MOBIL Perpustakaan Keliling parkir di sebuah bengkel, sang pemilik tidak keberatan disediahkan kursi dan penganan ringan. “Gunakan saja bu, belum ada aktivitas,” katapemilik dengan ramah.
Tenri A. Palallo –Kadis Perpustakaan Makassar berterimakasih. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Tenri tidak berusaha
memperkenalkan diri sebagai Kepala Dinas.Ibu Relawan Baca (IBR) yang menemaninya sudah dipesan agar tidak menonjolkan diri
dengan rakyat. Hari ini urusannya adalah bagaimana menemukan bakat-bakat Paccarita Lorong.
Lurah Tamalanrea Jaya Ibrahim menunggu peserta satu persatu,
hingga pukul 09.00 kegiatan di mulai. Tenri melebur dengan anak, melalui salam tepuk. Anak-anak dan orangtua yang sibuk dengan handphone masing-masing diminta menanggalkannya.
“Hayo… berdiri dan kita betepuk tangan, singkirkan kursi-kursi, semua harus ikut, tua dan muda termasuk perwakilan dari Polsek dan Danramil,” kata Tenri tanpa mike.
Semua berdiri dan bertepuk tangan. Mobil Perpustakaan Keliling sudah terparkir dan anak-anak mengambil buku sesuai minatnya. Belum sempat membaca, Pendongeng Mulyani atau Kak Mul sudah berada dan membuka dengan keterampilan meniru suara.
Kak Mul membawakan materi tentang pencari ikan dengan Burung Bangau sebagai navigasinya. “Apakah pernah lihat Burung Bangau….” Tanya kak Mul. Audience dari berbagai kalangan, orangtua, remaja, dan anak-anak menjawab ‘’Biasa.”Seperti biasanya, Tenri yang duduk diantara anak-anak itu mencoba berdiri mencari Burung Bangau di Danau Unhas. Lokasi mendongeng di depan Danau Unhas dengan air mancurnya. “Ah… hanya ada air Mancur,” katanya.
Kak Mul tidak ngaruh, cerita dilanjutkan seorang pencari ikan bertemu lelaki berburu Burung Bangau. Ringkas cerita, pencari ikan dan pemburu terjadi adu mulut hingga keduanya harus melepaskan keahlian bertarung mereka. Pemburu menembak pencari ikan dan nelayan menjala pemburu Bangau. Endingnya pemberu dipancing telinganya
. Cerita ini berakhir, pencari ikan ini bahagia karena Bangau yang jadi navigator dalam mencari ikan terselamatkan. Itu artinya, mata pencaharian pencari ikan tidak terganggu.
Kak Mul dengan gaya khasnya, penguasaan panggung dan gerak tubuh membuat penonton tidak bergeming. Mereka menikmati hiburan pendidikan yang menyengkan. Usai kak Mul berdongeng, Tenri meminta anak-anak berdiri ke depan siapa berminat jadi Pendongeng atau Paccarita Lorong. Tiga anak laki dan dua anak perempuan yang dengan sukarela. Mereka memperlihatkan kemampuan dasarnya;
tidak malu-malu. Penajajakan bakat merupakan gerakan awal dalam menyediahkan 1.000 pendongeng di lorong wisata.(*)
