TEKNOLOGI digital dan pandemi telah membawa pengaruh pada banyak bidang. Tak terkecuali dunia seni. Termasuk seni pertunjukan teater. Rombongan Sandiwara Petta Puang tak memungkiri hal itu.
SUTRADARA Bahar Merdhu, Abdul Rojak (Petta Puang), Nursyamsulbeng (Conga), Jamal Kalam (Gimpe), Marlian (Lian), dan Fitri menjadi tamu siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Rabu (9/2). Mereka berkisah tentang awal mula terbentuknya Petta Puang, hingga kondisi yang mengharuskan mereka merambah dunia digital dari sebelumnya hanya bermain di dunia panggung.
Bahar Merdhu bertutur, hingga saat ini sudah 30 tahun Petta Puang berkiprah. Sejak kehadirannya tahun 1992, rombongan sandiwara ini telah tampil di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Bahkan ada di antara daerah tersebut, Petta Puang sudah tampil 20 kali.
”Sebenarnya kami sudah ada sejak tahun 1985. Waktu itu grupnya bernama Mekar Buana. Didirikan bersama Direktur BKM (Mustawa Nur) di sekolah waktu itu,” ujar Bahar Merdhu memulai penjelasannya.
Ada beberapa naskah yang biasa ditampilkan punya tokoh bernama Petta Puang. Ternyata, dari berbagai pementasan yang dilakoni, Petta Puang lebih banyak dikenal dan menjadi populer. ”Petta Puang jadi populer. Sehingga nama Mekar Buana diganti,” imbuhnya.
Menggunakan kata ‘rombongan’, diakui Bahar Merdhu juga ada sejarahnya. Ketika itu, masa-masa orang panggung sangat kesulitan untuk manggung. Karena tidak ada gedung kesenian yang representatif untuk digunakan. Mereka harus menyewa dan membutuhkan ongkos yang cukup besar.
”Itu tidak mungkin dilakukan, sementara kita ini harus selalu bersama. Sekadar berkumpul sebagai sebuah kelompok teater. Daripada tidak bisa melakukan apa-apa, ya pentas apa saja dan di mana saja. Ini untuk memenuhi kebutuhan berekpresi dan akting. Jadi tampillah kami di mana saja,” terang Bahar.
Mereka pun menggunakan panggung-panggung Agustusan. Meminta kepada panitia untuk menyumbang pertunjukan. Termasuk mendatangi ketua RT, RW dan lurah.
”Karena kita yang meminta, ya menerima saja jam berapa dikasih untuk bisa tampil. Stay di tempat parkir untuk menunggu. Make up di kaca spion. Rokok sebatang dua batang diisap bergantian,” ungkap Bahar lagi.
Rombongan sandiwara yang bermarkas di Benteng Somba Opu ketika itu, juga harus berjalan kaki ketika hendak menuju tempat pertunjukan. Sambil membawa peralatan manggung.
”Karena kita hanya nebeng, kita menunggu kapan dipanggil untuk naik ke atas panggung. Biasanya yang terakhir-terakhir. Kan biasanya kalau Agustusan itu banyak anak-anak yang tampil,” jelasnya.
Dari tampil di panggung Agustusan itulah kemudian Petta Puang dikenal banyak orang. Mereka berhasil membuat ketawa penontonnya sehingga merasa senang. ”Kalau begitu barulah kita dikasih kue dan kursi untuk tempat duduk. Sudah bisa duduk di samping Pak Lurah,” ujar Conga menambahkan.
Dalam satu malam rombongan Petta Puang bisa tampil dua atau tiga kampung. Bergantung dari waktu yang diberikan. Kalau cepat tampil di satu tempat, mereka bisa pindah lagi ke tempat lagi. Itu sambil jalan kaki. ”Ini kami lakoni selama dua tahun,” terang Bahar.
Di tahun ketiga barulah Petta Puang membuat program sendiri. Petta Puang Keliling Kampung namanya. Mereka tidak lagi menawarkan diri untuk tampil secara lisan. Tapi sudah membawa brosur sekaligus untuk berpromosi.
”Kita sampaikan, siapa tahu mau dihibur Petta Puang, bisa hubungi kami. Kami beri diskon juga. Tapi kami bilang, kalau mau diundang bisa dibantu biaya transportasinya. Begitu terus hingga akhirnya dikenal. Dibantu dengan pemberitan di koran. Termasuk BKM yang memberitakan kami waktu itu,” jelas Bahar Merdhu lagi.
Diminta tanggapannya soal millenial yang lebih banyak suka main film dibanding teater, Bahar punya penjelasan. Kata dia, sebelum masuk dunia film seharusnya kenal dulu teater. Karena di dunia teater biasa melatih dasar untuk akting serta karakter.
”Mereka harus mengenali itu dulu dan untuk mencapainya itu di panggung. Di teater memang orang-orangnya sudah dibentuk. Sudah tahu semua prinsipnya. Tapi anak-anak sekarang cenderung tidak menganggap itu. Menganggap seni peran itu cuma meniru. Kenapa orang senang tonton film dengan pemain yang profesional? Karena mereka selesai di situ. Menggeluti dunia peran mereka sekolah. Kalau main bukan sekadar akting,” terang Bahar.
Seiring perkembangan zaman yang kini memasuki digitalisasi, mau tidak mau Petta Puang harus menyesuaikan diri. Apalagi di tengah pandemi seperti saat ini, di mana job manggung sepi. Ditambah dengan serbuan film-film.
”Siapapun dengan mudah bisa berekspresi di dunia digital. Teman-teman yang dari panggung banyak yang lari dan bergerak di film. Kami mencoba tetap bertahan, karena merasakan aura dari dunia panggung. Tapi sampai kapan harus seperti ini. Kenapa kita tidak mencoba untuk masuk ke dunia digital,” kata Bahar.
Atas dasar itu, Petta Puang kini merambah dunia digital. Mereka lalu membuat konten. Mencoba memindahkan pikiran dan kreasi dari panggung ke visual, walau sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan panggung karena itu merupakan habitat Petta Puang.
”Masuknya kami di dunia visual sebagai upaya untuk bertahan. Membarui dan mengikuti zaman. Sekaligus menjadi jawaban pertanyaan dari teman-teman. Ini menjadi pertunangan Petta Puang dengan dunia digital,” kata Abdul Rojak yang tampil dengan kostum khasnya, jas tutup dan sarung serta songkok.
Sementara Conga mengajak untuk sama-sama mengikuti arus teknologi. ”Jika selama ini bermain di panggung, sekarang kita bermain digital,” ujarnya.
Menurut Gimpe, tidak ada yang instan ketika bermain di dunia digital. Semua berproses. Sama halnya di dunia panggung.
Fitri berharap Petta Puang bergerak maju kembali. Demikian pula dengan Lian, ingin agar Petta Puang tetap jaya, diingat banyak orang, dan kehadirannya selalu ditunggu. (*/rus)
