INSPIRASI yang baik bisa datang dari siapa saja. Tak terkecuali dari Devi Tandirerung. Seorang mahasiswi yang saat ini kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja. Di sela-sela aktivitasnya menimba ilmu di bangku perguruan tinggi, ia juga nyambi menjadi sopir angkutan kota (angkot).
PADA Jumat (8/7), BKM bersama tiga orang wartawan lainnya hendak meliput kegiatan yang dilaksanakan Partai Golkar Tana Toraja. Lokasinya di Gedung Tammuan Mali, Makale. Agendanya, rapat finalisasi persiapan pelantikan pengurus DPD II Golkar Tator yang diketuai Victor Datuan Batara (DVB), yang diagendakan dilaksanakan pada Sabtu (16/7).
Tak disangka, hujan tetiba mengguyur. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan jasa angkutan umum jenis angkot. Selang beberapa saat kemudian sebuah mobil Suzuki Futura berhenti. Bernomor polisi DD 1735 AU.
Di kala kendaraan mulai melaju, baru disadari bahwa ada hal unik di atas kendaraan umum ini. Jika lazimnya sopir adalah pria, kali ini seorang perempuan. Jika diperhatikan umurnya masih belia. Berkisar belasan tahun. Parasnya juga tergolong cantik. Kulitnya putih.
BKM dan tiga wartawan lainnya penasaran untuk menggali informasi darinya. Namun, tidak mudah mengorek keterangannya. Gadis tersebut tampak malu-malu. Berkat bujukan dari seorang pria paruh baya yang ada di sampingnya, belakangan diketahui sebagai ayahnya, sopir angkot itu pun bersedia untuk diwawancarai.
Namanya adalah Devi Tandirerung. Usianya kini 19 tahun. Beralamat di Rantetayo. Sudah kurang lebih ia menjadi sopir angkot berkeliling kota Makale dan sekitarnya. Ia mencari penumpang didampingi ayahnya.
Kata Devi, ia bercita-cita kelak bisa menjadi seorang guru. Untuk meraih impiannya itu, dirinya harus kuliah. Jurusan Fisika di UKI Toraja dipilihnya mendaftar baru-baru ini.
Setiap hari dalam tiga bulan terakhir Devi membantu ayahnya menjadi sopir angkot. Penghasilan yang diperolehnya cukup lumayan. Bisa untuk memenuhi kebutuhan di rumah dan biaya kuliah serta sekolah saudaranya yang lain.
Devi merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ia mengaku terpanggil membantu ayahnya menjadi sopir angkot karena ingin membahagiakan dan mengabdi kepada kedua orang tua.
Menurutnya, menjadi sopir angkot tidak mengganggu kuliahnya. Profesi itu ia lakoni setelah pulang kuliah. ”Boleh jadi banyak teman sebaya saya malu jadi sopir, bahkan waktunya banyak habis main HP. Namun saya tidak pernah ragu dan malu bekerja sebagai sopir angkot sekalipun,” ujarnya penuh keyakinan.
Bagi Devi, wajib hukumnya bagi seorang anak untuk menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya dengan setulus hati, serta tidak segan membantu mereka. Sebab membantu orang tua adalah salah satu wujud rasa hormat anak kepada mereka, dengan tetap mengedepankan nilai, norma, perhatian, dan kasih sayang agar kelak mampu mandiri berdiri di atas kaki sendiri. (gus/c)
