MAKASSAR, BKM — Hermawan Kartajaya selaku Founder & Chairman M Corp sekaligus penulis buku
Marketing 5.0, Best Business Book by Soundview, kembali mengadakan seminar pemasaran tahunannya HK Webseries. Pada episode kali ini, perhelatan ini mengusung tema Adopting Humanity in Technology dan dilaksanakan secara virtual oleh MarkPlus, Inc pada Kamis (14/7).
Dihadiri lebih dari 1300 penonton secara virtual, Hermawan Kartajaya telah mengulas bagaimana di era yang serba high tech, sentuhan manusia (high touch) sangat diperlukan sebagai diferensiasi. Hal ini banyak ditemui di era post-recovery dimana perusahaan atau institusi kembali mengadakan berbagai aktivitas offline untuk menghubungan kembali konektivitas nyata antara perusahaan dengan konsumen.
”Saya menyaksikan bagaimana Jakarta Fair menjadi yang tersukses tahun ini, hebat sepanjang sejarah. Siapa bilang semuanya harus on air, dengan off air, pengguna akan kangen,” imbuh Hermawan.
Meski di era disrupsi digital, sentuhan manusia dalam pemasaran memainkan peranan esensial. Misalnya Amazon, salah satu e-commerce paling besar yang saat ini justru membuka toko offline pertama-nya di Amerika. Bagi Hermawan, hal ini merupakan wujud nyata kombinasi human-technology yang akan membantu perusahaan untuk lebih dicintai pelanggan.
Perhelatan ini dimulai dengan pembahasan fenomena-fenomena yang berada di puncak pemberitaan semester pertama tahun ini, mulai dari perang antara Rusia dan Ukraina, film Top Gun Maverick dan Jurassic Park Dominion, hingga makin kompetitifnya pendanaan bagi Startup yang saat ini terus menjamur.
Hermawan juga menegaskan bagaimana saat ini perilaku konsumen berubah pada tiga hal, diantaranya
kerinduan akan koneksi manusia, kembalinya human experience yang nyata, dan kepedulian terhadap bisnis yang human-sentris.
”Kalau anda menjalankan marketing, anda harus sadar bahwa konsumen sudah berubah. Jangan jadikan
perusahaan anda survive saja, tapi juga win. Untuk memenangkan kompetisi, sadari bahwa konsumen sudah reform sebelum perusahaan anda berubah. Maka anda perlu merencanakan transformasi,” ujar Hermawan. (mir)
