MAKASSAR, BKM — Abdul Azis tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Putrinya, Zhafirah Azis Syah Alam menjemput ajal dengan cara yang tak pernah disangka-sangkanya. Warga Perumahan Maros Regency ini pun berharap penyebab kematian Zhafirah bisa diungkap secara tuntas.
”Saya tidak langsung percaya begitu saja ketika mendapat informasi itu (soal kematian Zhafirah). Karena ketika anak saya berangkat dari rumah, ia dilengkapi surat sehat dan surat izin untuk mengikuti kegiatan,” ujar pria bergelar doktor itu, Senin (25/7).
Kabar yang diterimanya dari panitia penyelenggara lewat video call membuatnya sangat terpukul. Putrinya yang kuliah di semester lima Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu telah tiada.
”Saya tanya panitia, tolong video call lokasi. Saya takutnya terjebak dengan itu informasi. Sempat penipuan atau apa. Setelah itu barulah saya pastikan informasinya benar,” terangnya.
Abdul Azis pun meminta agar jenazah anaknya divisum. Keluarga ingin memastikan penyebab kematian anaknya.”Persoalan nanti apa penyebabnya, apakah karena hipotermia, kedinginan atau lainnya, yang jelas terjawab teka-teki penyebab kematian anak saya,” tandas Abdul Azis.
Zhafira Azis berusia 20 tahun. Ia meninggal dunia sesaat setibanya di Puskemas Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Minggu (24/7) pukul 04.00 Wita. Sebelumnya, ia tengah mengikuti pendidikan dasar (diksar) pengaderan senat fakultasnya.
Zhafira menjadi peserta bersama 23 mahasiswa mahasiswi lainnya. Mereka dikawal 20 panitia dan 17 pengurus organisasi sekaligus senior di fakultasnya. Diksar yang diikutinya dipusatkan di Embun Pagi, Lingkungan Bontoa, Kelurahan Buluttana, Kecamatan Tinggimoncong, Sulsel. Berlangsung sejak Jumat, Sabtu, hingga Minggu (24/7).
Belum diketahui penyebab pasti sehingga korban meninggal dunia. Namun menurut sejumlah warga, termasuk para senior korban yang ikut dalam kegiatan itu, kemungkinan almarhumah mengalami kedinginan (hypotermia) saat mengikuti beberapa tahap prosesi pengaderan.
Kapolsek Tinggimoncong Gowa AKP Jumadi yang dikonfirmasi, membenarkan adanya seorang mahasiswi yang meninggal dunia saat berkegiatan di Malino.
“Korban sempat dibawa ke Puskesmas Malino untuk mendapatkan tindakan medis. Saat itu ia sudah tak sadarkan diri di tempat diksar,” ujarnya.
AKP Jumadi lalu menguraikan kronologi awal mula kegiatan dan penyelamatan korban. Pada Jumat (22/7) lalu, sebanyak 61 orang mahasiswa FKM UMI tiba di Embun Pagi, Lingkungan Bontoa, Kelurahan Buluttana. Mereka terdiri dari 20 orang panitia, 17 pengurus organisasi dan 24 orang peserta, termasuk korban.
Pada Sabtu (23/7), para peserta mulai menjalani rangkaian kegiatan diksar. Salah satunya menerima materi dari para senior.
Pada Minggu (24/7) dinihari pukul 03.30 Wita memasuki agenda jurit malam ke gunung Bawakaraeng. Jurit malam adalah aktivitas yang dilakukan oleh para peserta yang bertujuan untuk melatih kepemimpinan, mengasah keberanian, dan memecahkan masalah dalam waktu yang singkat, dan juga kerja sama.Dalam kegiatan itu, para peserta berjalan melewati beberapa pos. Dari pos ke pos, peserta diselingi jalan jongkok dan merayap di kali serta masuk berendam di kolam air di kaki gunung. Kegiatan ini dikawal beberapa orang senior dan panitia.
Pada pukul 03.45 Wita, peserta tiba di Pos 5. Di sinilah korban mulai tumbang tak sadarkan diri. Para senior pun mengevakuasinya turun kembali dan menuju rumah warga, untuk selanjutnya dibawa ke Puskesmas Malino. Namun, setibanya di Puskesmas Malino pukul 04.00 Wita, oleh pihak medis, korban dinyatakan sudah meninggal dunia. Pihak Puskesmas didampingi jajaran Polsek Tinggimoncong merujuk korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada pukul 09.00 Wita untuk dilakukan visum.
Selain Zhafira Azis, masih ada satu orang lagi peserta yang mengalami sakit, yakni mahasiswa bernama Muh Fahri (20). Berdomisili di Jalan Landak Baru, Makassar. Namun, kondisi Muh Fahri agak lebih baik. Zhafira sendiri berasal dari Kabupaten Maros.
AKP Jumadi menegaskan, kasus meninggalnya Zhafira saat ini masih dalam proses penyelidikan. Sejumlah saksi telah ambil keterangannya. Mereka yang diperiksa adalah pihak panitia atau yang bertanggung jawab dalam kegiatan pengaderan tersebut. ”Ada tiga orang panitia kegitan yang sudah diperiksa,” ujar AKP Jumadi.
Terpisah, Kasi Humas Polres Gowa AKP Hasan Fadhlyh yang dikonfirmasi, Senin siang (25/7), mengatakan terkait kejadian tersebut, penyidik pembantu di Polsek Tinggimoncong baru memeriksa beberapa saksi. Di antaranya HR selaku Ketua Senat Mahasiswa FKM UMI yang ikut dalam kegiatan itu, serta MAL selaku ketua panitia diksar.
“Saksi yang sudah diambil keterangannya ada dua, yakni HR selaku ketua senat yang ada di lokasi dan MAL sebagai ketua panitia. Seorang lagi saksi korban yang sakit. Kasus ini terus dikembangkan kepolisian untuk memastikan penyebab meninggalnya satu orang peserta, ” kata AKP Hasan Fadhlyh.
Apakah ada unsur kekerasan pada diri korban? Menurut mantan Kapolsek Tinggimoncong ini, penyidik belum menemukan adanya unsur kekerasan di jasad korban. Pihak kepolisian tetap merujuk hasil visum tim medis di RS Bhayangkara Makassar.
“Kemungkinan korban mengalami kelelahan oleh karena agenda kegiatan diksar yang padat , khususnya kegiatan fisik. Kemarin, penyidik pembantu di Polsek Tinggimoncong fokus dulu pada penyelamatan korban yang langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan detil. Korban meninggal dunia diduga kemungkinan besar mengalami hypotermia karena berada di ketinggian dengan cuaca yang cukup ekstrem saat korban bersama peserta lainnya berada di Pos 5 pada pukul tiga dinihari,” papar AKP Hasan Fadhlyh.
BKM berusaha melakukan konfirmasi ke pihak UMI terkait peristiwa ini. Namun, Wakil Dekan III FKM UMI Dr Multazam tidak memberikan respons. (sar-ari)
