KEMAJUAN teknologi digital saat ini mendorong banyak orang melakukan inovasi. Tak terkecuali oleh Komisaris Polisi (Kompol) Nur Ichsan, Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Satuan Brimob Polda Sulsel. Ia menghadirkan sebuah aplikasi alarm berbasis android. Tak jarang pula dirinya turun langsung membantu korban bencana karena panggilan jiwa.
NUR ICHSAN lahir di Bantul, Yogyakarta pada 25 November 1971. Dari pernikahannya dengan Siti Supriati, mereka dikaruniai dua buah hati, putra dan putri. Sejak tahun 1992 dirinya menjadi bagian dari Korps Brimob Polda Sulsel.
Menjabat sebagai Danyon C Satbrimob Polda Sulsel yang berkedudukan di Watampone, Kabupaten Bone pada 16 September 2018. Membawahi wilayah Bone, Sinjai, Bulukumba, Selayar, Soppeng, dan Wajo. Kerawanan di wilayah tersebut umumnya mencakup bencana alam dan konflik sosial.
Tidak mengherankan jika Kompol Nur Ichsan kerap ditemukan turun langsung ke lokasi bencana, seperti banjir, kebakaran, puting beliung, pencarian korban tenggelam serta peristiwa kemanusiaan lainnya. Tujuannya, pertama tentu memberikan semangat kepada personel yang ada di lapangan. Kedua, menjadi panggilan jiwanya.
”Jadi, kalau tidak ada tugas atau kegiatan lain, saya pasti turun langsung bersama anggota di lapangan. Saya tidak bisa bohongi kalau sudah menjadi panggilan jiwa,” tuturnya.
Memang, di awal menjadi bagian Satuan Brimob Polda Sulsel, Kompol Nur Ichsan bergabung dengan tim Search and Rescue (SAR). Yang dilakukannya bukan hanya pencarian terhadap korban, tapi juga membantu mengevakuasi barang milik warga yang terdampak bencana.
Dari berbagai kejadian yang dialaminya selama bergabung dengan Brimob dalam urusan kemanusiaan, sebuah peristiwa yang cukup menarik dan unik disampaikan Kompol Nur Ichsan. Ketika itu dilakukan pencarian korban tenggelam di Maros.
”Di situ ada seorang warga yang biasa menyelam mencari teripang. Untuk penyelamannya dibantu kompressor. Dia menawarkan untuk ikut melakukan pencarian. Karena mau sekali, dia dipersilakan ikut menyelam bergabung dengan teman-teman Brimob. Begitu menyelam dan berhasil menemukan korban dia langsung naik dan lari ketakutan,” jelas Kompol Nur Ichsan.
Kejadian ini, menurut Nur Ichsan, menjadi pembelajaran bahwa menyelam mencari korban tenggelam, tidak semudah yang dibayangkan. Yang dilakukan bukan penyelaman biasa. Bukan sekada jago menyelam, tapi juga ada hal-hal yang menjadi pertimbangan sekaligus keahlian tersendiri.
Untuk itu, Batalyon C Satbrimob Polda Sulsel intens melaksanakan pelatihan menyelam bagi personelnya. Seperti yang dilakukan baru-baru ini.
”Tujuan kita melakukan penyelaman adalah muara tugasnya SAR. Pencarian korban di dalam air. Dengan memiliki kemampuan menyelam, SAR bisa lebih bagus. Sehingga bila ada penugasan pencarian dan pertolongan dia air, bisa dilaksanakan dengan profesional,” tandas peraih tanda jasa Bintang Bhayangkara Nararya dan Ksatria Bhayangkara ini.
Dalam mengantisipasi potensi bencana, Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel menyiagakan 10 personel setiap hari dan melakukan patroli di wilayah rawan bencana. Sementara untuk mencegah konflik sosial dilaksanakan Patroli Kamandahan berkekuatan 18 personel di wilayah back up yang dlaksanakan 15 kali dalam sebulan.
Selain itu, juga digelar Patroli Kamtibmas dua kali sehari, siang dan malam. Tak lupa melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, serta organisasi kemasyarakatan.
Untuk pelaksanaan penugasan, Kompol Nur Ichsan punya pengalaman yang tak bisa dilupakannya. Ketika itu dirinya dipercaya menjadi Danyon Gas gabungan Brimob Polda Sulsel dan Brimob Polda Sulbar BKO Polda Metro Jaya. Ia berpartisipasi dalam pengamanan rekapitulasi penghitungan suara dan penetapan hasil Pilpres 2019 di bawah komando Operasi Mantap Brata 2019.
Di bawah kepemimpinannya, Nur Ichsan berusaha menghadirkan Brimob yang humanis di tengah masyarakat. Di antaranya dengan menjalin sinergitas TNI-Polri, dalam kegiatan olahraga, bakti sosial, serta aktivitas lainnya.
Ketika menjabat sebagai Danyon, Nur Ichsan menghidupkan kembali kelompok musik perkusi Tenri Betta yang sebelumnya sempat vakum. Kelompok musik ini semakin kreatif di awal pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Mereka membuat imbauan-imbauan melalui musik guna menghindari dan mengurangi penularan virus Covid-19. Hal itu kemudian mendapat atensi. Kelompok musik perkusi Tenri Betta mendapat penghargaan dari Kapolda Sulsel.
Selain itu, di masa pandemi Covid-19, Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel juga mendirikan dapur lapangan guna membantu masyarakat yang terdampak, seperti buruh dan tukang becak. Setiap hari personel Brimob di Bone memasak makanan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat sambil berpatroli.
Inovasi yang tak kalah menariknya dari Kompol Nur Ichsan adalah membuat aplikasi alarm PLB Tenri Betta berbasis android. Di dalamnya ada fitur lokasi, rute, dan koordinat yang terhubung dengan Google Earth. Aplikasi ini berguna saat pelaksanaan patroli untuk mengetahui rute, lokasi, waktu dan titik koordinat yang tertera dalam foto dokumentasi. Dapat digunakan di seluruh Indonesia selama terkoneksi dengan jaringan internet.
Inovasi ini merupakan bagian dari modernisasi di era Police 4.0. Aplikasi digagas menyesuaikan dengan zaman dan menjadi program kapolri terkait perkembangan teknologi. ”Anggota kami di Bone ini kan semuanya tinggal di luar, karena memang tidak ada asrama. Sehingga saya butuh sebuah aplikasi yang bisa memanggil mereka dalam situasi insidentil. Saya kemudian berkoordinasi dengan programmer untuk membuatnya dan langsung terealisasi,” terangnya.
Seperti apa efektivitas aplikasi ini? ”Sangat bagus. Beberapa kali diujicoba dan anggota pun bergerak dengan cepat,” tandasnya. (*/rus)
