HARGA tempe dan tahu mulai naik. Ini disebabkan, harga bahan baku pembuatan tempe dan tahu yakni kedelai impor harganya juga melambung tinggi.
Seorang pengrajin tempe tahu di Kota Makassar bernama Harun, mengeluhkan naiknya harga keledai dipasaran. Ia menyebut akibat naiknya harga kedelai menyebabkan produksi tahu di tempatnya menurun.
“Iya ini harga kedelai naik sekali. Masalah produksinya itu sedikit berkurang, walaupun tidak signifikan tergantung langganannya. Ada langganan yang mau kasih naik harganya, ada yang tidak. Jadi kalau mereka tidak ingin harganya naik, kami tidak bisa layani,” ungkapnya.
Harun mengatakan kedelai yang ia gunakan dalam menproduksi tahu yakni kedelai impor.
Sehingga, Harun mengaku harus menaikkan harga hasil produksi tahunya menjadi Rp44 ribu dimana sebelumnya hanya Rp42 ribu per cetaknya.
Dirinya menjelaskan, sebelumnya dalam sehari mampu menggunakan sebanyak 500 kg kedelai untuk diproduksi namun sekarang turun menjadi 400 kg saja.
Sehingga, Harun berharap harga kedelai impor dapat stabil kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. “Paling tidak harga (kedelai) sekitar 10 ribuan, sekarang kan harganya Rp11.500. Naiknya cepat sekali dan kita setengah mati dan memutar otak agar jalan dan tetap produksi. Kasian juga langganan kalau naik harganya,”pungkasnya.
Sementara itu, sebelumnya Menteri Perdagangan RI, Muhammad Luthfi mengungkapkan saat ini harga kedelai impor naik dari 12 dollar per gatang menjadi 18 dollar per gatang.
Lutfi menyebut penyebab naiknya kedelai impor disebebkan oleh beberapa faktor yakni pengaruh cuaca seperti el nina yang terjadi di Argentina dan Amerika Selatan sehingga menyebabkan suplay menjadi terbatas.
Selain itu, tingginya permintaan dari China juga menjadi penyebab naiknya harga kedelai impor.
“Kedua adalah restrukturisasi daripada peternakan binatang di China yang ada mendapatkan 5 miliar jumlah babi baru disana, yang dulunya makan tidak diatur sekarang makan kedelai, jadi demand (pemintaan) nya sangat tinggi menyebabkan harga sangat tinggi,” jelasnya.
Sehingga, Lufthie mengatakan hal tersebutlah yang menyebabkan harga kedelai di Indonesia juga naik.
Lutfhi mengaku pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menangani kenaikan harga tersebut serta pada pekan depan akan mengeluarkan kebijakan.
“Kita akan putuskan pada kesempatan pertama pada minggu depan, saya akan mengumumkan kebijakan,” tutupnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo, kemarin, mengatakan dari pemantauan di lapangan disinyalir ada pihak yang tidak bertanggung jawab memainkan harga kedelai, dimana kenaikan harga kedelai tidak signifikan dari Rp13.300 kemudian naik Rp13.330.
“Harga kedelai tidak kelihatan signifikan naiknya, hanya Rp30,- naiknya. Naik dua sampai tiga hari lalu. Kami harap pedagang tempe-tahu apapun yang berbahan dasar kedelai kalau mendapatkan harga kedelai lebih dari HET tolong dilaporkan,” tegas Ashari Fakhsirie Radjamilo. (jun)
