SEBUAH keberhasilan diraih dengan perjuangan. Tidak semudah membalik telapak tangan. Kisah dan perjalanan hidup Rahman Pina adalah contohnya.
MENGENAKAN kemeja yang didominasi warna kuning muda, politisi Partai Golkar ini hadir di redaksi Berita Kota Makassar Lantai III Gedung Graha Pena, Selasa (8/2). Ia menjadi tamu siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota. Kehadirannya memang sudah lama ditunggu-tunggu.
Ketua Komisi D DPRD Sulsel ini mengawali pernyataannya dengan mengemukakan bahwa dirinya seperti pulang kandang. Pulang ke rumah sendiri. Ya, Ketua Angkatan Muda Partai Golkar Sulsel ini memang pernah bekerja di Harian BKM. Bahkan ketika di awal terbit harian bernama Binabaru.
”Ini memori yang paling luar biasa dalam hidup saya dengan beberapa fase. Kurang lebih 10 tahun saya belajar. Saya benar-benar menjadikan BKM sebagai universitas. Yang saya rasa dari perjalanan karir dan hidup saya. Ilmu terbaik dan terbanyak referensi terbesar ada di BKM,” tutur sekretaris Fraksi Golkar DPRD Sulsel ini.
Hingga sampai di detik ini, diakui wakil rakyat yang akrab disapa RP ini, sudah sangat luar biasa. Dirinya bersyukur diberi umur yang panjang sampai bisa menapak karir seperti sekarang.
”Kalau pulang ke kampung, saya membayangkan 30 tahun lalu ketika duduk di bangku SD dan SMP. Kampung saya di Benteng Alla, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang. Waktu itu saya pergi ke sekolah tidak memakai sepatu atau sendal. Saya jalan kaki ke sekolah sejauh 3-5 km tidak pakai alas kaki,” terang RP.
Hal itu dilakoni Rahman, karena di kampungnya tidak ada kendaraan, baik motor maupun mobil. Yang ada hanya kuda sebagai alat transpotasi, seperti untuk dipakai ke pasar. Karenanya, ia merasa seperti keluar dari hutan belantara ketika berada di Makassar dan bertemu dengan banyak kendaraan.
”Perubahan terjadi begitu cepat. Jangankan berpikir untuk menjadi anggota DPRD, sampai di kota saja itu sudah hal yang sangat luar biasa sekali. Karena itu tadi, melihat kondisi ketika bersekolah di SD dan SMP,” imbuhnya.
Karena perjuangannya, Rahman Pina akhirnya diterima kuliah di Univesitas Hasanuddin. Universitas yang menjadi kebanggaan orang-orang di kampungnya. Mereka bisa lulus di Unhas dianggap sebagai anak yang luar biasa.
‘”Saya ikut UMPTN dan dinyatakan lulus di Unhas. Begitu satu desa langsung jadi bahan pembicaraan di kampung. Saya antara bahagia dan stres. Stresnya itu, karena untuk ke Makassar bagaimana caranya. Tinggal dengan siapa. Ongkosnya pakai apa. Orang tua saya tidak punya bayangan anaknya mau dititip di mana. Jadi saya berpikir sendiri untuk bisa sampai ke Makassar. Begitu juga untuk kuliah,” terangnya.
Namun, Rahman Pina meyakini bahwa jika kita punya usaha dan niat, selalu ada jalan. Yang terpenting adalah motivasinya kuat, semangatnya tinggi, kerja keras, disiplin dan jujur, selalu berkreasi apa saja untuk bisa menghasilkan yang terbaik.
Bergabung dengan media kampus Identitas, menjadi pengalaman yang tak terlupakan oleh RP. Di media ini ia memiliki teman yang punya banyak relasi di surat kabar yang ada di Makassar ketika itu. Seperti Fajar dan Pedoman Rakyat. Dari mereka diperoleh informasi bahwa ada satu surat kabar yang akan menjadi harian, yakni Binabaru sebelum berubah nama menjadi Berita Kota Makassar.
Duduk di bangku kuliah semester tiga, Rahman kemudian mencoba peruntungan. Ia melamar untuk menjadi wartawan dan akhirnya diterima. Ketika itu di tahun 1997-1998.
