GOWA, BKM — Sebuah sumur tua di Dusun Tokka, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa menelan korban jiwa. Sebanyak tiga orang korban menemui ajal dalam sumur tersebut. Kejadian ini berlangsung Rabu (20/7) sore pukul 15.45 Wita.
Dari ketiga korban, satu di antaranya merupakan anggota TNI. Ia adalah Praka Rahman Lili. Prajurit usia 40 tahun ini merupakan personel Tayanrad Pokko Ton II Kipan A, Kesatuan Yonif Raider 754/ENK. Ia warga Dusun Lemoa, Desa Pattallikang, Kecamatan manuju, Kabupaten Gowa.
Dua korban lainnya yakni Dg Nojeng (46), petani warga Dusun Tokka yang merupakan pemilik sumur. Satunya lagi bernama Ansar (27), seorang buruh harian yang beralamat di Dusun Jenemaeja, Desa Barugaya, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.
Ketiga korban telah dimakamkan oleh masing-masing keluarga setelah berhasil dievakuasi dari sumur maut yang memiliki kedalaman delapan meter itu.
Kepala Desa Bissoloro Abdul Gani yang dikonfirmasi, Rabu (20/7) malam, membenarkan jika sumur tua yang berada dekat rumah korban Dg Nojeng itu telah menelan korban nyawa tiga sekaligus.
Peristiwa terjadi ketika Daeng Nojeng tengah mengerjakan rumahnya. Ia kemudian membongkar sumur tua miliknya, yang beberapa bulan lalu telah ditutupnya menggunakan lapisan cor. Sumur tua itu memang sengaja ditutup karena dianggap bisa membahayakan anak-anak di lingkungan sekitar.
“Saya belum tahu bagaimana awal kejadiannya sehingga ada tiga orang masuk sumur. Yang jelas ketiganya menjadi korban. Kita serahkan kepada polisi untuk mengusutnya,” jelas Kades Abdul Gani.
Tiga orang yang menjemput ajal dalam peristiwa ini diperkirakan karena kehabisan oksigen dalam sumur sempit tersebut. Mereka berhasil dievakuasi dan dikeluarkan dari dalam sumur atas bantuan para warga dengan peralatan tali pada pukul 18.20 Wita.
Dari proses evakuasi, Daeng Nojeng dinyatakan meninggal dunia di tempat. Sementara Praka Rahman Lili bersama Ansar masih sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatk pertolongan. Namun Tuhan berkehendak lain. Keduanya pun menembuskan napas terakhirnya.
Kapolsek Bungaya Iptu Sugiharto yang dikonfirmasi, mengatakan pihak lepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Kemudian melanjutkan penyelidikan seputar kasus sumur yang menelan tiga jiwa ini.
“Sampai saat ini aparat kepolisian masih menyelidiki apa sebenarnya penyebab ketiga warga ini meninggal dunia. Kita belum bisa memastikan apakah para korban meninggal karena kekurangan oksigen atau ada penyebab lain,” terang Iptu Sugiharto.
Seorang warga bernama Daeng Ngoyo (46) yang merupakan tukang batu berdomisili di Mangempang, Desa Bissoloro, mengatakan saat jarum jam menunjukkan pukul 16.00 Wita, Daeng Nojeng dilihatnya masuk ke dalam sumur untuk menambah kedalaman sumurnya yang sudah lama tidak dipakai.
Sekitar lima menit berada di dalam sumur, yang lain mulai memanggil-manggil nama Daeng Nojeng, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Ansar pun turun ke dalam sumur untuk mengecek kondisi Daeng Nojeng.
Tapi sama dengan Daeng Nojeng, Ansar pun tidak menyahut lagi ketika dipanggil-panggil.
Karena kuatir kondisi keduanya, Praka Rahman Lili yang kebetulan sedang libur dinas dan datang ke kampung mertuanya itu, berinisiatif masuk ke dalam sumur untuk mengecek. Saat sampai di bawah setelah beberapa menit dan dipanggil, juga tidak ada jawaban.
Karena tak ada jawaban dari ketiganya, warga lain mulai gelisah. Akhirnya saksi Daeng Ngoyo bersama yang lainnya meminta bantuan kepada warga sekitar. Mereka lalu ramai-ramai berusaha mengevakuasi ketiga korban yang diduga dalam keadaan pingsan dengan menggunakan alat seadanya.
Sekitar pukul 18.20 Wita barulah ketiganya berhasil dievakuasi dari sumur menggunakan tali. Ketiga korban dikeluarkan satu persatu, dan korban Daeng Nojeng sudah dalam keadaan meninggal dunia. Posisinya paling bawah setelah Ansar dan Praka Rahman. (sar)
