MAKASSAR, BKM — Sempat tertunda akibat perubahan managemen Pelindo di akhir tahun 2021, pembangunan Dry Port atau pelabuhan daratan di dua kabupaten, yakni Jeneponto dan Sidrap, Bahkan Pelindo menargetkan rampung tahun ini.
“Insyaallah tahun 2022 ini sudah selesai Dry Port yang kita bangun. Di wilayah selatan itu ada di daerah Jeneponto, dan di wilayah utara itu ada di Kabupaten Sidrap,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Ashari Fakhsirie Radjamilo saat dikonfrimasi kelanjutan Dry Port, Minggu (13/2).
Ashari menjelaskan, keberadaan Dry Port di dua kabupaten ini nantinya akan membantu eksportir Sulsel dalam mendistribusikan komoditasnya. Pasalnya akan memotong biaya pengiriman barang yang akan diekspor.
Nantinya, eksportir hanya mengirimkan komoditas yang akan di ekspor ke Dry Port terdekat. Selanjutnya pihak Pelindo yang akan mendistribusikannya ke Makassar, kemudian ke negara tujuan.
“Karena selama ini dia selalu berhitung berapa biaya kirim, contoh dari Bulukumba ke Makassar. Nah sekarang dipangkas biaya itu karena cuma sampai di kabupaten Jeneponto. Kalau sudah sampai di kabupaten Jeneponto atau Sidrap berarti sudah tanggung jawabnya Pelindo untuk membawa ke sini (Makassar) sampai ke negara tujuan,” jelas Ashari.
Lanjut, Ashari mengatakan, untuk memaksimalkan pelayanan maka akan dibangun perkantor di area Dry Port. Seperti perwakilan Dinas Perdagangan, Bea Cukai, Pelindo, dan Otoritas Pelabuhan.
“Apapun yang ada di Makassar New Port akan terbangun juga di sana (Dry Port). Jadi otomatis ada titik tumbuh baru ekonomi yang kita ciptakan di Sulsel melalui Dry Port tersebut,” tambah Ashari.
Melalui pembangunan infrastruktur penunjang seperti Dry Port ini, Ashari optimis dapat mencapai target peningkatan ekspor 25 persen tahun ini. Apalagi beberapa komoditas baru mendapat pasar di tahun 2022 ini. Seperti gula merah cair, teh nipah dan beras ketan hitam.
“Kami yakin tahun 2022 ini bisa terwujud, dan kita berharap bisa meningkatkan ekspor kita,” pungkasnya. (jun)

