Site icon Berita Kota Makassar

Ibarat Kanker, TPA Tamangapa Sudah Stadium Empat

MAKASSAR, BKM — Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Manggala semakin kritis. Kondisi lahan kian terbatas. Sementara volume sampah yang setiap hari dibuang berkisar 900 hingga 1.000 ton. Sampah-sampah tersebut diangkut oleh 500 truk yang dioperasikan Pemkot Makassar.
Sampah yang ada di kawasan TPA tersebut sudah menggunung hingga bermeter-meter tingginya. Luas lahan yang hanya seluas 23,3 hektare itu tidak lagi mampu menampung sampah warga Makassar dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aryati Puspa Sari Abadi menerangkan, ibarat sebuah penyakit, kondisi TPA Tamangapa seperti orang yang mengidap kanker stadium empat. Sejumlah langkah harus dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang ada di TPA.
Salah satunya, kata Aryati, wali kota Makassar menginstruksikan agar memassifkan kembali kerja-kerja Bank Sampah. “Karena kalau bank sampah dimassifkan, akan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Sampahyang masuk ke TPA itu tinggal residu. Karena sampah yang masih punya nilai ekonomis, yang masih bisa diolah dan dijual itu ditampung oleh bank sampah. Jadi tidak terlempar ke TPA,” ungkap Aryati saat ditemui, Kamis (24/3).

Menurutnya, berdasarkan Rencana Strategi Daerah (Renstrada) Makassar, tahun ini ditargetkan sampah yang masuk ke TPA Tamangapa berkurang 30 persen. Jadi, jika setiap hari sekitar 1.000 ton yang masuk, diupayakan ke depan sisa 700 ton saja. Selebihnya, 300 ton diintervensi apakah dengan dikelola bank sampah atau lainnya.
Cara lain menangani sampah di Makassar adalah menjadikannya bahan bakar untuk Pengelolaan Sampah Energi Listrik (PSEL). Jika proyek ini jalan, maka sampah yang menggunung di TPA Tamangapa akan digunakan sebagai sumber bahan bakarnya. Tapi itu untuk perencanaan yang cukup lama. Karena dokumen untuk lelangnya masih sementara dipersiapkan. “Jika itu sudah jalan, dalam jangka waktu belasan tahun TPA akan kosong,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Persampahan dan Limbah B3N, Kahfiani mengemukakan pihaknya sudah menargetkan penambahan bank sampah. Minimal lima bank sampah setiap kecamatan. Artinya, dalam tahun ini akan ada penambahan 70 bank sampah.
Dihubungi terpisah, Direktur Yayasan Peduli Negeri (YPN) Saharuddin Ridwan yang selama ini dikenal aktif dalam bank sampah di Kota Makassar, mengatakan pengelolaan bank sampah tidak bisa maksimal dilakukan jika terkendala anggaran. Dia menyebut, sebelum covid-19, alokasi anggaran yang diberikan kepada bank sampah pusat yang dikelola UPTD untuk membeli sampah masyarakat mencapai Rp1 miliar. Namun sejak tahun lalu dan tahun ini, anggarannya dikurangi sisa Rp350 juta.

“Pemkot Makassar kan punya bank sampah pusat. Melalui APBD, disiapkan anggaran APBD untuk membeli sampah masyarakat. Tahun sebelumnya anggaran Rp1 miliar, pembelian sampah ke masyarakat melalui UPTD bank sampah ternyata tahun lalu dan tahun ini hanya Rp350 juta,” ungkapnya, kemarin.
Alasan pengurangan anggaran tersebut salah satunya karena adanya refocusing. Selama ini, lanjut Sahar, kontribusi bank sampah untuk mengurangi sampah masuk ke TPA Tamangapa masih sangat kecil. Hanya berkisar 590 ton atau sekitar 0,16 persen per tahun. Itu terjadi karena banyaknya persoalan yang dihadapi. Selain anggaran sangat terbatas untuk membeli sampah warga, bank sampah yang aktif juga semakin berkurang.
“Untuk saat ini, jumlah 700-an lebih bank sampah yang ada berkurang. Kita punya data ada 635 RW. Tapi yang jalan hanya 200-300 bank sampah aja yang melakukan penimbangan,” tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto menjelaskan, jika proyek PSEL sudah berjalan, sampah yang ada di TPA saat ini akan dijadikan bahan pembangkit listrik. Danny memprediksi sampah yang ada di TPA Antang bisa digunakan sebagai pembangkit listrik selama 12 tahun.
“Jadi belum ada di Indonesia seperti itu. TPA kita bakal kosong maksimal 12 tahun. Syukur-syukur kalau bisa 10 tahun,” ungkap Danny.
Selanjutnya, lahan TPA yang sudah kosong akan disulap menjadi ruang terbuka hijau (RTH). “Kita akan dapat taman dengan kawasan komersil di situ lumayan dengan luas 23,3 hektare. Jadi PSEL ini menguntungkan bagi kita,” katanya. (rhm)

Exit mobile version