MAKASSAR, BKM — Akhir-akhir ini banyak masyarakat mengeluh soal kenaikan harga telur. Saat kondisi normal, harga telur hanya Rp35 ribu per rak. Tapi kini, di tingkat pengecer harga telur tembus Rp53 ribu per rak.
Kenaikan harga telur ini dianggap wajar para peternak telur di Sulsel. Pasalnya, jika harga telur tidak naik, maka semakin banyak peternak ayam petelur gulung tikar. Malah, dengan harga saat ini saja, masih ada saja peternak telur yang rugi.
Ketua Layer Owners Community Sulawesi (LOCS), Kasman Malik dalam keterangannya kepada media ini menyebutkan, kenaikan harga telur disebabkan karena hukum ekonomi suply and demand. Dimana, kata dia, permintaan telur meningkat, sementara produksi telur terbatas.
“Kejadian ini tentu tidak terjadi begitu saja. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Di antaranya adanya kenaikan biaya produksi utamanya harga pakan yang melambung tinggi,” kata Kasman, Kamis (25/8/2022).
Selain itu, populasi ayam petelur berkurang karena banyak peternak yang memilih mengurangi populasi ayam petelurnya untuk menghindari biaya produksi yang tinggi.
“Sejak tahun 2021 sampai sekarang, terjadi kenaikan biaya produksi yang sangat tinggi untuk biaya konsentrat, jagung dan dedak. Hal ini membuat peternak mengalami kerugian yang luar biasa di sepanjang tahun 2021, sampai pada akhir semester I tahun 2022. Kami sebagai peternak berusaha bertahan dengan mengurangi populasi. Bahkan banyak yang terpaksa menutup peternakannya karena tidak sanggup lagi melanjutkan usaha tersebut. Tentu dengan meninggalkan utang yang belum tentu bisa kami bayar,” ujar Kasman.
Kasman memperkirakan, akibat kondisi ini terjadi pengurangan populasi ayam petelur di Sulawesi sekitar 30 persen hingga 40 persen dari populasi sebelumnya.
Kondisi tersebut, kata dia, secara otomatis mengurangi jumlah produksi telur di pulau Sulawesi. Khususnya, di Kabupaten Sidrap sebagai sentra produksi telur Indonesia Timur.
“Kenaikan harga telur yang terjadi sampai saat ini dipicu juga oleh adanya program Bansos yg dikeluarkan oleh Kemensos, kegiatan masyarakat yang kembali normal dicsemua sektor, serta gangguan produksi dan distribusi pangan yang menyebabkan melonjaknya harga komoditas tertentu,” jelasnya.
Hal lain, kata Kasman, juga dipicu karena pengurangan parent stock yang dilakukan pihak pabrikan untuk menghindari over populasi.
Inilah yang menyebabkan Harga telur melonjak, dimana Suplay dan
Harapan Peternak
Sebagai pengusaha ayam petelur, Kasman menegaskan jika peternak hanya berharap ada jaminan kestabilan dalam menjalankan usaha tanpa harus mengalami kerugian berkepanjangan.
Untuk itu, Kasman menegaskan para peternak berharap pemerintah dan
perusahaan terkait tetap menggalakkan peningkatan minat konsumsi telur di masyarakat.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah mengambil peran dalam menstabilkan harga bahan baku pakan khususnya jagung dengan mengatur waktu yang tepat untuk melakukan impor jagung.
“Peternak berharap pemerintah memantau harga pakan utamanya konsentrat agar segera menyesuaikan harga atau menurunkan harganya,” tegasnya.
Bukan itu saja. Pemerintah juga diminta memantau pertumbuhan populasi (produksi telur) dengan daya serap (tingkat konsumsi) masyarakat sehingga terjadi kestabilan.
“Pemerintah juga harus menormalkan kembali populasi di peternak rakyat, sebagai program penciptaan lapangan kerja dan sumber pendapatan di masyarakat,” tutup Kasman. (*)
