Site icon Berita Kota Makassar

Keberhasilan Bukan karena Sekolahnya, Tapi dari Diri Sendiri

KEBERHASILAN terkadang dilihat dari tempat seseorang dan di mana ia bersekolah. Bila tempatnya menimba ilmu terkenal, bisa dipastikan akan berhasil di kemudian hari. Namun, Muh Ashar mampu menepis hal itu.

SEJATINYA, Ashar –begitu ia akrab disapa– adalah jebolan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Siapa sangka jika kemudian ia lebih banyak bergelut di dunia otomotif hingga akhirnya membuka lembaga training yang diberi nama Sinergi Selaras Academy.
Menjadi tamu dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Ashar berkisa tentang perjalanan kariernya. Mulai dari menempuh pendidikan sampai beberapa kali resign dari tempat kerja.
”Orang tua saya bercita-cita ada anaknya kuliah di ITB. Kakak yang duluan ke sana. Tapi begitu kelas II SMA dia masuk kelas IPS. Jadi tidak mungkin masuk ITB,” ungkap Ashar.
Harapan selanjutnya adalah Ashar. Setamat dari SMP 6 Makassar. Ia disuruh berangkat ke Bandung. Di sana ia bersekolah di SMA 6. Sekolah ini tidak terlalu terkenal. Lulusannya pun tidak banyak yang lolos masuk ITB. ”Saya kemudian berpikir, bagaimana caranya bisa masuk ITB kalau begini. Padahal ayah saya sudah membawa saya ke depan ITB dan menunjukkan bahwa saya nantinya akan kuliah di situ,” terang Ashar lagi.
Di sinilah Ashar memahami bahwa tempat dan sekolah tidak menentukan. Yang terpenting adalah keinginan diri sendiri. Ia pun belajar keras agar bisa masuk ITB.

”Waktu itu ayah orang tua saya mengalami kesusahan. Jadi saya ke sekolah harus berjalan kaki meskipun jauh. Untuk ikut bimbingan belajar, pilih yang dekat kampus. Bimbelnya di masjid. Lembaga bimbelnya juga yang paling murah. Syaratnya harus hafal surah Al-Baqarah ayat 284-286. Setelah tes saya lolos,” ungkap Ashar.
Ia memulai kuliah di Jurusan Biologi FMIPA ITB tahun 1990 dan selesai 1995. Tak ingin hubungan dengan tanah kelahirannya hilang, Ashar lalu bergabung dengan Unit Kesenian Sulsel yang ada di kampus ITB. Kenangan terindah pun diukirnya. Ashar bisa sampai ke luar negeri, seperti Rumania dan Austria dalam rangka perlombaan yang melibatkan unit-unit kesenian yang ada di ITB. ”Saya pegang seruling,” ucapnya.
Berhasil menyelesaikan kuliah di ITB, Ashar kemudian bekerja. Namun tempat kerjanya tak sesuai dengan latar belakang pendidikannya di kampus. Ia bergabung dalam salah satu grup Astra Internasional, yaitu Toyota.
”Di sana (Astra Internasional) mereka tidak melihat background jurusan. Yang dicari bukan yang pintar, tapi lebih kepada leadership. Waktu tes, di depan tempat duduk saya ada peserta dari jurusan Teknik Kimia dengan IPK 3,5. Sementara IPK saya di bawah itu. Tapi setelah pengumuman saya yang diterima, dia tidak. Itu karena kita sudah terlatih di organisasi dan leadership di lapangan,” imbuhnya.
Di tahun 1996 Ashar diterima bekerja di Astra Internasional. Memegang area penjualan di wilayah Sumatra. Ketika itu semua area harus nomor satu. Sementara Sumatra berada di nomor tiga. Lalu dibuatlah proposal agar area Sumatra bisa juga menjadi nomor satu, dan akhirnya Ashar mampu mengantarkan arenya berada di puncak. ”Tahun 1997 untuk pertama kalinya penjualan di area Sumatra juara satu,” katanya.
Di tahun 1998 krisis moneter melanda negeri ini. Ashar kala itu hendak membeli sebuah rumah di kawasan Gading Serpong. Ia lalu melunasi pembayaran DP. Ketika hendak KPR, krimon datang. Ada tiga sektor yang terdampak cukup parah, yaitu konstruksi, otomotif, dan perbankan.
”KPR saya ditolak. Akhirnya dari Tangerang saya ngebut masuk Jakarta. Saya memutuskan untuk keluar dari tempat kerja,” ujarnya.
Keluar dari tempat kerja, Ashar mulai merintis usaha yang sesuai bidang keilmuannya di Bandung. Bersama beberapa rekannya dia membuka pertanian jamur, sayu-sayuran, dan pembibitan.
”Saya bagian pemasaran. Ada bagian riset. Ada administrasi. Waktu itu orang lain belum bisa dapat pasar ekspor, saya sudah bisa lakukan ke Singapura. Dapat buyer di sana. Masalah kemudian muncul, bagaimana caranya kirim barang ke sana. Uang pesangon saya pakai Rp20 jutaan. Setelah dikirim ternyata bermasalah dipackingnya. Tiga sampai empat kali kirim tetap bermasalah. Akhirnya setop, padahal permintaannya cukup besar,” tandasnya.

Ashar kembali melamar pekerjaan. Kali ini di sebuah perusahaan training asal Amerika. Ashar mengaku tidak pernah menyesal bergabung di tempat ini dengan posisi sales manajer. Gebrakan pun dilakukannya hingga menghasilkan pendapatan berlipat per tahun. Hal mendasar yang diperbaikinya adalah lingkungan tim penjualan, serta struktur organisasi perbaiki. Penjualan yang di awal hanya Rp1,2 miliar setahun, kemudian naik Rp2 miliar, hingga terakhir ketika ditinggalkan oleh Ashar sudah mencapai Rp14 miliar.

”Waktu itu saya kemudian berpikir, kalau teori saja, seolah-olah di awang-awang. Saya kemudian memilih untuk keluar. Kebetulan ada teman yang bekerja di Toyota Auto2000 untuk kawasan Bali dan Sumatra waktu itu. Kontribusi penjualan dia ke Toyota dia 45 persen. Besar sekali. Pegawainya 18.000. Saya kemudian diterima untuk posisi manajer nasional trainingnya,” jelasnya.
Lima tahun kemudian, Ashar bergabung ke Toyota. Karena ada seorang temannya yang diangkat sebagai Vice President Astra Motor. Ini berarti Ashar tercatat dua kali bergabung di tempat yang sama.
Tahun 2020 pandemi masuk Indonesia. Ashar pun resign dan membuat usaha sendiri. Hadirlah Sinergi Selaras Academy.
Lembaga ini membuat sistem dan konten untuk pembelajaran. Dari usahanya ini Ashar mampu meraup cuan yang tidak sedikit. Training yang dilaksanakannya mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. (*/rus)

Exit mobile version