MAKASSAR, BKM — Kebijakan pemerintah untuk menaikkan lagi harga bahan bakar gas jenis elpiji berdampak pada harga di tingkat distributor dan pengecer. Bahkan untuk gas elpiji 12 kilogram harganya kini berada di kisaran Rp195.000.
Harga elpiji non subsidi telah dua kali mengalami kenaikan dalam rentang waktu yang berdekatan. Yang semula Rp11.500/kg, naik pada Desember 2021 menjadi Rp13.500/kg. Terbaru, pada 27 Februari 2022 naik lagi menjadi Rp15.550/kg.
Di Kota Makassar, distributor gas elpiji non subsidi telah menaikkan harga untuk ukuran 5,5 kg dan 12 kg. Hal itu mengacu pada surat edaran pemerintah tertanggal 28 Februari 2022. Kenaikannya sebesar Rp15.000. Kondisi ini berpengaruh pada menurunnya jumlah pembeli.
Bakri, salah seorang agen elpiji di Kompleks Perumahan Mangga 3 Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar mengaku mendapat keluhan dari konsumen terkait kenaikan harga tersebut. ”Kenaikannya cukup tinggi, sehingga banyak dikeluhkan. Utamanya dari para pedagang,” ungkap Bakri.
Berdasarkan surat edaran untuk wilayah Sulawesi Selatan, gas elpiji ukuran 12 kg dijual dengan harga Rp189.000. Naik sebesar Rp14.000, dari sebelumnya seharga Rp175.000. Sementara untuk ukuran bright gas ukuran 5,5 kg, naik Rp11.000 dari harga Rp85.000 menjadi Rp91.000. Namun di tingkat pengecer, ditemui harga gas elpiji ukuran 12 kg yang mencapai Rp195.000. Sebelumnya Rp180.000.
“Dulu itu gas 5,5 kg harganya Rp85.000. Kemudian 12 kilo Rp175.000. Dari Desember 2021 sampai akhir Februari, sudah dua kali kenaikan harga gas,” imbuh Bakri.
Informasi yang beredar di kalangan agen dan distributor elpigi, kenaikan harga yang terjadi dipicu oleh konflik negara Rusia dan Ukraina.
“Informasi yang kita dapatkan, langkah pemerintah menaikkan harga gas ini dipengaruhi adanya konflik antara Rusia dan Ukraina, sehingga berimbas melambung tingginya harga gas dunia,” terang Bakri.
Endang, salah seorang konsumen gas elpiji merasa keberatan dengan kenaikan harga yang cukup tinggi saat ini. Ia berharap adanya perhatian dan kepedulian dari pemerintah terhadap dampak yang dirasakan oleh masyarakat.
”Berat sekali sekarang. Harga-harga naik. Sekarang elpiji. Semoga pemerintah tidak menaikkan harga gas subsidi yang ukuran 3 kg,” imbuhnya.
Wakil rakyat di DPRD Kota Makassar menyebut, kenaikan harga elpiji non subsidi yang dilakukan saat ini akan berdampak pada terjadinya kelangkaan elpiji subsidi ukuran 3 kg. Sebab mereka yang tidak mampu menjangkau elpiji non subsidi, akan beralih ke gas bersubsidi. Hal tersebut akan menambah sengsara rakyat kecil, karena akan mengerek kenaikan harga kebutuhan lainnya.
Anggota DPRD Makassar Aziz Namu, mengatakan hal yang wajar ketika warga memprotes kenaikan gas elpiji 12 kilo. Sebab jika harganya naik, maka sebagian warga akan beralih ke gas subsidi. Begitu pun dengan para pengusaha rumah makan.
“Di masa seperti ini, mulai harga minyak goreng yang naik dan langka. Disusul lagi harga gas elpiji yang naik. Tentu akan berdampak pada kebutuhan rumah tangga. Karena gas dan minyak menjadi kebutuhan masyarakat. Sehingga wajar jika masyarakat was-was kalau kebutuhan naik lagi di tengah ekonomi kita yang buruk akibat pandemi,” terang Aziz Namu, Selasa (1/3).
Legislator Fraksi PPP Makassar ini mendorong perlunya pemerintah mengendalikan harga gas bersubsidi sesuai harga awal. “Bukan hanya ibu rumah tangga yang dibikin susah karena kenaikan harga. Karena ini juga akan berakibat terhadap semua sektor. Kebutuhan yang banyak, ditambah kenaikan bahan pokok dan gas elpiji, maka semakin proteslah seluruh warga. Sementara kondisi ekonomi warga sedang terpuruk sejak pandemi,” jelasnya.
Hal senada dikatakan anggota DPRD Makassar Andi Astiah. Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan dampak kenaikan gas elpiji di tengah warga yang berusaha bangkit dari pandemi dan hilangnya mata pencaarian.
“Kasihan warga kalau harga-harga naik. Tolonglah dipikirkan, karena kenaikan ini akan berimbas ke semuanya. Pemerintah harus punya solusinya. Ini harga-harga tidak turun. Tidak ada perbaikan kondisi ekonomi warga. Malah semuanya serba naik,” cetusnya. (rul-ita)
