Site icon Berita Kota Makassar

Siapkan 1.000 Pacarita Lorong Kejar Akreditasi Nasional

MAKASSAR, BKM — Harian Berita Kota Makassar (BKM) memasuki usia 25 tahun pada 28 Juni 2022. Seperti pasangan suami istri, usia tersebut merupakan tahun perak yang patut dimaknai lebih mendalam. Beberapa pihak, termasuk Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Tenri A Palallo tahu persis perjalanan koran metro pertama di Kota Makassar ini.
Menurut Tenri –sapaan akrab Tenri A Palallo– bila berbicara tentang kota, ia ingat betul inovasi yang diciptakan koran ini. Seperti saat Ilham Arief Sirajuddin memimpin kota Makassar selama 10 tahun, banyak inovasi yang dihasilkan oleh BKM. Di antaranya Mabasa (Makassar Bebas Sampah), Mabello (Makassar Bersihkan Lorong), Makassar Bebas Banjir (Mabaji), dan beberapa inovasi lainnya.
Termasuk, lanjut Tenri, di periode pertama dan kedua kepemimpinan Moh Ramdhan Pomanto sebagai wali kota Makassar, BKM terus menghadirkan inovasinya. Seperti Jaksa Samboritta, dan kini Pakintaki dan Salamaki.
“Sejak saya masih menjabat kabag humas, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak hingga kadis Perpustakaan, telah banyak inovasi yang dikerjasamakan BKM dengan Pemerintah Kota Makassar. BKM sebagai media penggerak dan mencerdaskan, Saya berharap BKM terus maju dan hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Makassar. Apalagi BKM punya tagline yang langsung menyentuh masyarakat,” ujar Tenri di ruang kerjanya, Selasa (24/5), pada wawacara untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar dalam rangka HUT BKM ke-25.
Di bagian lain penjelasannya, Tenti kemudian menyinggung tentang konsep metaverse yang diimplementasikan Dinas Perpustakaan. Kata dia, usai Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus), Dinas Perpustaakaan memiliki tiga apilikasi. Salah satunya yang terpenting adalah aplikasi Maccinong. Aplikasi ini dibuat untuk mengetahui peta perupustakaan di Kota Makassar, khususnya perpustakaan yang dimiliki sekolah SD dan SMP negeri dan swasta.
“Kalau aplikasi Maccinong kita sebar akan banyak perpustaakan ingin dimasukkan dan masyarakat bisa mengetahui, seperti perpustakaan milik komunitas, perkantoran negeri dan swasta. Kita harap perpustakaan tersebut mampu memperbaiki minat baca masyarakat,” ujarnya.
Mantan Kabag Humas Pemkot Makassar inipun mengakui, peningkatan kegemaran membaca saat ini masih di angka 45,38 persen, literasi 63,7 persen. Ini sangat tinggi dibandingkan daerah lain.

“Pak Wali belum puas dengan capaian itu. Beliau berharap terus ditingkatkan. Karena itu, OPD seperti Dinas Perpustakaan harus mengambil peran. Salah satunya dapat mendukung program 5.000 lorong wisata,” jelasnya.
Tenri juga menegaskan, instansi yang dipimpinnya juga akan menyiapkan 1.000 pacarita lorong, mendongeng yakni tau riolo. Hal ini bertujuan bagaimana memberi kekuatan di rakyat lorong dan ada potensi yang dimiliki warga. Seperti dari 100 rumah, harus ada anak SD dan guru bisa mendongeng.
“Program ini harus terus berjalan meski kepemimpinan berganti di Kota Makassar. Sebelumnya, kita akan melakukan workshop mengetahui lebih detil program tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Bunda Literasi Makassar Indira Yusuf Ismail. Beliau berharap anak Makassar tetap mencintai buku, karena dengan membaca buku banyak proses yang didapat anak-anak. Mulai dari otak bergerak, mendengar dan membaca,” terangnya.

Apalagi, lanjutnya, literasi di Makassar masih level dua, yakni baca dan menulis. Diharapkan masuk tahap lima, menjadi jadi produsen, bukan lagi konsumen yakni membuat dan menciptakan. Seperti bagaimana mencari 1.000 pacarita lorong.
Ditanya soal program perpustakaan lorong, Tenri menyebut sudah ada 40 perpustakaan di Kota Makassar yang telah dibantu oleh provinsi. “Kami akan kembangkan dan melihat mana yang bagus dan didukung. Apalagi, sudah ada Ibu Relawan Baca yang setiap saat turun ke lorong-lorong di kecamatan untuk melihat langsung perpustakaan lorong. Termasuk Sentuh Pustaka yang menyasar perpesutakaan yang mau dibina. Jangan hanya tempat barang bukti buku, tapi bagaimana menata buku,” jelasnya.
Terkait dengan pengunjung, mantan wartawati ini menjelaskan, pada pandemi lalu, tingkat kunjungan hingga 180 ribu. Bahkan pernah mencapai satu juta lebih. Saat ini ada 550 perpustakaan yang dibina. Sebanyak 19 perpustakaan yang berakreditasi nasional.
“Kita akan terus mengejar akreditasi perpustakaan di SD dan SMP negeri untuk mendapatkan akreditasi nasional. Untuk SD dan SMP swasta tidak apa-apa juga ikut. Ada tagline kita, Bacaki, Lihatki, Dengarki, Kerjaki. Perpustaakaan Lebih Dekat dan Bersahabat,” tutup Tenri. (war)

Exit mobile version