BAHASA daerah asal Sulawesi Selatan yang terserap masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih sangat kurang. Di kisaran angka 1 persen. Bahasa daerah yang dimaksud adalah Bugis, Makassar, Mandar, dan Tana Toraja.
”Untuk saat ini, bahasa daerah yang banyak masuk dalam KBBI adalah Jawa dan Sunda. Kalau bahasa Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja belum sampai 1 persen. Jadi kita arahnya ke sana. 5 persen saja bahasa daerah asal Sulsel yang disumbangkan ke dalam KBBI, itu sudah sangat luar biasa. Untuk tahun ini, diharapkan ada tambahan 200 ribu kosakata baru di KBBI,” ujar Yani Paryono.
Kepala Balai Bahasa Sulawesi Selatan ini menjadi tamu siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Selasa (15/2). Ia yang baru sehari berada di Makassar melakukan kunjungan media usai bertandang ke kantor Gubernur Sulsel di hari yang sama.
Menurut Yani, kosakata bahasa Indonesia tidak hanya diperkaya oleh bahasa daerah, bahasa serumpun, dan bahasa asing. Tapi juga dengan hadirnya bahasa dari kaum milenial dan remaja.
”Ada anggapan bahwa milenial menggunakan bahasa prokem dan semacamnya. Apakah itu akan merusak bahasa Indonesia atau tidak? Jawabannya sama sekali tidak. Karena itu hanya berlangsung dalam kurun waktu tertentu saja. Nanti akan berkembang dengan sendiri. Bahkan menurut saya dan para peneliti serta pengamat bahasa, bahwa hadirnya bahasa remaja itu bisa memperkaya kosakata bahasa Indonesia,” terang Yani.
Ia kemudian mencontohkan kata anjay, yang beberapa waktu lalu sempat heboh. Ada yang memaknainya sebagai kata kasar dan merendahkan. Padahal sebenarnya tidak. Bergantung pada konteks kalimatnya.
”Misalnya; Anjay benar Pak Rustam bisa mengangkat Berita Kota menjadi suatu program yang wow. Itu artinya Pak Rustam hebat. Anjay di sini artinya hebat. Bukan yang lain,” tandasnya.
Ditanya tentang bahasa Indonesia di kekinian, Yani mengungkap sebuah fakta. Dikatakan, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang luar biasa pesat berkembang, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan, bahasa Indonesia menjadi bahasa asing yang paling favorit di dunia.
Selain itu, sejak tahun 2012 sudah ada 298 lembaga di luar negeri yang membuka jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Di tahun yang sama, di Australia ada 500 sekolah dasar yang mewajibkan lulusnnya bisa berbahasa Indonesia. Termasuk di Vietnam, pada tahun 2007 menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi nasional di negaranya.
Lalu, apa program yang akan dilaksanakan Yani selama menjabat di Sulsel? ”Tentu sesuai tupoksi Balai Bahasa Sulsel yang sudah digariskan menteri. Seperti pengembangan, pembinaan, perlindungan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah. Otomatis itu. Sementara untuk program prioritas dari Jakarta, yaitu pemerkayaan bahasa daerah sebagai bahan untuk pemasukan KBBI. Sekarang masih dalam tahap pengumpulan data. Kedua kegiatan literasi yang menjadi program nasional dan harus dilaksanakan. Ketiga adalah Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA),” terangnya.
Sebagai pejabat baru di Balai Bahasa Sulsel, Yani mengajak BKM untuk mendukung dan menjadi terdepan dalam urusan kebahasaan. ”Tugas kami mengemban amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan Perpres 63 Tahun 2019 tentang Pengutamaan Bahasa Bahasa Indonesia di Ruang Publik dan Badan Publik. Termasuk kewajiban penggunaan bahasa Indonesia di media massa,” jelasnya.
Di akhir wawancara, Yani diminta untuk menyampaikan harapannya terkait penggunaan bahasa Indonesia. ”Harapan saya tidak muluk-muluk. Cukuplah penggunaan bahasa Indonesia di Sulsel menjadi percontohan di seluruh Indonesia. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing sebagai warga dunia,” tandasnya. (*/rus)
