MAKASSAR, BKM — Pada perayaan Tahun Baru Imlek, Selasa (1/2), Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Makassar mengunjungi tiga klenteng tempat warga keturunan Tionghoa melakukan ritual sembahyang.
Masing-masing Klenteng Kwan Kong, Xian Ma, dan Vihara Ibu Agung Bahari yang berlokasi di Jalan Sulawesi.
Kunjungan tersebut untuk memastikan proses ibadah warga Tionghoa berjalan aman dan lancar. Sekaligus memberi ucapan selama kepada mereka yang tengah berbahagia merayakannya.
Danny beserta jajaran Forkopimda disambut antusias warga keturunan yang kebetulan melakukan ritual sembahyang dan berdoa di klenteng. Bahkan di Vihara Ibu Agung Bahari, Danny dan rombongan disambut dengan atraksi Barongsai.
Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, pada masa pandemi covid-19, perayaan tahun ini lebih semarak. Klenteng tempat persembahyangan warga Tionghoa lebih ramai. Namun, pihak Klenteng tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.
Di Klenteng Kwan Kong, Danny menyadari, perayaan Imlek kali ini masih diselimuti dengan suasana pandemi covid-19. Apalagi omicron sudah mulai masuk di Sulsel.
“Semangat Imlek kali ini, tentunya karena kita dalam pemulihan ekonomi. Untuk itu kami berharap Imlek ini menjadi momentum kita untuk sama-sama berdoa untuk kebangkitan ekonomi,” tuturnya.
Danny menyampaikan, kontribusi warga Tionghoa juga sangat besar dalam peningkatan ekonomi kota. “Saya kira engine Kota Makassar itu ada di kawasan Wajo, Tallo, Ujung Tanah, Ujung Pandang. Di situlah daerah pecinan. Nah, saya kira dalam kesejarahan Kota Makassar ada dulu namanya pintu dua, kemudian ada pelabuhan. Jadi saya kira besar sekali kontribusi keluarga kita dari masyarakat Tionghoa,” ujarnya.
Karena itu, dengan pertemuan ini diharapkan ada sinergi dan kolaborasi untuk menjaga dan membangun Kota Makassar dari bahaya pandemi. “Kolaborasinya, pertama melengkapi vaksinasi, bukan hanya dosis satu dan dua, tapi dengan booster,” paparnya.
Danny bilang, menurut para epidemiolog, itulah satu-satunya yang bisa diusahakan untuk melindungi diri, keluarga, dan kota dari pandemi. Disamping itu, Pemkot Makassar juga bersama seluruh Forkopimda terus melalukan penjagaan 24 jam. Termasuk menyiapkan fasilitas jika ada kelompok masyarakat yang ingin divaksin.
Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo juga menyampaikan selamat kepada warga Tionghoa yang merayakan Imlek. Ia berharap masyarakat Tionghoa senantiasa diberi kesehatan dan kesuksesan dalam menjalani karir di kehidupannya. “Inilah bentuk keberagaman, tetapi kita tetap menjunjung persatuan,” ujarnya.
Sejauh ini, masyarakat Tionghoa sudah menjadi bagian dari histori Kota Makassar. Bahkan berkat sinergi dan kolaborasi dengan warga Tionghoa, Makassar bisa meningkat perekonomiannya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulsel Yongris Lao memaknai tahun macan ini sebagai tahun recovery alias pemulihan. “Dua tahun lalu, yakni pada tahun tikus, menjadi masa yang cukup berat bagi kehidupan manusia. Orang-orang hampir seperti tikus yang hanya keluar cari makan lalu masuk kembali ke lobangnya,” kata Yongris.
Kemudian pada 2021 yakni tahun kerbau, orang-orang disebutnya bekerja keras untuk pemulihan awal. Mereka berusaha bangkit dari kondisi pandemi covid-19. “Sekarang tahun macan (tahun 2022) yang lebih bergeliat, lebih dinamis, lebih tegas, lebih kuat,” ujarnya.
Yongris pun berharap tahun ini pertumbuhan ekonomi dan aktivitas sosial bisa lebih bergeliat dibanding tahun sebelumnya. Ada harapan besar untuk melakukan recovery alias pemulihan total.
“Pertumbuhan kesempatan untuk maju dan berkerja bisa lebih bagus daripada tahun-tahun yang lalu. Macan ini simbol dari keberanian, ketegasan, kekuatan,” tegasnya. “Kita harap tahun ini kita bisa lebih perkasa dibanding dengan tahun-tahun yang lalu,” sambungnya.
Di sisi lain, karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, Yongris berharap nilai-nilai Imlek tetap bisa dilaksanakan. Meski sulit dilakukan secara tatap muka, masih tetap bisa dilakukan melalui dalam jaringan (daring).
“Yang paling penting orang Tionghoa itu punya satu nilai yang tertinggi dalam perilaku sosialnya. Itu adalah membangun relationship atau kuanzi. Itu membangun kualifikasi dengan masyarakat, keluarga, dan Imlek inilah momen yang paling tepat untuk itu,” paparnya.
Usai berkunjung ke klenteng, Danny dan rombongan bersilaturrahmi ke rumah salah satu tokoh Tionghoa yang juga Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Seluruh Indonesia (PSMTI) Wilayah Sulsel, Willianto Tanta. Dia mengatakan, perayaan Imlek merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun.
Kendati masih dalam kondisi terbatas, namun perayaan tahun ini lebih semarak karena sudah bisa saling bersilaturrahmi kendati dalam kondisi terbatas. Willianto Tanta mengaku, sudah tiga tahun terakhir dirinya tidak open house akibat pandemi covid.
“Saya belum berani menggelar open house karena masih kondisi pandemi covid. Jangan sampai wabah merebak. Jadi lewat WA atau zoom saja,” ujarnya. (rhm)
