MAKASSAR, BKM — Pengelolaan sampah di Makassar belum maksimal. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, menyebut bahwa sistem pengelolaan sampahnya belum menunjukkan revolusi mental. Karena baru 10 persen sampah rumah tangga yang mampu dikelola dengan baik sehingga menjadi produk yang bernilai.
“Ini belum revolusi mental. Pokoknya baru akan terjadi revolusi mental masyarakat Makassar kalau nanti 90 persen sampahnya, sampah rumah tangga terutama, sudah dikelola dengan baik. Ini baru 10 persen. Jadi masih jauh,” ungkap Muhadjir saat melakukan peninjauan Bank Sampah milik Pemerintah Kota Makassar di Paccerakang, Selasa, (26/7).
Sejauh ini, lanjut Muhadjir, Pemkot Makassar baru mengandalkan pengelolaan sampah organik dengan melakukan budidaya ulat maggot. Itupun dengan alat yang masih terbatas dan diimpor dari Korea.
Padahal, kata Muhadjir, alat seperti itu bisa diproduksi oleh Unhas dengan sokongan dari Kementerian Pendidikan. Sementara pemerintah daerah bisa mensupport melalui anggaran.
“Karena itu, saya sarankan ke Bu Wakil Wali Kota (Makassar), supaya menggandeng perguruan tinggi Unhas untuk mereplikasi teknologi ini. Teknologi ini tidak rumit amat. Cukup sederhana. Saya kira teknologi pengolahan hasil pertanian sudah bisa dibuat lebih sederhana. Tidak usah mewah tapi masyarakat sudah bisa menggunakan,” jelasnya.
Menurutnya, Makassar sebagai kota besar harus berani menganggarkan masalah penanganan sampah secara besar-besaran. Misal, tahun depan menggelontorkan Rp10 miliar khusus untuk pengadaan instalasi ulat maggot. Sehingga produksi sampah yang terurai bisa berlipat ganda. Ulat maggot yang tak terpakai lagi juga bisa dimanfaatkan jadi uang.
“Kalau itu bisa jadi, maka dikatakan revolusi mental. Kalau ini yang ada sekarang (maggot) baru revolusi mentil ini,” cetusnya.
Direktur Yayasan Peduli Negeri (YPN) Saharuddin Ridwan, menerangkan sejauh ini pengelolaan sampah organik yang bisa dilakukan adalah dengan budidaya maggot. Sebetulnya, kata lelaki yang akrab disapa Sahar itu, sepanjang bahan baku sampah organik cukup banyak, budidaya maggot bisa ditingkatkan.
Namun saat ini, kemampuan mengolah sampah organik baru 1 hingga 5 ton per hari. “Itu bisa kita tambah kalo bisa kelola kantong-kantong yang lain,” jelas Sahar.
Sementara produksi maggot saat ini yang dihasilkan berupa fresh maggot, maggot kering, dan tepung maggot. Semua itu laris manis di luar negeri dan menjadi pakan ikan favorit karena mengandung protein yang cukup tinggi.
Sebenarnya, kata Sahar, potensi sampah organik Makassar cukup tinggi. Yakni sekitar 400-500 ton per hari. Bersumber dari sisa makanan.
“Potensi sampah organik paling banyak itu dari hotel, restoran, dan kafe. Saya sudah koordinasi dengan Camat Biringkanaya, bagaimana proses pengumpulan sampah ini bisa dilaksanakan. Kalau sampah organik dari rumah tangga sedikitji sampahnya. Rata-rata setengah kilogram per orang,” tandasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar Aryati Puspasari Abadi, menjelaskan budidaya maggot yang berasal dari Black Soldier Flies (BSF) atau lalat hitam sudah dikembangkan oleh BSP Pacerakkang sebagai percontohan. Menurutnya, budidaya maggot merupakan solusi untuk mengatasi masalah sampah rumah tangga. Sebab maggot akan mereduksi sampah sisa-sisa makanan.
Dia menjelaskan, peralatan dalam budidaya maggot di BSP Pacerakkang sangat lengkap dan sudah terintegrasi. Sehingga pemeliharaannya mulai dari telur, larva, pre pupa, pupa hingga menjadi lalat dewasa bisa dilihat di sana.
“Di sana ada juga mesin untuk mengekstraksi larva maggot menjadi minyak esensial yang baik untuk kecantikan dan pengobatan. Jadi di sana itu kita sudah bisa melihat bagaimana siklus pemeliharaan maggot,” jelasnya
Selain di BSP Pacerakkang, budidaya maggot juga sudah mulai dikembangkan di Bank Sampah lainnya di Kota Makassar. Seperti di Untia.
“Jadi di beberapa bank sampah lain itu kita sudah kembangkan, cuma memang untuk perlengkapan itu paling lengkap dan pengelolaan yang paripurna itu di BSP Pacerakkang,” kuncinya. (rhm)