”Teman-teman saya di kampus waktu itu bilang saya membuat lompatan yang terlalu cepat. Sudah bisa aktif di media luar padahal baru semester tiga. Biasanya kalau seperti itu masih di media kampus,” jelas Rahman.
RP menjadi angkatan pertama di Harian Binabaru. Ia melakoni karirnya di BKM selama kurang lebih 10 tahun. Berpengalaman meliput di lapangan ketika masih berstatus magang hingga reporter. Selanjutnya dipercaya menjadi asisten redaktur sampai redaktur.
”Waktu jadi reporter, saya yang pertama berstatus organik. Pengalaman jadi reporter kriminal. Bertugas di polsek, berposko menunggu berita kriminal yang saat itu menjadi konsen Binabaru. Ini saya lakoni satu sampai dua tahun lamanya,” bebernya.
Usai di posko kriminal, RP lalu ditempatkan sebagai reporter olah raga. Di sinilah ia mulai mengenal banyak politisi. Mulai dari Ilham Arief Sirajuddin, Nurdin Halid, Kadir Halid, Hamka B Kady serta banyak lagi yang lainnya.
Di posisi ini pula ia pertama kali keluar negeri bersama PSM. Penugasan dari redaksi ia jalani sampai Korea Selatan dan Bangladesh.
Bersamaan dengan itu pula, Rahman juga mengenal pejabat di pemerintahan. Salah satunya Wali Kota Makassar ketika itu Malik B Masry. Ini menjadi modal besarnya untuk berkiprah di dunia politik.
Mengacu pada pengalamannya selama berkarir di dunia jurnalistik, Rahman Pina berpesan untuk tidak berpikir pendapatan yang besar ketika bekerja di media. Keikhlasan dan ketulusan menjadi bagian dari profesi ini.
”Saya mulai dari magang dan tidak mendapat apa-apa saat itu. Disuruh cari berita dengan berjalan kaki menemui narasumber. Tidak ada telepon. Namun, yang menjadi kebanggaan bagi kita saat itu ketika berita sudah dimuat di koran. Ini sangat luar biasa. Sudah bisa membanggakan kepada keluarga. Termasuk kepada narasumber. Karena waktu itu tidak mudah berita dimuat di koran. Apalagi media cetak harian,” ungkapnya.
Rahman Pina tercatat sebagai seorang wartawan dengan produktivitas tinggi. Paling banyak beritanya yang dimuat. Karena itu, ia menjadi reporter pertama yang namanya masuk dalam boks surat kabar. Ini menjadi kebanggaan tersendiri lagi, karena reporter dengan nama yang tercantum di boks akan menjadi perhatian narasumber.
”Karena namaku sudah masuk boks, saya berani untuk menikah. Istri sudah percaya kalau suaminya bisa diandalkan,” jelasnya.
Sekali lagi, Rahman Pina mengingatkan bahwa dunia media adalah perjuangan dan keikhlasan. Jangan pernah berpikir mau kaya begitu bekerja di media. Namun, orang memberi apresiasi terhadap karya dari pemberitaan akan menjadi kepuasan tersendiri.
Karena sudah beristri, RP kemudian berpikir untuk bisa mendapat pendapatan lain. Apalagi ketika itu di media tidak dibatasi bergaul dengan siapa saja. Bisa politisi, bisa pengusaha.
”Saya pernah ke Jakarta ketemu dengan teman yang punya usaha susu. Saya tertarik dan kemudian ikut. Sambil bekerja di media saya menjadi distributor dan terbesar di Indonesia Timur. Waktu itu omzetnya bisa mencapai Rp1,5 miliar setiap bulan. Dari situ awalnya saya kemudian bisa beli mobil,” terangnya.
Dari teman pula, ia berbisnis Al-Qur’an digital yang pertama di Sulsel. Dari situ RP bisa membeli ruko yang sebelumnya disewa. Tidak lama muncul ada handphone CDMA Flexi. Lagi-lagi Rahman menjadi distributor. Dia pun kemudian mendistribusikannya untuk camat dan kepala bagian di PDAM.
”Kalau ingin eksis dan bertahan di kota kita harus banyak kreasi. Jaga kepercayaan orang lain. Sampai masuk politik pun seperti itu. Karena akrab dengan Pak IAS (Ilham Arief Sirajuddin), saya kemudian gabung dengan Partai Golkar Makassar,” jelasnya. (*/rus)
