MAKASSAR, BKM — Mantan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS) akhirnya kembali bergabung dengan partai lamanya, yakni Golkar. Pria yang pernah tercatat sebagai ketua DPD I Golkar Sulsel ini mengenakan jaket partai berlambang pohon beringin rindang, disaksikan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar HAM Nurdin Halid (NH) di Four Point By Sheraton Hotel Makassar, Minggu (29/5).
Lantas bagaimana aturan Golkar yang tidak membolehkan saudara atau keluarga dekat (serumah) masih di partai lain, seperti Aliyah Mustika yang masih tercatat sebagai Anggota Fraksi Demokrat DPR RI? Politisi Partai Demokrat Sulsel Sugianto Pattanagara berharap agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat dapat mengevaluasi Aliyah Mustika Ilham sebagai pengurus maupun kader.
“Saya kira perlu dievaluasi. Satu kotakji ini. Jadi tentu Ibu Aliyah bisa saja dievaluasi di Partai Demokrat,” ujar Sugianto Pattanagara, kemarin.
Menurut Sugianto, Demokrat sangat kehilangan power dan basis dengan keluarnya IAS. “Kami di DPD akan berusaha melakukan kerja-kerja kolektif dan lebih keras lagi untuk memenangkan Partai Demokrat di Sulsel,” ujar Sugianto, yang pada pileg 2019 lalu juga tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Sulsel I.
Sugianto menyebut bawah kepindahan IAS ke Golkar dapat merugikan Partai Demokrat. “IAS idealnya memberikan ucapan selamat kepada Ni’matullah sebagai ketua DPD Partai Demokrat Sulsel definitif 2022-2027, bukan pindah partai,” jelasnya.
Kata Sugianto, musda Partai Demokrat Sulsel telah final dan sudah ada keputusan mengikat sesuai aturan AD/ART partai. Menurutnya, seluruh tahapan musda sudah dijalankan sesuai mekanisme konstitusi secara terbuka. Mulai dari musda di Makassar yang merekomendasikan dua nama calon ketua memenuhi syarat minimal dukungan DPC, yakni 20 persen. Masing-masing IAS 16 suara dan Ni’matullah Erbe sembilan suara. Selanjutnya mereka berdua sepakat dengan mekanisme tersebut untuk ditindaklanjuti di tim tiga DPP. DPP lalu menetapkan Ulla –panggilan akrab Ni’matullah Erbe– sebagai ketua dan telah dilantik, Sabtu (28/5).
“Sekali lagi saya berharap beliau (IAS) kembali berkolaborasi bersama Pak Ulla sebagai ketua DPD Demokrat Sulsel untuk memenangkan partai dan memenangkan AHY di pilpres,” harapnya.
NH Sindir Kepengurusan TP
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar HAM Nurdin Halid (NH) menyebut jika para kader yang hadir di kegiatan halal bihalal Partai Golkar, di Hotel Four Points Makassar, merupakan kader sejati.
“Kader yang hadir hari ini merupakan loyalis sejati Airlangga, dan Pak Ketua sudah berpesan untuk mendata para kader yang hadir hari ini,” ujar NH saat memberikan sambutan, Minggu (29/5).
Pernyataan NH ini seolah menyinggung ketidakhadiran Ketua Golkar Sulsel Taufan Pawe (TP).
Apalagi NH menilai, saat ini struktur kepengurusan Partai Golkar di Sulsel masih dipertanyakan, karena masih bermasalah di Mahkamah Partai (MH).
“Kenapa saya tidak menggunakan struktur partai? Karena struktur di Sulsel masih bermasalah secara hukum,” sindir NH.
Lanjutnya, untuk kader Golkar yang tidak mendapat undangan, NH menyebut jika hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. Lantaran hanya persoalan teknis saja
“Untuk kader Golkar yang tidak mendapat undangan, mohon maaf. Itu hanya hal teknis. Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Bahkan saya juga tidak dapat undangan, tapi tetap hadir,” terangnya.
“Untuk seluruh anggota fraksi jangan ragu untuk berjuang, karena tidak ada yang akan terjadi tanpa izin Pak Airlangga, dan di belakang Airlangga ada orang bernama Nurdin Halid. Begitupun dengan para relawan yang ada,” jelasnya.
Kegiatan halal bihalal bersama IAS dihadiri Ketua DPD II Golkar Soppeng Andi Kaswadi Razak serta Ketua DPRD Sulsel Andi Ina Kartika.
Sebelumnya, Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Taufan Pawe mengaku tak akan mengahadiri halal bihalal Partai Golkar di Hotel Four Points Makassar. Padahal, TP menyempatkan hadir pada pelantikan pengurus Partai Demokrat Sulsel, Sabtu (28/5).
“Saya tidak diundang, tidak dilibatkan, Insyaallah tidak hadir. Bukan DPD I (Golkar) penyelenggara,” ujar Wali Kota Parepare itu.
Ia pun meminta agar ketidakhadirannya pada halal bihalal tersebut tidak ditanggapi berlebihan.
Apalagi, halal bihalal dirangkaikan dengan pelantikan IAS sebagai kader Partai Golkar. “Harus dipahami begini, tolong situasi kondisi dan keadaan ini jangan ada yang memanfaatkan seolah saya tidak terima IAS,” jelasnya.
”Kalau dilihat rekam jejak digital yang paling pertama menemui IAS siapa? Sebelum ada keputusan DPP Demokrat, saya sudah silaturahmi dengan beliau. Apa makna silaturahmi itu,” lanjutnya.
Katanya, ia telah memperkirakan, jika IAS akan hengkang dari Demokrat Sulsel jika tak terpilih sebagai ketua. “Saya memang sudah membayangkan bahwa tidak mungkin menang dua-dua antara Ni’matullah dengan IAS. Kalau seumpamanya saya katakan itu waktu, Pak IAS jika seandainya saya tidak minta-minta anda kenyataannya tidak terpilih, saya mohon kembali ki kerumahta, rumah besar Golkar,” terangnya.
TP menirukan, saat itu IAS menanggapi jika Nasdem juga telah memberikan tawaran bergabung, jika ia tak berhasil memimpin Partai Demokrat Sulsel.
“Terus dia katakan, Pak Ketua, Pak Rusdi Masse juga ada di situ, duduk di sana. Dia ajak saya masuk Nasdem, dengan istilah ayo saya lebarkan karpet biru,” kata TP menirukan IAS.
TP menambahkan kalimat, terserah kita. “Jadi pada waktu itu saya berpendapat, saya selalu ingin tampil sebagai politikus santun. Saya bukan politikus yang suka gaduh, tidak mau saya. Kita ini orang berintelek dan beragama,” pungkasnya. (jun-rif)
