Site icon Berita Kota Makassar

JRM Hadiri Ritual Ma’nene Suku Toraja

RANTEPAO, BKM–Politisi Partai Golkar Sulsel John Rende Mangontan (JRM) mengakui bila suku Toraja di kenal dunia internasional karena budaya dan adatnya, serta panorama alam dan komoditi kopinya.
Menurutnya, keunggulan dan keunikan yang dimiliki Toraja ini tentunya layak dan pantas menjadi magnet dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara maupun domestik. Hanya saja butuh dikelola secara profesional dan baik, sehingga menjadi primadona sumber pendapat asli daerah sektor pajak.
JRM yang juga Ketua Bapera Sulsel ini tidak menimpali kalau ritual adat Ma’nene di Lembang Embatau, di Kecamatan Tikala, khususnya di Batupapan Sumpiak, salah satu ritual rumpun keluarga besar.

Namun sayangnya ritual Ma’nene ini belum direncanakan baik, termasuk dimana pemerintah belum menganggap sebagai budaya yang memiliki daya tarik bagi wisatawan, sehingga campur tangan pemerintah belum terlalu nampak. “Semoga ritual ini menjadi kegiatan unggulan dari pemerintah Toraja Utara kedepan,” ujar anggota Fraksi Golkar DPRD Sulsel ini.

Untuk diketahui ritual Ma’nene (Mengganti Pakaian Jasad) suku Toraja, adalah prosesi adat mengganti pakaian jasad leluhur, dilakukan sudah ratusan tahun.
Ritual Ma’nene kerap dilakukan tiga tahun sekali dari rumpun keluarga suku Toraja, dengan mengeluarkan jasad leluhur, baik dari kuburan ditebing gunung (liang) atau kuburan dengan arsitek mirip rumah batu (patane). Dan selanjutnya jasad dibersihkan dan diganti pakaian baru.
Pasca jasad dibersihkan dan dikenakan pakaian baru, dimanfaatkan rumpun keluarga swafoto sekaligus memberi penghormatan.
Akhir dari ritual Ma’nene setelah jasad kembali dimasukkan ke liang atau kuburan dilakukan prosesi makan bersama (gus/rif/c).

Exit mobile version