Site icon Berita Kota Makassar

Diduga Antraks, Dua Sapi Mati Mendadak

MAROS, BKM — Dua ekor sapi milik warga di Desa Marumpa, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros mendadak mati. Hewan ternak tersebut diduga terpapar antraks. Keduanya ditemukan mati hanya berselang satu pekan dengan kondisi yang sudah kaku.

Mendapatkan laporan itu, petugas dari Puskeswan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Maros, turun melakukan pemeriksaan. Mereka mengambil sejumlah sampel, seperti tanah dan potongan telinga dari bangkai sapi itu.

“Untuk sementara karena sapi yang kami dapati sudah lewat dua hari badannya sudah membengkak semua, jadi kita ambil sampel dulu berupa tanah dan potongan telinga yang kami curigai mengarah ke antraks. Karena daerah sini kan endemik antraks,” kata tim dokter Puskeswan Maros Nana Junita, Kamis (23/6).

Seluruh sampel yang diambil oleh petugas ini, nantinya akan dibawa ke laboratorium Balai Veteriner Maros untuk dilakukan pengujian guna memastikan penyebab dari kematian dua ekor sapi itu. Diperkirakan dalam tiga hari ke depan hasilnya akan keluar.

“Jadi kami ambil dulu sampelnya, karena ini kan sudah ditemukan mati dua hari lalu. Kita akan bawa ke laboratorium untuk diuji. Kita tunggu dua sampai tiga hari kedepan untuk hasil pengujian,” lanjutnya.

Sementara itu, pemilik sapi bernama Hanapiah mengaku, kedua sapinya itu dalam keadaan baik-baik saja sebelum ditemukan mati. Tak ada sama sekali tanda-tanda jika hewan ternaknya itu sakit. Namun, dua bulan sebelum kejadian, satu ekor sapinya memang pernah sakit dan tak bisa jalan.

“Sehat-sahat saja selama ini. Pernah memang sakit, tapi itu sudah lama sekali. Ada sekitar dua bulan lalu. Itu dia tidak bisa berdiri. Tapi habis itu sehat dan normal,” ujar Hanapiah.

Awalnya, Hanapiah curiga jika kedua ekor sapi miliknya itu sengaja diracuni oleh orang lain. Namun dari tanda-tandanya, sapi itu tidak mengeluarkan busa sama sekali ketika ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

“Tidak ada busa di mulutnya waktu mati. Kita curiga itu diracun atau kena PMK. Tapi mudah-mudahan bukanlah,” ujarnya.

Sejak dulu, sejumlah warga di wilayah itu memang banyak yang beternak sapi. Hanya saja, sapi-sapi mereka tidak dikandangkan dan hanya dilepas begitu saja. Petugas kesehatan hewan juga mengaku terkendala melakukan pemeriksaan rutin karena warga kurang memperhatikan kondisi ternak mereka.(ari/c)

Exit mobile version