GOWA, BKM — Dunia maya dihebohkan dengan viralnya sebuah momen aliran air di lereng gunung yang dipenuhi dengan busa tebal berwarna putih. Peristiwa pada Rabu (9/2) sore itu terjadi di Bangkeng Ruru, atau salah satu lereng gunung di wilayah Dusun Kampung Beru, Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Karena viral, banyak warga dusun dan dari luar dusun berdatangan ingin melihat dari dekat aliran mata air yang busanya membumbung di atas pemukaan aliran air.
Namun, seusai waktu mahgrib, setelah kembali dipantau warga sekitar, kondisi busa di aliran mata air itu sudah menghilang sedikit demi sedikit. Bahkan, Kamis (10/2) pagi sejumlah aparat pemerintah dusun, desa dan aparat Polsek Parangloe datang menyaksikan namun busa sudah hilang dari atas permukaan air.
Salah seorang warga Desa Lonjoboko bernama Alimuddin Karaeng Sewang yang dikonfirmasi terkait busa air yang dianggap warganet sebagai fenomena alam itu, mengatakan hal serupa pernah terjadi di anak sungai Tama’lengu, kampung sebelah yang berdekatan dengan Kampung Beru, pada tahun 2004 silam. Kini hal sama terjadi di aliran mata air Bangkeng Ruru di Kampung Beru.
“Saya dan warga lainnya tidak tahu dari mana asal muasal busa itu. Dari mana pastinya, tidak ada yang tahu, ” jelas Alimuddin.
Namun pesan berantai melalui WhatsApp dari warga ke warga, tambah Alimuddin, diketahui busa itu diduga berasal dari serbuk kayu dalam jumlah besar yang jatuh ke aliran sungai dan akhirnya memunculkan busa tebal.
“Itu bukan sungai, tapi aliran sebuah mata air kecil di lereng gunung. Masyarakat menamakannya Bangkeng Ruru. Jadi bukanji sungai. Karena banyak orang yang bilang kalau busa itu menutupi sungai. Busa diduga berasal dari serbuk kayu, tapi saya juga tidak tahu itu dari serbuk kayu apa,” tambahnya.
Meski busanya melimpah dan membumbung tinggi hingga lebih dari 30 sentimeter dari atas permukaan aliran air, namun menurut warga sekitar, airnya tidak berbau. Selain itu, busa tersebut tidak bertahan lama. Diperkirakan hanya dua jam muncul lalu berangsur-angsur hilang.
“Banyak memang gelembung busanya. Bahkan sepanjang aliran mata air itu. Sampai terlihat di jalan raya dengan arah pandangan sebelah kiri jika menuju kota Malino. Tapi tidak lamaji dan airnya tidak berbauji. Rata-rata keluarga yang tinggal dekat lokasi mata air tidak kenapa-kenapa. Yang bikin mereka kaget dan heran karena volume busa yang banyak. Itupun tidak lama hilangji juga. Sekarang kondisi aliran mata air kembali bersih dan jernih,” kata Alimuddin Karaeng Sewang.
Kapolsek Parangloe AKP Mudatsir yang konfirmasi Kamis pagi (10/2), membenarkan adanya fenomena air berbusa tersebut. Namun dikatakannya, setelah dirinya bersama personel dan aparat dusun memantau langsung ke lokasi mata air tersebut, busa di atas air sudah menghilang.
Dijelaskan AKP Mudatsir, dari keterangan sejumlah warga, diketahui bahwa munculnya busa pada aliran sungai diakibatkan adanya pohon rambutan milik warga yang ditebang di kebun dekat aliran mata air tersebut. Serbuk batang pohon bercampur getahnya inilah yang jatuh ke air kemudian mengeluarkan busa lalu mengalir ke bawah.
“Jadi busa yang mengalir ke anak sungai ini diduga karena adanya ampas atau serbuk potongan kayu pohon rambutan yang telah ditebang, kemudian mengeluarkan busa lalu mengalir ke aliran mata air tersebut. Saya tegaskan, lokasi penebangan pohon rambutan itu tidak masuk dalam kawasan hutan produksi dan hutan lindung. Pohon itu berada dalam kebun salah satu warga yang menjadi aliran mata air setempat,” terang AKP Mudatsir.
Kapolsek membenarkan jika kini busa tersebut sudah tidak muncul lagi pada permukaan air. “Karena itu kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak lagi berspekulasi terkait hal ini. Sekarang kondisi aliran air sudah mulai normal dan busa sudah semakin berkurang, bahkan sudah hilang di permukaan air, ” tandas kapolsek yang datang ke lokasi bersama Kadus Kampung Beru Hesty Herlina Herman, yang juga merupakan pemilik pohon rambutan yang diduga penyebab timbulnya busa itu.
DLH Datangi Lokasi
Menyusul viralnya air berbusa itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa turun melakukan pemeriksaan pada air di Bangkeng Ruru.
Tim DLH ke pada Kamis pagi (10/2) dan langsung melakukan ujicoba di tempat. Hasilnya, timbulnya busa dengan volume besar di aliran mata air Bangkeng Ruru tersebut disebabkan karena kadar getah dalam ampas serbuk batang pohon rambutan yang telah ditebang warga setempat.
Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan DLH Kabupaten Gowa Andi Hernawati yang memimpin tim DLH Gowa di lokasi itu , mengatakan pihaknya tidak menemukan adanya aktivitas apapun di hulu aliran mata air Bangkeng Ruru. Kecuali adanya bekas penebangan sebuah pohon rambutan yang sudah tua.
“Di hulu mata air tidak ada aktivitas apapun. Yang ada hanya hamparan kebun warga. Sementara aktivitas yang ada hanya penebangan pohon rambutan yang sudah tua,” terang Andi Hernawati.
Ia membenarkan jika busa yang timbul di air adalah karena serbuk dari penebangan rambutan yang jatuh ke aliran air.
“Serbuk hasil penebangan pohon rambutan yang jatuh ke air. Karena kami lihat di situ warga menebang dan dibelah untuk dijadikan balok dan papan bahan rumah. Nah, serbuknya yang jatuh ke dalam air itulah yang berbusa,” paparnya.
Pernyataannya itu dikuatkan setelah pihaknya langsung melakukan ujicoba terhadap serbuk hasil penebangan pohon rambutan ke dalam air lain, dan hasilnya memang berbusa.
“Jadi tidak ada aktivitas yang kita temukan. Satu-satunya yang didapati itu hanya penebangan pohon rambutan besar. Kita juga periksa aliran air yang ada di hulu lokasi penebangan, dan ternyata di hulu itu kondisi airnya normal tidak ada busa,” paparnya.
Kabid Pencemaran DLH Kabupaten Gowa Budi Wahyudin Rachman, juga melakukan pengecekan parameter lapangan berupa PH dan suhu air dan menurutnya hasilnya juga normal.
“Kita juga ukur PH airnya dan suhunya normal. PHnya di 6 dan 7, karena kita uji coba di beberapa titik yang kita ambil. PH air 6 sampai 9 itu normal. Suhunya juga normal sesuai dengan tinjauan lapangan. Jadi kejadian busa ini bukan pencemaran lingkungan,” tandas Budi Wahyudin. (sar)
