AWALNYA ia dilarang kuliah oleh orang tua. Namun, belakangan dirinya mampu membuktikan kalau sesuatu bisa diraih jika kukuh memperjuangkannya. Raihan beasiswa dan mahasiswa berprestasi pun berhasil disandangnya.
AMRAN, itu namanya. Saat ini tengah kuliah di Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas).
Ia mengawali prestasi di bidang olahraga tahun 2018. Ketika itu ada perlombaan yang dilaksanakan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Pencapaiannya itu jauh dari kemampuan yang dimiliknya saat ini, yaitu menulis. Amran mulai menggeluti dunia kepenulisan di tahun 2019. Ia diajak oleh seorang senior yang sudah punya basic di bidang kepenulisan. Sejak saat itu dirinya terdorong untuk menulis lalu kemudian menggelutinya hingga sekarang.
”Sebenarnya waktu SMP dan SMA kebanyakan hobinya di dunia olahraga. Sangat jauh berbeda dengan kepenulisan. Kenapa saya tiba-tiba suka dunia kepenulisan ini? Pertama, bisa melatih kita tampil di depan publik, menyampaikan argumentasi yang benar, serta bagaimana menyalurkan ide yang nantinya bisa digunakan oleh masyarakat,” terang Amran yang menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Di awal kuliah, Amran sempat berkecimpung di kegiatan tenis meja. Lagi-lagi sangat melenceng dari dunia menulis. Ia kemudian bergabung dengan organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Di sinilah Amran mendapati orang-orang yang memiliki basic di bidang penulisan. Mereka pun mendukung Amran untuk masuk dan menggeluti dunia kepenulisan.
Dari situ Amran kemudian menyadari bahwa teman dan lingkungan begitu besar memengaruhi gerak langkah dirinya untuk bisa seperti sekarang. Menurutnya, teman menjadi salah satu jalan bagi seseorang untuk meraih sukses.
”Lingkungan sangat besar pengaruh dan dukungannya terhadap sebuah kesuksesan. Kedua adalah teman. Saya ini anak desa yang terjun di dunia kepenulisan tidak selamanya berjalan mulus. Namun, potensi di lingkungan saya adalah orang-orang hebat. Kemudian saya berpikir kenapa saya tidak bisa seperti mereka,” ujar mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Luwu ini.
Amran juga mengungkap, ketika duduk di bangku SD, SMP, dan SMA dirinya hobi dengan kegiatan pramuka sehingga memilih untuk bergabung di dalamnya. Namun entah kenapa, kegiatan tersebut kini ia tinggalkan.
Pencapaian yang baru-baru ini diraih Amran adalah menjadi finalis mahasiswa berprestasi (mawapres) tingkat fakultas. Ia mengaku bersyukur bisa sejauh itu langkahnya, karena ada begitu banyak mahasiswa yang menginginkan.
Amran juga seorang penulis esai. Ia pernah masuk nominasi tiga besar dan meraih penghargaan dari lomba menulis esai yang diikutinya. Baginya, hadiah dan juara yang diperolehnya merupakan bonus. Nilai pertama yang diperolehnya adalah pengalaman dan pengembangan soft skill.
Dalam waktu dekat Amran akan berangkat ke Bogor. Tepatnya di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini sebagai bagian dari support beasiswa yang diperolehnya. Di sana dipertemukan para penerima beasiswa serupa dari Sabang sampai Meruke dalam sebuah forum. Biasanya diisi dengan sejumlah perlombaan.
Dengan melihat prestasi yang telah diraihnya, siapa sangka kalau ada sebuah kenangan tak terlupakan bagi Amran. ”Waktu tamat SMA dulu, orang tua melarang keras saya untuk lanjut kuliah. Namun, ada niat keras dalam diri saya untuk membuat pembeda dalam lingkaran keluarga saya. Karena di keluarga kami tidak ada yang lanjut kuliah ke perguruan tinggi. Saya mencoba untuk keluar dari zona itu,” ungkap Amran.
Dia pun berusaha meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa dirinya mampu untuk berdiri sendiri. ”Kepada orang tua waktu itu, saya hanya minta doa restu dan dukungan. Itulah yang kemudian menjadi support system saya hingga bisa seperti sekarang,” tandasnya. (*/rus)
