MAKASSAR, BKM– Keinginan Pemerintah Kota Makassar bersama tim dari European Investmen Bank dan Giz Germany menjajaki pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) dengan konsep ramah lingkungan di Makassar, mendapat tanggapan serius dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Makassar.
Menurut anggota Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Makassar, Mesakh Raymond Rantepadang, rencana pemerintah melakukan kerjasama pengoperasian BRT dengan bahan bakar listrik perlu mendapatkan apresiasi. Meski begitu tetap harus ditinjau ulang.
“Kalau memang ada yang mau kerjasama kenapa tidak, kami mengapreasiasi langkah pemerintah ini sebagai fase awal dari pengurangan polusi dan mengurangi kemacetan. Tapi apakah sudah ada peninjauan dengan melihat kondisi BRT kita selama ini nasibnya bagaimana,” ungkapnya saat dikonfirmasi, kemarin.
Lanjut legislator Fraksi PDIP Makassar ini bahwa, inovasi yang digagas pemerintah memang menarik dan mengurangi polusi di Makassar. Hanya saja perlu dipertimbangkan biaya pemeliharaan bisa jadi sangat mahal jika BRT menggunakan tenaga listrik.
“Tentu ini semua harus dipertimbangkan matang juga, karena kondisi masyarakat kita juga dalam menggunakan transportasi umum saja masih kurang. Tentu nanti ada biaya pemiliharannya juga, kita khawatir akan sama dengan sebelumnya,” tuturnya.
Begitupun yang dikatakan anggota DPRD Makassar, Abdul Wahid. Ia menegaskan, kerjasama untuk membuat BRT bertenaga listrik perlu diapresiasi. Hanya saja kebutuhan untuk transportasi tersebut juga harus dibarengi dengan minat warga kota Makassar.
“Jangan sampai ini justru akan sama dengan BRT sebelumnya. Karena kurang sekali warga kita ini mau pakai BRT, dikasih gratis saja masih kurang apalagi beginian, biasanya awal-awalnya saja,” tuturnya.
Sekadar diketahui, kalau rencana tersebut dibicarakan saat Giz Germany dan European Investmen Bank melakukan audiens dengan Wali Kota Makassar, Rabu (18/5) di Jalan Amirullah, Makassar.
Danny menjelaskan pihaknya yang menggagas sebuah program terkait transportasi massal yang rendah karbon sehingga tidak menimbulkan banyak polusi.
“Kita akan mengkaji sebuah program BRT mirip teman bus. Bedanya dia pakai mobil listrik atau mobil lain yang low carbon. Teman bus ini inisiasi dari pusat. Maka kita anggap BRT ini inisiasi kota karena melayani Kota Makassar dulu dan Mamminasata nantinya,” ucapnya.
Danny pun segera membentuk tim untuk merealisasikan program tersebut. Tim kerja yang terdiri dari Kepala Dinas Perhubungan, Staf Ahli , Kabag Kerjasama, Kepala Dinas Tata Ruang.
Untuk tahap awal unitnya sendiri belum diketahui karena ada beberapa tahapan yang akan dilalui dan dipersiapkan sematang mungkin.
“Kalau Makassar kita sudah setuju dan siap tapi kalau mencakup wilayah mamminasata harus ada ijin dari provinsi dan pusat. Tapi saya akan bertemu dengan pak Gubernur Sulsel untuk membicarakan konsep ini secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Dalam waktu dekat, akan dibuat MoU sebagai tanda bahwa Kota Makassar sangat mendukung dan siap menjalankan transportasi massal dengan konsep mobil listrik.
“Kalau secara tekhnik kita MoU kami setuju sekali tapi ini kan kerjasama dari luar anggarannya juga pasti masuk ke pusat jadi kita juga harus menunggu persetujuan pusat. Jadi kita menunggu juga,” tandasnya. (ita)