MAROS, BKM — Harga minyak goreng di beberapa pasar di Kabupaten Maros, ternyata masih di atas harga yang ditetapkan pemerintah pusat. Tak hanya itu, kini minyak goreng sudah sulit ditemukan atau langka, baik di pasar tradisional maupun retail modern.
Salah seorang warga Maros, Khadijah, mengatakan, saat ini harga minyak di Pasar Tramo Maros mencapai Rp21 ribu per liter. ”Kemarin di retail modern sempat dapat harga Rp14 ribu per liter. Kalau di pasar ini sampai Rp20 ribu per liter,” ujarnya.
Ia pun menyebutkan, seiring naiknya harga, minyak goreng pun kini sulit untuk didapatkan. ”Di retail modern itu sudah jarang sekali ada saya dapat. Kalau mereka restok ya harus antri lama. Sementara di pasar, juga sudah mulai jarang yang jual. Kalau ada yang jual harganya pasti mahal,” tuturnya.
Ia pun berharap pemerintah dapat segera mengatasi permasalahan ini. Apalagi, minyak ini merupakan salah satu bahan pokok yang sangat penting. ”Minyak ini salah satu yang harus ada di dapur. Kalau harganya naik terus bahkan susah didapat sekarang, kita kan juga kesulitan. Saya harap pemerintah bisa segera mengatasi ini,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, Towadeng, mengatakan, pemerintah pusat telah berkali-kali mengeluarkan subsidi khusus untuk minyak goreng. Hanya saja, kebijakan tersebut belum membuahkan hasil.
”Pertama kebijakan subsidi, 100 juta liter. Namun itu belum efektif. Kemudian yang kedua subsidi ditambah menjadi 200 juta dengan mengurangi pasokan ekspor ke luar negeri, bagi eksportir sebesar 20 persen untuk pasokan di dalam negeri. Saat ini pun belum membuahkan hasil,” tuturnya.
Ia pun mengaku kesulitan untuk mengatasi kelangkaan ini karena tak mendapatkan kepastian mengenai jatah minyak di Kabupaten Maros. ”Kebijakan terkait minyak goreng ini berbeda dengan bahan pokok lainnya. Misalnya pupuk. Kalau pupuk, kita sudah tau kuota untuk Kabupaten Maros sekian. Jadi kita bisa mengontrol. Sementara minyak goreng, kita tidak diberikan wewenang maupun kepastian mengenai jatah minyak kita,” ujarnya.
Tak sampai di situ, pihaknya pun mengaku tidak mendapatkan informasi lokasi distributor-distributor minyak. ”Sehingga kami tidak bisa memastikan langkah atau kebijakan apa yang kita ambil untuk strategi untuk distribusi maupun controlling harga di Maros,’ akunya.
Apalagi, kata dia, beberapa waktu lalu, pihak distributor sempat menarik stok lama dengan dalih pedagang akan diberikan minyak dengan harga baru. Namun, hingga hari ini, pedagang masih belum menerima stok minyak harga baru sehingga menimbulkan kelangkaan di pasaran. (ari/c)

