ENREKANG, BKM — Kabupaten Enrekang genap berusia ke-61 tepat 18 Februari 2022. Sejarah telah mencatat perjalanan daerah yang dikenal dengan nama Massenrempulu ini. Sejauh ini Enrekang telah dipimpin 17 bupati.
Sejak abad XIV Kabupaten Enrekang disebut Massenrempu yang berarti meminggir gunung atau menyusur gunung. Sedangkan kata Enrekang dari Endeg yang artinya ‘naik dari’ atau panjat. Dari kata itulah asal mulanya sebutan Endekan.
Namun masih ada versi lain. Dalam pengertian umum sampai saat ini, bahkan dalam administrasi pemerintah telah dikenal dengan nama ‘Enrekang’ versi Bugis. Dengan kondisi geografisnya yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung, wajar jika Enrekang disebut sebagai daerah pegunungan. Dari luas wilayah sekitar 1.786,01 km2 gunung dan bukit mencapai 85 persen.
Sebanyak 17 bupati memimpin Enrekan mulai dari Andi Babba Manggopo pada periode 1960-1963 hingga H Muslimin Bando dan Asman yang lantik 18 Oktober 2018. Keduanya dipilih secara lansung oleh rakyat dengan perolehan suara 67,15 persen atau 77.586 suara mengalahkan kotak kosong. Dari 17 bupati yang memimpin Enrekang, H Muslimin Bando dan H Latinro La Tunrung dua periode.Pelantikan Bupati Enrekang pertama dilaksanakan pada 19 Februari 1960 sekaligus dasar pembentukan Kabupaten Enrekang. Bentuk Enrekang berubah beberapa kali sebelum terbentuk menjadi kabupaten.
Mulai dari nama Malepong Bulan sekitar abad XIV, yang terdiri dari tujuh kawasan yang lebih dikenal dengan ‘Pitu Massenrempu’ masing-masing Endekan, Kassa, Batu Lappa, Duri, Maiwa, Letta dan Baringin. Sekitar abad ke XVI, kerajaan tersebut, berubah menjadi Lima Massenrempulu yakni, Endekan, Duri, Maiwa, Kassa dan kerajaan Batu Lappa dimasukan ke Sawitto.
Sehingga kerajaan-kerajaan yang ada di dalamnya terpecah menjadi federasi Duri,Tallu Batu Papan, Endekan (Enrekang),Maiwa,Alla,Buntu Batu dan Malua. Sejarah yang tak dapat dilupakan bahwa dalam perjuangan atau pembentukan kewadanaan Enrekang (5 Swapraja) menjadi Daerah Swantara Tingkat II Enrekang atau Kabupaten Enrekang. (her/C)

