IKATAN Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) Wilayah Sulawesi Selatan kembali menggeliat. Terpilih sebagai ketua organisasi ini sebulan yang lalu, Dr Hj Andi Laksmiwati dan pengurus lainnya memiliki sejumlah program yang akan dilaksanakan. Apa saja itu?
ISWI sudah sejak lama ada. Terhitung sejak 3 Mei 1956. Dalam rentang waktu 66 tahun kehadirannya, organisasi ini telah melaksanakan berbagai program kerja, baik pada tingkat pusat maupun wilayah.
”Namanya Ikatan Sarjana Wanita, anggotanya adalah wanita dengan latar belakang berbagai macam disiplin ilmu. Visi ISWI Sulsel bagaimana memanfaatkan keahlian yang ada dengan segenap intelegensia yang senantiasa diasah untuk mencerdaskan dan menyejahterakan masyarakat, tekhusus perempuan,” ujar Andi Laksmiwati ketika menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Untuk pelaksanaan visi tersebut kemudian dituangkan dalam misi, yaitu pemberdayaan dengan berbagai tujuan. Di antaranya pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, dan ketenagakerjaan.
”Ada 12 bidang yang jadi sasaran. Namun, yang spesifik di ISWI dibanding organisasi lain ada dua bidang. Yang pertama, fokus pada kajian kebijakan publik yang terkait dengan pemberdayaan perempuan. Seperti tentang apa yang perlu dievaluasi, lebih mengena atau sesuai dengan kebijakan,” terang Andi Laksmi, sapaan akrabnya.
Kedua, lanjutnya, yaitu bimtek standarisasi profesi. Karena ISWI beranggotakan yang heterogen dan perlu menerapkan standarisasi profesi sesuai dengan disiplin ilmu, sehingga pada saatnya turun ke lapangan memberikan pelayanan kepada masyarakat ada standar yang harus implementasikan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Diakui Andi Laksmi, yang sangat urgen dan penting dilakukan saat ini adalah menginventarisasi para anggota dan mengupayakan untuk menyusun database sarjana perempuan yang ada di Sulsel. Pihaknya tidak ingin muluk-muluk dalam pendataan tersebut. Cukup hanya dalam tiga tahun terakhir saja sarjana wanita dari perguruan tinggi yang menjadi sasaran pendataan.
”Kami mendapat data dari salah satu universitas swasta yang ada di Makassar, dalam tiga tahun ini tercatat ada 28 ribu sarjana perempuan yang dihasilkan. Untuk itu kita mencari data di berbagai perguruan tinggi yang ada di Sulsel baik swasta maupun negeri dengan berbagai cara. Seperti melalui media sosial, membagikan form secara manual dan upaya-upaya lainnya,” terangnya.
Karenanya, Andi Laksmi belum bisa menyebutkan secara pasti berapa sebenarnya jumlah anggota ISWI Sulsel saat ini. Namun ia meyakini begitu banyak sarjana wanita yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sulsel, serta bekerja di berbagai institusi.
Terkait dengan program, ISWI Sulsel berusaha untuk menyentuh langsung kehidupan masyarakat pada umumnya. Di bidang pendidikan misalnya, menurut Andi Laksmi, masih sangat perlu mendapat perhatian serius. Mulai dari daya serap peserta didik, sarana dan prasarana pendidikan, pendanaan, akses dan segala macam.
”ISWI mencoba untuk ke dalamnya sebagai organisasi kemasyarakatan. Tujuannya adalah bagaimana bisa mengintervensi dan membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan dan menyejahterakan masyarakat,” ungkapnya.
Selanjutnya, kajian dalam raker ISWI, disepakati untuk masuk ke dalam bidang kesehatan. Terutama tentang bagaimana pelayanan kesehatan yang standar, penyediaan obat yang relatif mudah, penanganan covid, hingga tenaga kesehatan yang sangat terbatas, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. ”Ini kita mencoba mengupayakan masuk bermitra dengan pemerintah,” tandasnya. (*/rus)
