MAKASSAR, BKM — Seteru penentuan posisi rel kereta api yang melintas di wilayah Makassar kian memanas. Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto tetap bersikukuh, jika ingin kereta api melintas di Makassar, rel harus dibangun secara elevated atau melayang.
Bahkan secara khusus Danny menggelar konferensi pers di DPRD Makassar, Senin (18/7). Ia menerangkan alasan-alasan mendasar kenapa dia menentang jika rel kereta api dibuat secara at grade (langsung di tanah). Konferensi pers dihadiri Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo, Wakil Ketua DPRD Ali Rasyid Ali, Ketua Komisi C Sangkala Saddiko, serta sejumlah anggota dewan dan pimpinan OPD.
Dalam keterangannya, Danny mengatakan, sejak awal dicanangkan oleh Gubernur Syahrul Yasin Limpo, Pemkot Makassar yang paling pertama mendukung kehadiran kereta api di Sulawesi Selatan. Saat itu, Kepala Balai Kereta Api dipimpin oleh Jumardi. Koordinasi dan komunikasi berjalan baik. Saat digelar rapat, disepakati jika rel kereta api di Makassar nantinya akan dibangun secara elevated.
“Saya sendiri waktu itu terlibat deleniasi, untuk penentuan pola struktur jalan. Kami beri ide tentang penghematan lahan sesuai Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah atau RTRW tahun 2015. Waktu itu Kepala Balai Pak Jumardi. Semua pihak dilibatkan dalam perencanaan kereta api ini,” beber Danny.
Dia menerangkan, jika rel kereta api dibangun at grade, maka akan terjadi kondisi seperti di Barru. Daerah utara Makassar sekitar perlintasan kereta api bakal banjir. Selain itu, bakal banyak jembatan yang akan dibangun hingga jalur kereta api sampai di posisi New Port. Jatuhnya, sama saja tetap mahal.
Rel kereta api at grade juga akan memutus kegiatan kawasan di sana. Selain itu, posisinya akan rendah di sekitar Sungai Tallo sehingga cukup sulit dilewati kapal.
Selanjutnya, desain dan rencana pembangunan stasiun di Kawasan Lantebung juga disorot. Mestinya yang dekat dengan jalan besar. Supaya akses kendaraan tidak sulit ke sana. Apalagi Pemkot Makassar berencana menyiapkan feeder. “Jadi banyak susahnya kalau rel kereta api dibangun landed (at grade),” tegasnya.
Lebih jauh, orang nomor satu Makassar itu sangat menyesalkan adanya opini publik yang berusaha dibangun jika dirinya menentang kehadiran kereta api di Makassar. Padahal dia hanya memperjuangkan kepentingan masyarakat agar ke depan tidak ada persoalan yang muncul dengan hadirnya kereta api.
Ia menengarai kepala Balai Pengelola Kereta Api Sulsel saat ini ”bermain” politik. Danny pun mencurigai ada oknum yang mengubah rancangan awal desain yang direncanakan secara elevated.
“Saya sesalkan sepertinya balai bermain politik. Saya mau usulkan kepala balai diganti yang lebih baik. Ini masalah siri’ na pacce’,” tandasnya.
Lebih mengherankan lagi, tambahnya, ternyata ada rel kereta api di Maros dibuat secara elevated untuk menghindari kawasan gudang milik swasta. “Kenapa mereka bikin elevated di Maros? Itu untuk menghindari gudang swasta. Di Maros dikasih naik. Ada apa? Permintaan swasta dipenuhi, pemkot tdk dipenuhi. Ini perlu dicurigai. Saya tidak tuduh siapapun, tapi agak aneh,” cetusnya.
Dia juga mempertanyakan soal izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang hingga saat ini tidak jelas dan tidak pernah diperlihatkan ke Pemkot Makassar. “Missing link. Saat dua tahun kekosongan (Makassar dijabat pj). Mestinya pembahasan amdal harus transparan,” terangnya.
Soal penetapan lokasi yang akan dilakukan pada bulan Agustus, Danny tetap mempersilakan. Namun dengan syarat, lebar lahan yang akan dibebaskan hanya lima meter untuk keperluan pembangunan rel kereta api secara elevated. Bukan 50 meter untuk at grade.
Danny sangat menyesalkan banyak informasi yang tidak lengkap disampaikan oleh Balai Kereta Api ke Komisi C DPRD Makassar pada rapat dengar pendapat (RDP) ketika dirinya melakukan kunjungan ke Australia.
Kepala Bappeda Helmy Budiman yang memperkuat penjelasan wali kota,menyebut bahwa terkait kereta api sudah diatur dalam Perda Kota Makassar Nomor 4 tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Makassar 2015-2034.
“Di perda tersebut sudah dijelaskan bagaimana kereta api di Makassar. Dan di situ kita sudah sampaikan untuk Kota Makassar itu lebih cenderung yang namanya elevated. Tentunya kalau elevated kita cuma butuh lahan lima meter, at grade membutuhkan lahan 50 meter,” terangnya.
Di sisi lain, lanjutnya, jika elevated akan memberikan potensi ekonomi lebih besar. Sebaliknya, jika at grade akan memberikan dampak negatifnya lebih besar.
“Kita harapkan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi yang ini mendengar harapan kita. Kalau kita elevated, ini akan lebih memberikan dampak ekonomi yang lebih besar. Kalau kita at grade lebih banyak kawasan kita yang akan terputus ekonominya,” tandas Helmy.
Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo, DPRD sebagai lembaga pengawasan, berkomitmen untuk mendukung Program Strategis Nasional (PSN) seperti kereta api. Dia menekankan, mendukung proyek kereta api ini sepanjang tidak menimbulkan persoalan ke depan.
Apalagi anggaran untuk pembebasan lahannya sudah disiapkan. Jika tidak diselesaikan hingga Agustus, berpeluang untuk ditarik kembali ke pusat.
“Kami dukung penuh proyek ini. Namun kalau ada proyek, jangan setengah-setengah. Ini kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulsel, gerbang KTI. Kita akan kawal,” tuturnya.
Wakil Ketua DPRD Makassar Adi Rasyid Ali, mengatakan pihaknya kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mengundang Balai Kereta Api, Pemkot Makassar, dan Pemprov Sulsel.
Dalam RDP tersebut harus dibahas secara detail terkait site plan kereta api. Pihaknya juga akan melibatkan tenaga ahli tata ruang dan ahli transportasi.
“Pihak balai juga nanti kami minta untuk segera melengkapi dokumen amdalnya. Pemkot juga perlihatkan perencanaan. Walau ini jadi program nasional, hak kita harus tahu di balik kereta api ada apa? Banyak yang punya kepentingan,” tandasnya.
Terkait penjelasan Wali Kota Danny Pomanto, BKM telah mencoba untuk mengonfirmasi dan meminta penjelasan dari Kepala Balai Kereta Api Sulsel Amana Gappa, kemarin. Hanya saja, ia merespons dengan singkat. ”Silakan hari Rabu pagi jam 09.00, nanti konfirmasi ke sekretaris saya,” tulisanya melalui pesan WhatsApp. (rhm)
