MAROS, BKM — Para pelajar yang masuk sekolah dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, mereka tidak hanya dihadapkan risiko tertular virus Corona. Tapi sebagian dari mereka juga terancam tertimpa bangunan roboh. Lantaran sekolahnya sudah puluhan tahun tidak dilakukan rehabilitasi.
Sejumlah sekolah di Kabupaten Maros mengalami kerusakan cukup parah. Lantaran perbaikan atau rehabilitasi gedung sekolah tidak merata. Ada sekolah hampir setiap tahun dapat rehabilitasi. Namun ada pula sekolah sudah puluhan tahun tidak dapat dana rehab. Akibatnya, atap, plafon, dan bangunannya terancam roboh.
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Alimuddin Assagaf, ketika dihubungi wartawan, Minggu kemarin (6/2), menilai, maraknya ruang kelas yang rusak disebabkan perbaikan yang tidak merata.
Untuk mengurangi sekolah rusak, perlu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melibatkan tim profesional agar ada pemerataan pembagian bantuan rehabilitasi gedung yang rusak atau bantuan pembangunan gedung ruang kelas baru.
”Jangan ada kesan, siapa yang dekat itulah yang dapat bantuan rehab atau bangunan baru dengan alasan Dapodik sekolah itu bagus,” tegas Alimuddin.
Ditambahkan Alimuddin, berbicara soal Dapodik bagus dan tidak, itu perlu ada kejelasan. Seperti apa Dapodik yang dikatakan bagus dan seperti apa Dapodik kurang bagus. Setiap sekolah pasti tiap saat melalukan perbaikan data Dapodiknya.
Tapi kenapa sekolah itu hingga puluhan tahun tidak dapat bantuan rehab seperti SMPN Mallawa 12, SMP 10 Bantimurung, SMP 17 Marusu. Sementara ketiga sekolah itu terus memperbaiki Dapodiknya.
”Jika ada cara pelaporan Dapodik yang baik, sebaiknya diundang semua operator dan kepala sekolah untuk diajar agar data Dapodiknya bisa dikatakan baik dan pemerintah pusat bisa mengalokasi anggaran ke sekolah yang sudah puluhan tahun tidak dapat bantuan,” tegas mantan pengawas sekolah tersebut.
Untuk itu, sambung Alimuddin, para kepala sekolah yang memiliki ruang kelas rusak agar diperjelas laporannya. Dewan pendidikan sebagai mitra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan membatu memfasilitasi agar sekolah yang mendesak untuk direhab bisa segerah direhab. Dan yang belum mendesak bisa ditunda. Juga, kesan siapa yang dekat itu yang dapat juga bisa atasi.
”Kami yakin, sudah tidak ada lagi istilah siapa dekat itu yang dapat. Karena yang perlu sekarang adalah pemerataan pembangunan bidang pendidikan dan kebudayaan di Maros,” kata Alimuddin.
Untuk saat ini, kata Alimuddin, para Kepsek agar dapat melibatkan diri pada kegiatan Musrenbang kecamatan agar dinas pendidikan memasukkan nama sekolahnya di dokumen Musrenbang tahun anggaran 2023. Selanjutnya akan dikawal nanti di kabupaten melalui anggaran DAK APBN.
Untuk sementara, kepala sekolah dan guru yang sekolahnya rusak dan sebagian kayunya menggelantung dan atapnya melorot, tembok retak-retak, lantai keramik bergelombang, agar mengambil langkah yang bisa dilakukan untuk terus meminta para siswanya berhati-hati selama berada di lingkungan sekolah.
”Yang kita bayangkan plafon dan atap yang sudah rusak. Takutnya pada jatuh ke bawah dan menimpa anak-anak kita yang lagi belajar,” tutup Alimuddin. (ari/b)
