MAKASSAR, BKM — Perdana Menteri Australia Anthony Albanese melakukan kunjungan kerja ke Kota Makassar, Selasa (7/6). Sehari sebelumnya, Senin (6/6), ia bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor.
Albanese beserta rombongan tiba di Kantor Gubernur Sulsel pada pukul 13.24 Wita, kemarin. Mereka disambut Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bersama jajaran Forkopimda. Selanjutnya menuju menuju ruang kerja gubernur dan menggelar pertemuan tertutup. Pertemuan tersebut hanya berlangsung sekitar 30 menit.
Kepada wartawan seusai pertemuan, Andi Sudirman menjelaskan bahwa kedua belah pihak membahas soal penguatan kerja sama yang telah terjalin sebelumnya. Di antaranya mengenai peternakan, pendidikan, hingga potensi energi seperti PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu).
“Ke depan kami juga harus memiliki kerja sama lebih kuat satu sama lain. Ini pertama kunjungannya (PM Australia). Kami berharap kunjungan ini sebagai tanda bahwa kita ini akan memperkuat kerja sama,” kata Andi Sudirman.
Kepada tamunya, Sudirman menjelaskan bahwa Sulsel memiliki potensi peternakan yang cukup untuk expertise. Dengan potensi itu, Sulsel bisa memberikan pelayanan. Termasuk lahan, seperti yang ada di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.
Pertemuan itupun diharapkan menjadi angin segar bagi perkembangan di Sulsel. Hal ini mengingat Sulsel menjadi daerah pertama yang dikunjungi Albanese usai pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo.
“Tentu ini menjadi tanda-tanda yang bagus, bahwa kita adalah yang pertama didatangi setelah presiden, provinsi pertama di Indonesia,” katanya.
Kunjungan pertama Albanese dan anggota kabinet seniornya ini menandakan kerja sama yang mendalam antara Indonesia Timur dengan Australia, sekaligus menunjukkan pentingnya hubungan bilateral bagi pemerintah Australia.
“Kedua negara kita memiliki sejarah panjang kerja sama dan persahabatan. Pemerintahan saya akan bekerja sama dengan Indonesia untuk memperdalam hal ini,” kata Perdana Menteri Albanese dalam keterangan tertulisnya.
Selama berada di Makassar, Albanese dan delegasi juga mengunjungi Eastern Pearl Flour Mill, pabrik terigu terbesar ke-empat di dunia. Eastern Pearl, seperti pabrik terigu lainnya di Indonesia, menggunakan gandum Australia berkualitas tinggi untuk menghasilkan tepung yang digunakan dalam produk seperti mie dan roti.
“Saya berharap dapat membangun hubungan kita lebih jauh, termasuk merevitalisasi hubungan perdagangan kita dan mempromosikan kerjasama di bidang iklim, infrastruktur dan energi,” katanya.
Momentum Bersejarah di Unhas
PM Anthony Albanese juga melakukan kunjungan ke Universitas Hasanuddin pada pukul 11.25 Wita.
Turut hadir dalam rombongan adalah Menteri Luar Negeri Australia Mrs Penny Hong, Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Don Farrel, Menteri Industri dan Ilmu Pengetahuan Australia Ed Husic, Federal Member of Solomon Luke Gosling, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams.
Kehadiran PM Albanese bersama rombongan disambut langsung oleh Rektor Unhas Prof Dr Jamaluddin Jompa beserta jajaran pimpinan Unhas. Albanese kemudian menyapa sivitas akademika Unhas dan para tamu undangan yang umumnya merupakan alumni Australia di Makassar.
Dalam kesempatan ramah tamah di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat, Rektor Unhas menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kehadiran Perdana Menteri Albanese beserta rombongan.
Prof JJ menegaskan bahwa hubungan Indonesia, khususnya Makassar, dan Australia memiliki sejarah panjang, yang dapat dilacak hingga lebih 200 tahun lalu.
“Dan hari ini, kita akan meneruskan dan merayakan ikatan pendidikan dan hubungan people to people antara Provinsi Sulawesi Selatan dan Australia,” kata Prof JJ.
Universitas Hasanuddin sendiri, kata Prof JJ, memiliki kedekatan khusus. Karena terdapat lebih 150 dosen dan staf Unhas yang merupakan alumni Australia. Unhas juga telah membangun kolaborasi penelitian dan kerja sama pendidikan yang dalam dengan berbagai universitas di Australia.
“Sebagai salah satu contoh, kolaborasi antara Unhas dan Griffith University dalam penelitian arkeologi telah menemukan lukisan dinding gua tertua di dunia, yang diyakini berasal dari masa 45.500 tahun,” kata Prof JJ.
Posisi Unhas yang berada di Kawasan Timur Indonesia mendorong perlunya memperkuat hubungan dengan negara-negara di Pasifik, khususnya Pasifik Selatan. “Kami percaya, tetangga adalah keluarga terdekat,” kata Prof JJ.
Sementara PM Anthony Albanese dalam sambutan balasannya, menyampaikan ungkapan rasa senang dan bahagia bisa berkunjung ke Makassar, termasuk ke Unhas. Kunjungannya ke kota ini merupakan hal yang tepat, mengingat adanya jejak sejarah perdagangan antara warga Makassar dengan penduduk asli Australia.
Lebih lanjut, Albanese menyebutkan Makassar memiliki masa depan yang cerah sejalan dengan perkembangan Indonesia yang menjadi satu dari lima ekonomi terbesar di dunia.
“Kunjungan saya ke Makassar merupakan penegasan bahwa pemerintah Australia sangat memahami betapa Indonesia adalah suatu wilayah yang sangat luas. Ini tentunya menjadi peluang besar untuk membangun kemitraan dalam berbagai bidang,” kata Albanese.
Pada kunjungan ini, Albanese dan rombongan juga berdialog dengan mahasiswa Unhas. Dalam suasana santai dan kasual, delegasi Australia memanfaatkan kehadiran di Unhas untuk berdiskusi dan beswafoto dengan para mahasiswa dan sivitas akademika Unhas.
Kunjungan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese ke Makassar merupakan momentum bersejarah, sebab inilah untuk pertama kalinya seorang kepala pemerintahan Australia mengunjungi kota ini. Bagi Universitas Hasanuddin, hal ini merupakan capaian tersendiri, sebab kampus terbesar di Indonesia Timur ini merupakan titik pertama yang dikunjungi oleh PM Albanese sesaat ia dan rombongan tiba di Makassar.
(jun)
