MAKASSAR, BKM — Penemuan korban Kapal Motor (KM) Ladang Pertiwi 02 yang tenggelam di selat Makassar, terus bertambah. Mereka dalam keadaan selamat.
Dari 49 korban, sudah 31 penumpang yang ditemukan selamat. Minggu (29/5) kembali ditemukan 14 penumpang kapal dalam keadaan selamat. Mereka ditemukan sekitar pukul 10.30 Wita, bertempat di Taka Pitu, sebelah utara perairan pulau Pammantauang, yang berjarak 50 mil dari Desa Pammas, Kecamatan Liukang Kalmas.
Para korban yang ditemukan dalam kondisi selamat sebanyak 10 orang yang terdiri dari penumpang, nakhoda dan ABK. Ke-10 orang ini diselamatkan kapal nelayan asal Pulau Jawa yang saat itu mencari ikan di perairan tersebut.
Selain ditemukan kapal nelayan asal Jawa sebanyak 10 orang, empat penumpang lainnya juga diselamatkan dua kapal dari KRI dan MV Real Orchìd.
Para korban tersebut bertahan untuk tetap mengapung dengan menggunakan potongan papan kayu kapal dan jeriken kosong sesaat setelah kejadian. Mereka sudah sudah dibawa ke rumahnya masing-masing yang berada di Pulau Pammantauang dan Pulau Saliriang.
Tambahan penumpang selamat ini dibenarkan Kapolsek Liukang Kalmas AKP Rusli.
“Jumlah korban tenggelamnya KM Ladang Pertiwi yang telah ditemukan dalam keadaan selamat berjumlah 31 orang dari total 49 orang, yang terdiri dari nakhoda, ABK dan penumpang,” kata Rusli, kemarin.
Sebelumnya, lanjut Rusli, ditemukan 17 penumpang selamat setelah dievakuasi pihak kapal pengangkut batubara. “Ada 10 penumpang selamat dievakuasi ke Banjarmasin dan tujuh lainnya berada di Takalar,” ujarnya.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangkep Muhammad Arsyad, mengatakan pihaknya menerima data ada 10 korban yang berhasil ditemukan pada Minggu sore (29/5). Para korban ditemukan mengapung oleh nelayan di perairan Pangkep.
“10 orang ditemukan oleh nelayan. Sekitar 10 mil dari pulau Pammantauang,” ujar Arsyad, Senin (30/5).
Menurut Arsyad, semua korban dalam kondisi sehat. Namun beberapa di antaranya mengalami hipotermia karena terombang-ambing di lautan.
Selain itu, ada empat korban lainnya yang ditemukan oleh KRI Hasanuddin. Satu di antaranya merupakan nakhoda kapal, Suparman.
Mereka dievakuasi ke pelabuhan Kotabaru di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kata Arsyad, pelabuhan ini yang paling dekat dari tempat ditemukannya korban.
Rencananya, para korban yang ada di Kalimantan Selatan dijemput langsung oleh Bupati Pangkep pada hari Senin (30/5).
“Total yang terkonfirmasi ditemukan hingga saat ini ada 31 orang. Masih ada sekitar 11 orang yang dalam pencarian,” tambahnya.
Arsyad menegaskan bahwa proses pencarian korban masih akan terus dilakukan. Pencarian diperluas dari lokasi kejadian, mengingat kondisi gelombang yang cukup tinggi.
“Pencarian diperluas, karena kita yakin korban terbawa ombak. Semoga mereka juga ditemukan dalam keadaan selamat, sama seperti korban lainnya,” ungkapnya.
Seperti diketahui, KM Ladang Pertiwi 02 tenggelam di selat Makassar pada Kamis, 26 Mei 2022. Kapal itu berlayar dari pelabuhan Paotere menuju pulau Kalmas di Kabupaten Pangkep.
Ada 49 orang yang jadi korban dari tenggelamnya kapal tersebut. Menurut para penumpang, kapal itu dihantam gelombang hingga tiga meter mengakibatkan mesin mati dan kapal tetiba terbalik.
Terombang Ambing di Laut
Irwan, salah satu korban tenggelamnya kapal tersebut. Ia terlihat sudah tegar. Namun, rasa trauma masih menyelimutinya ketika mengingat detik-detik kapal yang ditumpanginya tenggelam.
Dalam penuturannya, dia mengaku terombang-ambing puluhan jam di perairan sebelum akhirnya diselamatkan kapal yang lewat. Irwan lalu menuturkan detik-detik tenggelamnya kapal yang ditumpanginya pada Kamis (26/5) lalu.
Kapal berlayar dari pelabuhan Paotere menuju pulau Kalmas di Kabupaten Pangkep, sehari sebelumnya.
Menurutnya, saat berangkat di atas kapal memang tampak. Tak hanya penumpang, tapi ada juga barang bawaan lainnya.
Penumpang juga cukup ramai dari biasanya. Mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Dia tak yakin angka pastinya, tapi menurutnya ada sekitar 40 orang.
“Awalnya kapal masih tenang. Waktu sudah di tengah (lautan), ombak mulai tinggi dan angin kencang. Kapal miring,” ujarnya, Minggu (29/5) malam.
Suasana waktu itu, kata Irwan, sangat mencekam. Semua penumpang panik saat mesin kapal tetiba mati.
Ombak dengan ketinggian tiga meter kemudian menghantam badan kapal dan langsung terbalik.
Para penumpang berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Apalagi, ternyata tak ada alat keselamatan seperti pelampung.
“Semua tersapu ombak, kapal langsung terbalik,” terangnya.
Irwan kemudian berenang di tengah gelombang tinggi. Dirinya berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengapung. Ditemukanlah ada tripleks dan jeriken.
“Saya kemudian lihat triplek dan jeriken. Saya ikat di triplek itu jeriken untuk dipakai mengapung,” katanya dengan nada ketir.
Alat seadanya itu diserahkan ke ibu dan adiknya, yang juga penumpang kapal nahas. Mereka berusaha menyelamatkan diri bermodalkan jeriken dan papan triplek kecil tersebut.
“Kami ada puluhan jam di tengah laut. Dari jam 12 siang sampai jam 6 pagi keesokan harinya baru ada kapal yang lihat,” kata Irwan.
Ia mengaku tak tahu dengan nasib penumpang lainnya. Namun ada beberapa dari mereka yang menyelamatkan diri menggunakan gabus tempat ikan.
Saat pagi hari, ombak mulai surut. Namun ia sadar, jarak mereka dengan kapal yang tenggelam semakin jauh.
Hingga sekitar jam 08.00 Wita, ada kapal tujuan Morowali yang melintas. Mereka kemudian diselamatkan dan dievakuasi ke dermaga di Kabupaten Takalar.
“Nanti di Takalar baru kita tahu ada sekitar sembilan orang yang selamat. Sebelumnya ada juga penumpang lain yang lebih dulu didapat. Kalau penumpang lain kita tidak tahu nasibnya karena berpencar itu pas sudah dihantam ombak,” jelasnya. (udi-jun/c)
