MAKALE, BKM — Ahli Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian ESDM melakukan ekspose hasil penelitian potensi bencana longsor di Gunung Sangbua Lembang Kaduaja, Gandangbatu Sillanan, di ruang rapat Wabup, Sabtu (12/3) lalu.
Wabup Tana Toraja, Zadrak Tombeq berjanji sesegera mungkin menindaklanjuti rekomendasi tim ahli tersebut. Pemkab akan cepat menindak lanjuti rekomendasi tim Ahli Kementerian ESDM, sebab keselamatan dan kenyamanan masyarakat diatas segalanya.
Kepala Sub Koordinator Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Bagian Barat Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sumaryono menjelaskan penelitian dilakukan Kamis (10/3) lalu. Hasilnya kedua titik longsor di Kaduaja dan Rano merupkan imbas dari kontur tanah yang labil.
Menurut Sumaryono, potensi bencana longsor di Gunung Sangbua Lembang Kaduaja, dan Rano Tengah adalah pergeseran tanah sistemnya berbeda. Tidak ada keterkaitan keduanya, sehingga yang terancam di wilayah Sangbua 7 rumah. Tiga diantaranya sudah pindah, dan empat terancam.
Sementara 600 warga yang mengungsi dihimbau kembali ke rumah, namun tetap waspada jika retakan pada bagian atas semakin meluas atau bertambah.
Meski demikian Pemda Tana Toraja hendaknya terus menghimbau masyarakat tidak mengalihfungsikan hutan, melainkan perbanyak menanam pohon di sekitar lokasi rawan longsor dengan tanaman yang kuat menahan longsor.
Pasalnya, alih fungsi hutan berkaitan dengan keberadaan air ke depan. Kemudian potensi lahan bencananya semakin meningkat.
”Ke depan perlu revisi tata ruang di Tana Toraja, sebab disekitar daerah longsor Rano dan Kaduaja sudah banyak yang berubah pola penggunaan lahannya,” jelasnya.
Sumaryono tak menampik jika Gunung Sangbua memang terdapat patahan yang bisa memicu gempa bumi. Demikian pula longsor susulan rawan kembali terjadi jika intensitas curah hujan tinggi, dan khusus di Rano Tengah potensi longsor lebih rawan. (gus/C)

