MAKASSAR, BKM–Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelora Sulsel Syamsari Kitta dalam mempertahankan disertasinya harus menghadapi enam dosen penguji.
Para penguji mencecar Syamsari yang juga Bupati Takalar dengan berbagai pertanyaan tentang keunggulan dan manfaat serta implikasi manajerial dari disertasi tersebut.
Syamsari telah menjawab dengan sangat jelas setiap pertanyaan dan akhirnya Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi gelar Doktor kepada Syamsari yang baru saja mendapatkan penghargaan tertinggi dari BKKBN RI.
Ketua Komisi Sidang Promosi, Prof Syamsul Maarif yang juga mantan Sekjen Kementrian Perikanan dan Kelautan RI ini menyatakan bahwa komisi penguji sangat puas atas disertasi dan penjelasan Syamsari yang juga telah mengirimkan hasil penelitiannya ke empat jurnal, dua jurnal nasional terakreditasi SINTA, dan dua jurnal internasional terindeks Scopus Q2 dan non Scopus.
Pada akhir sidang Dr Idqan yang mewakili Rektor IPB berharap agar Syamsari terus berkiprah untuk pengembangan ilmu dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
Syamsari dalam closing statemennya menyampaikan terima kasih kepada IPB dan semua stakeholder yang telah membantu dalam studi dan penyelesaian disertasi untuk memperoleh doktor dari IPB, gelar tertinggi dalam dunia pendidikan.
Sejumlah tokoh hadir di acara promosi doktor di IPB yang diadakan secara online, Rabu (10/8) melalui zoom. Deputi Litbang BKKBN, Rektor Unhas, Ketua LLDikti wil IX dan sejumlah pimpinan PTS, guru besar dari berbagai perguruan tinggi, forkopimda dan unsur pemerintah dan masyarakat Takalar serta pengusaha UMKM menghadiri ujian promosi yang ditutup Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman (ASS).
ASS mengapresiasi disertasi yang berjudul Model Kebijakan Sistem Ketahanan UMKM Sektor Perikanan Kabupaten Takalar di Era Ketidakpastian, sebuah disertasi yang dapat dijadikan rujukan untuk pembuatan regulasi di era ketidakpastian.
Rujukan UMKM di era ketidakpastian sangat jarang, padahal saat ini kita berada di era ketidakpastian, era pandemi yang menimbulkan ketidakpastian di semua sektor.
Deputi Litbang BKKBN, Prof Rizal juga mengapresiasi temuan Syamsari yang mengedepankan inovasi dibanding yang lain. Era ketidakpastian ini harus dihadapi dengan inovasi agar UMKM dapat berkelanjutan. UMKM tidak bisa hanya bergantung pada ketersiadaan modal. Tidak ada artinya modal jika inovasi tidak ada, sebab UMKM tidak bisa bersaing tanpa inovasi. (rif)

