MAKASSAR, BKM — Tahun ini, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Makassar diberi tugas menghadirkan 500 lorong wisata.
Untuk merealisasikannya, DKP sudah melakukan melakukan survei ke seluruh wilayah Makassar, dimana saja lokasi yang memenuhi kriteria untuk dijadikan lorong wisata.
Kepala DKP Makassar, Muhammad Rheza, menerangkan, untuk program lorong wisata binaan DKP, disasar wilayah-wilayah yang dengan prasyarat teknis, misalnya punya ruang yang cukup untuk bercocok tanam, akses untuk mendapat sinar matahari yang memadai, memiliki sumber air yang cukup.
Selain itu, bagi warga yang ingin lokasinya menjadi lorong wisata, harus mengajukan proposal atas nama kelompok atau lembaga.
Sejauh ini, kata Rheza, sudah lebih 500 proposal masuk. Namun setelah melewati proses survey dan verifikasi, baru 485 yang dinilai memenuhi kriteria mengikuti program lorong wisata ini.
“Tahun ini kita targetkan bisa tercipta 500 lorong wisata binaan DKP. Sudah banyak proposal pengajuan yang masuk. Lebih 500. Namun yang fiks dan memenuhi kriteria baru 485. Itu sudah siap dikerja tahun ini,” ungkap Rheza saat ditemui BKM, Minggu (27/3).
Lebih jauh dikemukakan, saat ini, pihaknya juga sudah sementara menyusun dokumen pemberkasan untuk persiapan tender.
Setelah semua dokumen siap, selanjutnya akan diajukan ke LPSE untuk ikut proses lelang.
Sambil menyusun dokumen tender, tambahnya, DKP juga sudah mulai menyusun rencana untuk lorong wisata tahun 2023 mendatang.
Bagi kelompok-kelompok masyarakat yang ingin terlibat dalam kegiatan lorong wisata ini diminta untuk mengajukan proposal. Yang memenuhi syarat selanjutnya akan dilibatkan dalam program ini.
“Untuk sementara sambil tunggu jalan proses tender lorong wisata tahun 2023, kami minta kelurahan masukkan memang pengajuan untuk lorong wisata tahun 2023. Karena ini sudah mau diverifkasi memang. Agar tahun depan langsung jalan. Tidak perlu lagi menunggu pengajuan proposal dan verifikasi,” tambahnya.
DKP tahun ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp17 miliar untuk menghadirkan 500 lorong wisata di Makassar.
Anggaran tersebut untuk membiayai sejumlah kegiatan yang akan dilakukan. Mulai dari belanja jasa tenaga ahli, desain lorong, tim yang bekerja, hingga ke tanaman yang dibudidayakan dan beberapa item kegiatan lainnya. (rhm)
