MAROS, BKM — Hujan yang mengguyur Kabupaten Maros sejak dua hari terakhir, membuat arus Sungai Tompobulu menjadi deras. Arus sungai yang sangat deras tersebut mengakibatkan jembatan Dusun Damma yang menjadi penghubung dua desa rusak parah.
Camat Tompobulu, Yusriadi Arief yang ditemui, Rabu (23/2), mengatakan, jembatan penghubung dua desa terjadi=pada Minggu malam (20/2) sekitar pukul 22.00 Wita.
”Hujan terjadi cukup deras dan intens mengakibatkan debit air sungai meluap dan merusak jembatan penghubung ini,” ujarnya.
Dikatakan, jembatan yang rusak diterjang air sungai tersebut merupakan penghubung dua desa, yakni Desa Bonto Manai dan Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu.
Disebutkan, keberadaan jembatan gantung tersebut sangat vital dan membantu warga sekitar. Pasalnya, jembatan itu biasa digunakan warga sehari-hari. Khususnya anak sekolah.
”Jembatan ini merupakan akses warga desa untuk beraktivitas sehari-hari. Utamanya anak-anak sekolah. Banyak warga Desa Bonto Manai yang sekolah di Desa Bonto Manurung,” ujarnya.
Yusriadi mengakui, masih ada akses lain yang menjadi penghubung dua desa tersebut. Hanya saja warga desa harus memutar dengan jarak tempuh cukup jauh. ”Jalan alternatifnya ada. Hanya saja harus memutar dan jaraknya cukup jauh. Jadi memang jembatan ini cukup vital,” tambahnya.
Dikatakan, jembatan rusak ini akan segera diusulkan kepada pihak Pemda Maros agar segera mendapatkan perbaikan. ”Mungkin dalam waktu dekat, tidak bisa kita lakukan perbaikan. Sementara dahulu jembatan ini dibangun dengan menggunakan dana desa pada tahun 2017. Mungkin nanti kita akan usulkan ke pemerintah daerah, agar memungkinkan mendapatkan sumber pembiayaan lain untuk perbaikan jembatan ini,” ujarnya.
Selain jembatan, ratusan hektare sawah warga pun turut berdampak akibat arus sungai yang sangat deras. ”Di sepanjang bantaran sungai ini ada lahan persawahan milik warga yang juga turut terendam air sungai,” tutupnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, mencatat kejadian bencana yang diakibatkan dari cuaca ekstrem dalam dua hari ini. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD, terdapat delapan kecamatan yang terendam banjir.
Kepala BPBD Maros, Muhammad Fadly, mengatakan, banjir terjadi setelah Maros dilanda hujan selama dua hari terakhir. Delapan kecamatan yang terdampak banjir ini merupakan daerah yang memang kerap terjadi banjir jika terjadi cuaca ekstrem seperti saat ini.
Delapan kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Turikale, Lau, Bontoa, Maros Baru, Marusu, Moncongloe, Simbang, dan Bantimurung. ”Delapan kecamatan ini memang sering dilanda banjir. Apalagi dengan intensitas hujan seperti ini. Pun dalam satu kecamatan tersebut biasanya tidak terendam secara keseluruhan. Seperti Kecamatan Lau, itu yang terendam hanya Kelurahan Mattiro Deceng.
Selain itu, ketinggian air berbeda-beda. Ada yang selutut hingga seukuran pinggang orang dewasa. Ada yang selutut, ada yang sudah sampai satu meter. ”Hingga saat ini belum ada warga yang dievakuasi. Karena kondisi masih terbilang aman,” kata Fadly. (ari/b)
