DI MANA ada usaha di situ ada jalan. Walau belajarnya secara otodidak, tak menghalangi seseorang untuk meraih prestasi. Hal itu dibuktikan Mahdalia Makkulau.
MENGENAL dunia fashion sejak kecil. Ketika itu masih duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar (SD). Mahdalia sudah mengenal ‘alat tempur’ jahit menjahit. Hingga akhirnya pada tahun 2014 merambah kancah nasional pada event Indonesia Fashion Week. Tak terkecuali ambil bagian dalam berbagai ajang fashion hingga saat ini.
Ya, Mahdalia merupakan seorang legend fashion designer asal Sulawesi Selatan. Di tahun 2014 juga ia dikukuhkan menjadi desainer nasional. Ketika itu ada 30 orang yang mengikuti pengukuhan tersebut. Salah satunya adalah Ivan Gunawan.
”Waktu itu dari Sulsel ada dua orang, saya dan satu lagi namanya Nasar. Ivan Gunawan juga dikukuhkan bersamaan dengan saya,” ungkap Mahdalia yang menjadi tamu siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Mahdalia menegaskan bahwa seorang desainer itu otomatis penjahit. Namun, penjahit belum tentu desainer. Alasannya, karena penjahit itu pada umumnya mencontek apa yang diberikan. Sementara kalau desainer harus selalu mencipta, membuat dan update desain fashion yang baru.
”Saya pribadi malu disebut seorang desainer kalau tidak update desain baru. Khususnya tentang apa lagi yang baru dan tren. Desainer sejati harus seperti itu,” terangnya.
Dijelaskan pula bahwa seorang desainer seperti dirinya harus tahu semua hal, termasuk yang kecil-kecil. Misalnya jarum atau benang. Sebab dua benda yang sangat erat kaitannya dengan menjahit ini bermacam-macam jenisnya.
Menurutnya, desainer harus paham betul tentang bahan. Punya waktu yang super untuk menjelajah toko.
”Tahun 2000-an saya setiap hari berkunjung ke sentral (Makassar Mall sekarang). Jatahnya dua jam di sana. Untuk tahu nama kainnya, karena banyak sekali jenisnya. Kalau tidak seperti itu, tidak bisa buat baju yang tepat,” jelas Mahdalia lagi.
Ditanya tentang dari mana belajar tentang desain fashion, Mahdalia menyebut secara otodidak alias belajar sendiri. Cara yang dilakukannya ketika itu, setiap bulan dirinya selalu berbur majalah model. Selanjutnya desain tentang fashion dikliping, seperti busana muslim, etnik, serta kebaya. ”Sampai sekarang klipin saya hampir 20 ribu model,” ucapnya.
Bagaimana Mahdalia melihat dunia fashion saat ini, khususnya yang melibatkan anak-anak? Menurutnya, orang tua sangat berperan di sini. Bila anaknya masih berusia di bawah 10 tahun, hendaknya berhati-hati dalam pemilihan bahan, dan terutama warna.
Jika mengikuti karakter anak-anaknya, biasanya warna soft yang dikenakan. Pilihan bahannya juga yang lembut, tipis dan ringan. Jangan yang membuat mereka kurang nyaman memakainya.
Sebagai seorang desainer, Mahdalia kerap diundang menjadi juri di berbagai event. Ia tak memungkiri jika dirinya pernah dikomplain dari orang tua peserta. Hal itu disebabkan karena mereka tak terima anaknya tidak meraih juara, sementara dalam penilaiannya sang anak tampil bagus.
”Orang tuanya bilang, anak saya jalannya bagus di atas catwalk dan alasan lainnya. Saya sampaikan bahwa kami ada tiga orang juri. Kalau keseluruhan jalannya oke, sementara bajunya tidak pantas dan tidak sesuai karakter anak. Agak gelap kulitnya tapi pakai warna ngejreng. Setelah dijelaskan, akhirnya mereka paham,” ungkap Mahdalia.
Ia menegaskan bahwa menjadi seorang model tidak hanya dilihat jalannya di catwalk. Tapi juga baju dan make up. Anak-anak yang polos jangan dipaksa untuk menjadi dewasa. Di sinilah peran orang tua diperlukan.
Disinggung tentang tren fashion di tahun 2022, Mahdalia mengatakan masih sama dengan tahun 2021. Ia mengakui bahwa sekarang ini banyak desainer muda yang kreatif. Busana yang merekakeluarkan sudah mengacu pada yang tren sudah ada. Mahdalia dan para desainer itu bergabung dalam asosiasi Indonesia Fashion Chumber. Di sini ada masternya. Mereka meramu desain yang akan keluar. (*/rus)
