INDUSTRI peternakan terus berkembang. Jika dilakukan dengan pengelolaan yang baik akan mendatangkan hasil maksimal. Seperti yang diterapkan Direktur PT Bintang Sejahtera Bersama Dr Syahrir Akil.
SEBUAH kandang berukuran cukup besar berlokasi di kampus Universitas Hasanuddin. Kandang yang menggunakan pola modern close house ini merupakan hibah dari sebuah perusahaan pakan terbesar untuk Fakultas Peternakan Unhas.
”Hibah kandang sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap kampus dan mahasiswa yang ada di Indonesia. Termasuk di Makassar,” ujar Syahrir Akil ketika BKM berkunjung ke kandang ayam yang dikelolanya, Rabu (23/3).
Pria yang beralamat di Kompleks Anging Mamiri Residence, Jalan Hertasning Baru, Makassar ini menjelaskan apa saja yang ada di kandang. Dimulai dari awal memasuki yang harus melewati proses desinfeksi berupa penyemprotan ke orang yang berkunjung. Ia harus dinyatakan steril sebelum masuk jauh lebih dalam lagi ke kandang. Prinsip bio security benar-benar ditegakkan di tempat ini.
”Begitu kita masuk, pintu kandang harus tertutup. Tidak bolah ada burung atau tikus yang masuk,” ujar Syahrir memberi penegasan.
Ia kemudian memperlihatkan space area. Tempat ini untuk menyimpan pakan. Ada pula alat kontrol aktivitas kelistrikan dalam kandang. Terpasang panel ATS yang berguna untuk mengubah fungsi kelistrikan dari PLN ke genset dan sebaliknya. Hal itu biasa dilakukan jika listrik PLN padam.
Di dalamnya dilengkapi dengan saklar, pengatur suhu dalam kandang, hingga setting jam. Termasuk pengatur pakan.
Di bagian lain, dipasang tandon air untuk kebutuhan vaksin dan obat. Ada pula motor yang dilengkapi otomatis, filter, meteran air, serta pencampur obat sevara otomatis. ”Intinya dalam beternak ayam seperti ini, ketersediaan airnya harus terpenuhi,” kata Syahrir.
Masuk lebih dalam lagi, di bagian kanan dan kiri terdapat tirai warna hitam. Ada pula bantalan yang berfungsi untuk menurunkan suhu dalam kandang. Bila suhu tinggi akan digunakan. Dalam kandang kebutuhan suhunya 32 derajat. Jika ternyata yang terbaca 35 derajat, berarti over. Saat itulah bantalan difungsikan. ”Sama dengan fungsi AC di rumah. Suhunya sisetting sesuai kebutuhan ayam,” tambah Dr Syahrir.
Selanjutnya ia memperlihatkan tempat penampungan pakan sementara. Dari lokasi ini secara otomatis akan didistribusikan pakan dari belakang yang memiliki sensor. Sehingga tidak perlu lagi capek-capek memikul pakan ketika hendak diberikan ke ayam. Disiapkan pula sekam untuk dijadikan kasur bagi ayam. Ketebalannya antara 2-3 inci.
Syahrir menyebut, kandang yang dikelolanya ini memiliki panjang 120 meter dan lebar 12 meter. Bila ayam ukuran 2 kg bisa menampung 20.000 ekor. Sementara untuk ukuran 1 kg bisa mencapai 40.000 ekor. Ayam yang dihasilkan dari kandang ini biasanya dipasarkan di Sulsel. Termasuk Makassar.
”Untuk sekali panen nilainya bisa mencapai Rp800 juta. Dengan modal Rp2,75 miliar sampai Rp3 miliar, tiga tahun modal yang diinvestasikan akan kembali,” ungkap Syahrir.
Ia juga merinci untuk ukuran kandang 1 meter persegi bisa memelihara ayam 55-60 ekor. Bila sudah dewasa 30 ekor persegi.
Syahrir menyebut, bisnis di industri perunggasan bisa juga menggunakan kandang dengan ukuran 4×48 meter. Ada 6.000 ekor bisa dipelihara. Sekali siklus bisa mendapatkan cuan Rp300 juta. Sementara dalam setahun ada tujuh siklus. (*/rus)
