MAKASSAR, BKM — Universitas Terbuka (UT) memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan jarak jauh serta pembelajaran sistem daring.
UT sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) ke-45 yang didirikan pada 1984, sampai saat ini terus melakukan inovasi agar menjadi pemimpin dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh.
”Pandemi covid-19 membawa dampak luar biasa bagi seluruh aspek kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan dan pengajaran. Proses pembelajaran dan pengajaran tiba tiba harus dalam jaringan atau online,” ujar Rektor UT, Prof Drs Ojat Darojat,MBus,PhD di sela-sela menghadiri Seminar Akademik dan Wisuda UT Makassar, 24-25 Januari 2022.
Dijelaskan, kondisi pengajaran lewat daring menjadikan pembelajaran UT selama ini semakin dibutuhkan dan menjadi rujukan bagi pengelolan pendidikan. ”
Pembelajaran yang dilakukan UT, online learning kini menjadi tren bagi pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan,” kata pria kelahiran Sumedang, 26 Oktober 1966 ini.
Lewat sistem pembelajaran berbasis online, maka UT semakin memantapkan jati diri sebagai benchmark penyelenggara pendidikan jarak jauh di tanah air.
Setiap saat UT secara kontinyu mengikuti kemajuan teknologi informasi dan revolusi industri 4.0, dengan menerapkan online proctoring, semakin mempermudah mahasiswa mengikuti ujian tidak terikat pada ruang ujian, tetap dapat dilakukan dimana saja, baik di rumah atau pun pada tempat kerja.
Lulusan terbaik Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia ini menerangkan, aplikasi online proctoring ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan UT, sekaligus menyempurnakan UT selaku kampus cyber university.
Penggunaan aplikasi ini memanfaatkan ujian online berbasis web, sisi lain semakin memudahkan mahasiswa UT dalam proses pembelajaran online yang dijalaninya.
Doktor dari Simon Fraser University (SFU) Canada 2013 ini menjelaskan, kepeloporan dan pengalaman yang telah teruji oleh perjalanan waktu. UT kemudian diberikan amanah jadi Koordinator Pengembangan Indonesian Cyber Education (ICE) Institute, pada masa Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Natsir.
Menurut President Asian Association of Open University (AAOU) Asosiasi Pendidikan Jarak Jauh Se-Asia 2020-2022, ICE Institute diluncurkan di Denpasar Bali 2018. Program ini menjadi semacam galeri marketing untuk e-learning di Indonesia dan merupakan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti yang dititipkan ke UT sebagai perguruan tinggi berpengalaman dalam pendidikan jarak jauh
Prof Ojat yang pernah menjadi Perwakilan Asia untuk Quality Assurance Program-International Council for Open and Distance Education (Asosiasi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh sedunia) 2017-2020
ini menjelaskan, pada pengoperasiannya ICE Institute bekerja sama dengan 12 Perguruan Tinggi di Indonesia. Masing-masing Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Sebelas Maret, Universitas Pradita, Universitas Bina Nusantara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Katolik Atma Jaya.
Magister Business Management dari LaTrobe University-Australia 2000
ini menegaskan, kehadiran ICE Institut dapat menjadi solusi dan jawaban untuk pemerintah agar dapat memfasilitasi peserta didik belajar di manapun mereka berada.
”Selain itu, pada sisi lain juga akan memberi jawaban bari program Kemendikbud, yaitu Kampus Merdeka, karena ICE Institute bakal menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain dalam penerapan Kampus Merdeka di perguruan tingi Indonesia,” tandas Ketua Lembaga Pengembangan Bahan Ajar, Ujian, dan Sistem Informasi (LPBAUSI) 2016-2017 ini. (rls)
