Site icon Berita Kota Makassar

Pemanfaatan Teknologi Belajar Jarak Jauh, Kami yang Terdepan

PANDEMI covid-19 mengharuskan berbagai kalangan untuk melek teknologi. Belajar jarak jauh di dunia pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital menjadi hal yang tak bisa dinafikan. Siapa sangka, jauh sebelum dampak wabah virus corona ini muncul, Universitas Terbuka (UT) telah melakukan inovasi itu. Bahkan kini jauh lebih maju lagi.

UNIVESITAS Terbuka yang biasa disingkat UT merupakan perguruan tinggi negeri ke-45 di Indonesia. Didirikan pada tahun 1984 dan berpusat di Jakarta. Mahasiswanya tidak hanya tersebar di seluruh Indonesia, tapi juga pada 50 negara lainnya di dunia.
UT memiliki Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di seluruh Indonesia. Pada setiap provinsi terdapat kantor dan kampus. Salah satunya yang ada di Makassar. Saat ini UPBJJ UT Makassar dipimpin Hasanuddin selaku direktur.
Menjadi narasumber pada siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota, Selasa (22/3), Hasanuddin menjelaskan tentang lembaga yang dipimpinnya saat ini. Kata dia, mahasiswa UT berbeda dengan mahasiswa pada umumnya.
”Namanya saja terbuka, tentu berbeda dengan universitas lain yang konvensional. Perkuliahnnya juga berbeda dengan pembelajaran jarak jauh. Terbuka artinya terbuka kepada siapa saja. Warga negara Indonesia yang memiliki ijazah SMA bisa mendaftar menjadi mahasiswa di UT. Itu dari sisi orangnya. Terbuka dari sisi tempat, UT terbuka kepada siapa saja. Mau bermukim di perkotaan, perdesaan, kepulauan dan pegununan, di mana saja. Karena distem pendidikan yang terbuka dan jarak jauh, UT memiliki mahasiswa tidak hanya di Indonesia, tapi juga pada 50 negara,” terang Hasanuddin.
Sejak awal berdirinya hingga saat ini, UT telah memanfaatkan teknologi sesuai perkembangannya. Menurut Hasanuddin, UT sesungguhnya terdepan dalam penggunaan teknologi komunikasi untuk pembelajaran. Urusan yang terkait administrasi dan akademik bisa diselesaikan di tangan dengan menggunakan gawai.
”Baru-baru ini kita meluncurkan sebuah program baru. Kita menyebutnya ujian online proktorik. Mahasiswa bisa melaksanakan ujian di rumah dan sistemlah yang mengawasi ujian. Kalau misalnya ada mahasiswa yang melakukan kecurangan, seperti menyontek dan sebagainya, maka sistem mulai error. Jadi kalau berbicara tentang pengembangan dan pemanfaatan teknologi di UT, kami yang terdepan,” tandas Hasanuddin.
Dengan konsep yang diterapkan selama ini, mahasiswa UT juga tidak perlu membawa buku. Karena belajar jarak jauh bisa dilaksanakan kapan dan di mana saja. Mahasiswa bisa belajar dengan mengunduh (download) bahan ajar melalui gawai atau laptonya.
Walau begitu, Hasanuddin mengakui bahwa selama ini banyak yang tidak mengetahui tentang UT. Imej yang ada menyebut bahwa UT merupakan kampus bagi para guru.
”Memang, mahasiswa kami dulunya didominasi oleh para guru yang mengambil program SPG, D2, dan D3. Tapi dalam dua atau tiga tahun terakhir, mahasiswa UT sudah berubah. Bahkan untuk di Makassar, mahasiwwa kami 60 atau 70 persen adalah milenial. Ini sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Karena kami menerapkan konsep belajar jarak jauh yang sebenarnya sesuai gaya milenial,” jelas Hasanuddin lagi.
Program lain yang ditawarkan untuk menarik minat kuliah di UT, pihak manajemen memberikan secara cuma-cuma alias gratis microsoft office 365 setiap ada mahasiswa yang mendaftar. Jika dibeli di pasaran harganya Rp1 jutaan.
Hasanuddin juga mengungkap sebuah pameo bahwa mahasiswa kalau tidak kampusnya berarti tidak kuliah. Menyikapi hal itu, UT Makassar saat ini gencar mengembangkan sentra layanan. Sebagai sebuah cyber university, UT memiliki konsep berbeda dengan universitas lain sehingga membuka Salut (Sentra Layanan UT).
”Di sentra layanan ini mahasiswa bisa datang berdiskusi. Beda konsepnya dengan kuliah tatap muka, duduk manis di depan kelas. Perbedaan lainnya, kalau kampus biasa mahasiswa yang datang ke kampus, maka untuk UT kampuslah yang datang ke mahasiswa,” terangnya.
Diakui Hasanuddin, pengenalan UT bagi masyarakat di Sulawesi Selatan menjadi tantangan saat ini. Untuk itu pihaknya terus melakukan inovasi. Keunggulan yang dimiliki terus disampaikan ke masyarakat. Karenanya, Salut diharapkan menjadi ujung tombak di daerah. Mereka yang butuh informasi tentang UT tak perlu ragu untuk datang bertanya.
Sebagai bagian dari upaya pengembangan, pada 1 April mendatang UT Makassar kembali akan menghadirkan Salut di enam kabupaten. Masing-masing di Bone, Wajo, Jeneponto, Gowa, Maros, dan Pangkep. Rektor UT Prof Ojat Darojat dijadwalkan hadir untuk meresmikannya.

Dengan kehadiran Salut ini, kegiatan kemahasiswan UT juga bisa diketahui. Sebab menurut Hasanuddin, selama ini yang dipahai masyarakat bahwa di UT mahasiswa belajar terus. Pada ada program kemahasiswaan. Namun berbeda dengan lain.
”Karena kami nasional, kegiatan yang terkait kemahasiswaan dilaksanakan di Jakarta, atau ditempatkan di daerah tertentu. Di ajang itu mahasiswa saling berkompetisi dengan berbagai macam kegiatan,” terangnya.

Saat ini juga UT tengah membangun sebuah kampus baru yang cukup megah. Gedung berlantai tujuh itu berdiri tak jauh dari simpang lima dekat bandara. Hasanuddin menyebut ini akan menjadi ikon baru, karena menggunakan konsep bangunan model passapu yang berasal dari Makassar dan kerap digunakan Sultan Hasanuddin di bagian kepalanya.
Guna semakin memperkenalkan keunggulan dan programnya ke masyarakat, UT terus menjalani kerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya dengan media cetak Harian Berita Kota Makassar. Penandatangan kerja sama dilaksanakan di ruang rapat Kampus UT Jalan Monginsidi, Makassar, Selasa (22/3).
”Kerja sama dengan media kami lakukan, karena akan butuh waktu yang sangat panjang agar segala keunggulan yang dimiliki UT diketahui masyarakat. Dengan media, UT di Makassar akan lebih cepat dikenal,” kuncinya. (*/rus)

Exit mobile version