MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyerahkan tanah dan air, sesuai permintaan Presiden RI, Joko Widodo, Senin (14/3). Tanah yang dibawa Andi Sudirman itu berasal dari kampung alamannya di Bangkalae, Kabupaten Bone. Sedangkan air dari sumur Masjid Katangka, Gowa.
Hal tersebut diikuti oleh seluruh Gubernur se-Indonesia. Tanah yang sudah diserahkan Andi Sudirman, disatukan ke dalam Kendi Nusantara, bersama Tanah dari gubernur lainnya.
“Iya, tanah dan air yang dibawa oleh pak gubernur (Andi Sudirman) digabungkan di Kalimantan Timur,” kata Kepala Diskominfo Sulsel, Amson Padolo.
Seperti diketahui, jika gubernur se-Indonesia diwajibkan membawa tanah 2 kilogram dan air satu liter dari wilayahnya masing-masing ke IKN.
Amson Padolo menjelaskan Bangkalae itu merupakan tempat dipersatukannya tiga tanah yang secara adat didatangkan dari tiga kerajaan besar di Sulsel, yakni Kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa.
“ketiga tanah ini dipadukan berubah menjadi warna kemerah-merahan dalam bahasa Bugis disebut Tanah Bangkalae,” ungkapnya.
Sementara itu, Masjid Katangka merupakan masjid tertua di Sulsel. Dibangun pada tahun 1603 lalu. Juga salah satu masjid tertua di Indonesia.
“Jadi ini semua ada filosofinya, digabung air dan tanah dari 33 gubernur dalam Kendi Nusantara di IKN,” tutupnya.
Sehari sebelumnya, gubernur Sulsel juga ikut berkemah bersama presiden di lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, di Kalimantan Timur, sejak Minggu (13/3).
Sebelumnya, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, HM Syafranuddin mengatakan, saat berkumpul semua gubernur diminta membawa satu liter air dan dua kilogram tanah dari provinsi masing-masing. Air dan tanah nantinya akan dimasukan ke dalam kendi bernama Kendi Nusantara yang terbuat dari tembaga. Khusus Kaltim, air dan tanah akan diambil dari lokasi dua kesultanan yakni Kesultanan Kutai di Lama Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Paser.
“Kebetulan wilayah IKN Nusantara ini kan sebagian wilayah Kesultanan Kutai dan Kesultanan Paser. Jadi itu simbol mewakili kesultanan yang ada di Kalimantan Timur,” terang HM Syafranuddin di akun sosmednya.
Saat datang ke lokasi perkemahan, seluruh gubernur juga diminta mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. (jun)
