MAKASSAR, BKM–Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr Ajiep Padindang menjadi inisiator dialog kritis buku digital anatomi sang kursi bersama Ikatan Asosiasi Penerbit Indonesia (IKAPI).
Dialog Kritis Atas Buku Digital “Anatomi Sang Kursi” yang merupakan karya Moch Hasymi Ibrahim, di Cafe Red Corner, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Sabtu (26/2).
Dialog yang difasilitasi senator atau anggota DPD RI Ajiep Padindang bersama para penulis dan budayawan Sulsel.
Ketua IKAPI Sulsel Goenawan Monoharto menjelaskan bahwa IKAPI kini berusia 15 tahun dengan anggota 35 penerbit.
“Anggota IKAPI sebelumnya hanya berkisar belasan penerbit. Nanti dua atau tiga tahun sejak pandemi Covid-19, jumlah anggota meningkat,” terang Goenawan.
Goenawan mengatakan, mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi di era digital yang sangat mempengaruhi perkembangan penerbitan maupun perbukuan khususnya di daerah Sulsel. Maka sangat dibutuhkan kebersamaan dan dukungan sesama pengusaha penerbitan, terutama anggota IKAPI, dalam mempertahankan kegairahan penerbitan buku agar tetap eksis, produktif, kreatif, dan inovatif di dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Saya tekankan bahwa IKAPI merupakan penyedia jasa penerbit buku bukan penerbit. Semoga Penerbit di Sulsel lebih maju,” jelasnya.
Ajiep Padindang menilai Moch Hasymi Ibrahim melalui karyanya mampu menulis dan menarasikan keadaan negara maupun sosial politik di era 1992. “Dan pada tahun ini baru terwujud dari tahun 1993 sampai 1997. Saya memprakarsai kegiatan ini, karena sekarang banyak yang mampu menulis tapi bukan penulis. Akhirnya, kualitas karyanya masih perlu diperdebatkan,” tegas Ajiep.
Mantan Ketua Komisi A DPRD Provinsi Sulsel ini menyatakan sentralisasi zaman sekarang jauh lebih kejam ketimbang masa orde baru.”Bayangkan saja sebuah undang-undang dilahirkan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa hari saja sudah terbentuk,” katanya.
Moch Hasymi Ibrahim pun mengapresiasi perhatian besar dari Ajiep terhadap karyanya yang pernah dan sekarang dia kerjakan.
“Saya tidak pernah bayangkan. Motivasi utama karya ini sebenarnya cuma sekadar dokumenasi. Harapannya, pikiran-pikiran bahwa masih adakah relevansinya dengan kondisi kekinian kita,” paparnya.
Tanpa sadar, sambung Hasymi, isu politik yang berkembang di era tahun 1990an muncullah tema tunggal, yakni melawan hegemoni kekuasaan.
“Ketika berbicara politik, maka sejauh ini kita harus berpikrah di Jakarta. Bahkan, Kita baru merasa tokoh kalau berkiprah di Jakarta. Kiblat kultural kita adalah Jakarta karena memang format politiknya seperti itu,” jelasnya. (rif)

