ia kadang merasa kesulitan dalam mengatur waktunya.
“Sering merasa kesulitan dalam mengatur waktu. Ini adalah tantangan terberat saya sebagai relawan pendidikan, namun bagai mana pun caranya saya akan terus berusaha menjalankan semua kewajiban saya,” ungkap Marlina.
Berbagi ilmu merupakan salah satu amalan yang tidak akan pernah terputus pahalanya, selain menjadi ladang pahala bagi para relawan yang dengan senang hati membagi ilmunya, para relawan ini juga sudah menambah ilmu bagi anak anak yang berada di pelosok.
Ketertinggalan tingkat kecerdasan bagi anak di daerah pelosok sepertinya sudah lumrah di telinga masyarakat, namun sayang hanya segelintir dari mereka yang melakukan aksi untuk turun tangan dalam mencerdaskan bibit bangsa itu.
Menurut Lina, para orang tua yang tinggal di daerah pelosok tidak sadar akan kebutuhan pendidikan bagi anak, tidak jarang dari mereka hanya mengajarkan anak anaknya untuk turut serta dalam bertani ataupun beternak.
“Saya membangun beberapa komunitas relawan bertujuan agar anak anak yang tinggal dan bersekolah di daerah pelosok tidak lagi merasa tertinggal dengan kecerdasan siswa yang bersekolah di kota,” ungkapnya kepada penulis.
Beberapa sekolah yang terletak di pelosok memiliki banyak kendala baik dari bangunan sekolah maupun tenaga pengajar yang sangat minim, hal tersebut di jelaskan langsung oleh Lina.
“Anak yang mengenyam pendidikan di daerah itu sangat memerlukan banyak perhatian utamanya pada bangunan sekolah maupun tenaga pengajar,” imbuh Lina.
Aswin salah satu relawan pendidikan yang merupakan salah seoranganggota dari komunitas mengajar yang dirintis oleh Marlina pun turut menyampaikan hal serupa.
“Saya terkadang miris akan pola fikir para orang tua yang tinggal di daerah plosok. Terkadang saya mendengar dari siswa bahwa orang tuanya lebih menganjurkan anaknya untuk membantu orang tuanya untuk bertani ataupun beternak, karna menurutnya pendidikan itu mahal,”ungkap Aswin.(rul/B)