MAROS, BKM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Diparpora) menggelar pelatihan pengelolaan Desa Wisata bertempat di Hotel Grand Town, Kecamatan Mandai, Senin (13/6).
Kegiatan pelatihan pengelolaan desa wisata ini diikuti sekitar 40 orang peserta yang merupakan perwakilan dari kelompok desa wisata yang ada di Maros. Bupati Maros, Chaidir Syam bersama Kepala Dinas Pariwisata, Ferdiansyah, membuka secara resmi pelatihan pengelolaan desa wisata dihadapan seluruh peserta.
Dalam sambutannya, bupati Maros mengatakan, pelatihan pengelolaan desa wisata ini adalah salah satu kegiatan kementerian pariwisata yang dikelola Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga untuk penguatan pengelola desa wisata.
”Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan kegiatan pengelolaan desa wisata. Ini adalah salah satu kegiatan kementerian pariwisata yang dikelola dinas pariwisata untuk penguatan pengelola desa wisata kita,” jelasnya.
Sejauh ini, Kabupaten Maros sudah memiliki 53 desa wisata dan harus segera dilakukan penguatan pada pengelolaannya. Chaidir mengatakan, wisata yang baik bukan sekadar memiliki alam yang indah dan bisa dikunjungi. Tetapi bagaimana pengelolaan, serta masyarakatnya bisa ikut mendukung kegiatan tersebut.
”Di Maros kita sudah punya 53 desa wisata. Ini yang harus kita kuatkan. Jadi tadi disambutan saya bahwa desa wisata yang baik itu bukan sekadar mempunyai alam yang indah dan bisa dikunjungi. Tetapi bagaimna pengelolaanya, bagaimna pokdarwisnya, masyarakatnya juga bisa ikut mendukung kegiatan itu. Bbagaimna menjaga kebersihan dan keamanan ini semua yang harus diciptakan di desa wisata kita,” katanya.
Pada tahun lalu, Kabupaten Maros sudah memiliki desa wisata dan beberapa di antaranya sudah berkembang. Tetapi masih perlu dilakukan sinkronisasi ataupun kerja sama yang lainnya.
”Kemarin kita sudah punya desa wisata, terutama desa wisata yang sudah maju berkembang seperti Rammang-rammang, Labuaja, dan Dolli. Tetapi kita masih kurang disinkronisasi ataupun kerja sama yang lainnya bagaimna peningkatan UMKM di desa wisata belum muncul secara maksimal, kemudian bagaiamana administrasi pengelolaan di desa wisata itu. Administrasinya misalnya bagaimna menghitung PAD di desa wisata itu apakah yang masuk di PAD desa atau masuk di pokdarwis itu semua yang dilihat harus bagus bukan cuma sekedar menjadi tempat kunjungan wisata,” terangnya.
Diketahui, pelatihan pengelolaan desa wisata ini dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 13 sampai 15 Juni 2022, nantinya para pemateri akan memberikan 3 jenis penguatan kepada seluruh peserta. ”Hari ini penguatan pengelola, besok pelatihan pemandu budaya, kemudian tata kelola. Jadi ada 3 jenis penguatan yang diberikan kepada kelompok-kelompok pariwisata ini,” tutup bupati Maros. (ari/c)
