Site icon Berita Kota Makassar

Wadah Bagi Mahasiswa untuk Belajar Wirausaha

MERDEKA Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi semangat bagi kalangan akademisi dalam berinovasi. Tak terkecuali Program Studi (Prodi) Agrobisnis Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas). Agrofish market pun dihadirkan. Untuk apa?

ADA tiga orang perempuan yang terkait dengan pengelolaan dan agrofish market Prodi Agrobisnis Perikanan FIKP Unhas. Mereka adalah Ketua Prodi Dr Sitti Fakhriyyah, Ketua Unit Agrobisnis dan Kewirausahaan Dr Sri Suro Adhawaty, serta dosen Kewirausahaan dan Manajemen Kewirausahaan Arie Syahruni Cangara. Ketiganya ditemui di lokasi agrofish market kampus Unhas.

Sitti Fakhriyyah menjelaskan, sebenarnya ada empat lab di Prodi Agrobisnis Perikanan. Salah satu di antaranya adalah lab agrobisnis dan kewirausahaan. Penempatannya di luar area fakultas, namun masih tetap berada di bawah naungan Unhas. Lab ini dihadirkan sebagai tempat pemasaran untuk mendekatkan hasil produksi dengan konsumen.

”Di tahun 2009 kami dapat sejumlah dana hibah yang arahnya kewirausahaan. Karena itulah kami berinisiatif membentuk lab bisnis dan kewirausahaan. Dalam perjalanannya, membaca pasar dengan pola MKBM, kita tidak boleh hanya terkurung dalam lab saja. Melalui agrobisnis kita mengajak mahasiswa untuk merasakan bagaimana melakukan transaksi secara ril. Dengan begitu kita dapat mengetahui sejauh mana pencapaian pembelajaran,” ungkap Ria, sapaan akrab Dr Sitti Fakhriyyah.

Selain itu, lanjut Ria, ada lima poin besar dari pembentukan lab bisnis dan kewirausahaan. Pertama adalah mahasiswa agrobisnis bisa memahami titik-titik penting dalam usaha pada setiap tahapannya. Kedua, mampu membuat catatan kronologis penjualan. Ketiga, mahasiswa dapat membuat laporan keuangan cash flow dengan diawasi langsung oleh dosen dan pendamping kewirausahaan.

Keempat, menganalisis progress, apakah yang yang sudah dilakukan layak atau tidak. Terakhir, mampu membaca peluang usaha.
”Semua ini penting diketahui, karena akan menjadi bekal bagi mereka ketika terjun ke dunia usaha. Tidak perlu menunggu untuk menjadi PNS,” tandas Dr Ria.
Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini? Dr Sri Suro Adhawaty menyebut, mereka adalah mahasiswa yang sementara mata kuliah yang ada kaitannya dengan kewirausahaan. Selain itu, pihaknya juga melibatkan alumni. Proses pembimbingan dilakukan oleh dosen, sehingga mahasiswa memiliki skill.
”Kami juga bekerja sama dengan UMKM serta menerima produk dari mahasiswa lain di luar prodi. Tapi yang jadi prioritas adalah produk yang lahir dari lab. Apalagi kami sudah punya investasi mesin dan penggilingan. Fasilitas dalam lab cukup lengkap,” terang Sri Suro.

Di tahun 2022 ini Prodi Agrobisnis Perikanan FIKP Unhas mendapatkan dana hibah Pengembangan Usaha Produk Kualitas Intelektual Kampus. Di dalamnya terdapat tim dosen yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
Ari Syahruni Cangara menerangkan, kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa. Di sini mereka dibekali ilmu tentang perencanaan bisnis, bagaimana mengenali pasar, melihat peluang, menciptakan produk, memasarkan dan aktivitas lainnya.
”Anak-anak diajari menciptakan bisnis sendiri. Mendorong mereka untuk berwirausaha. Apa yang mereka pelajari di kelas, implementasinya ada di agrobisnis market. Ada produk yang mampu mereka ciptakan. Tidak sebatas tugas mata kuliah berupa lembar tugas. Tapi mengharuskan mereka belajar bagaimana menciptakan produk. Melakukan promosi dan pemasaran,” jelasnya.

Hadirnya agrofish market didasari pada pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Ketika dosen turun melakukan pengabdian kepada masyarakat, kerap didapati bahwa mereka terkendala soal pemasaran.
”Kami dari Unhas biasanya berpikir untuk bisa membantu pemasarannya. Tapi bagaimana dengan tempatnya. Kami tidak punya. Akhirnya kita berembuk, bagaimana kalau kita punya pemasaran sendiri. Konsumen banyak. Ada mahasiswa, dosen. Ada juga rumah sakit yang dekat dari kampus. Dengan begitu, produk UMKM yang kita bina selama ini bisa dibantu memasarkan produknya,” ungkap Ari.

Sejak tahun 2009 Prodi Agrobisnis Perikanan mendapatkan hibah untuk pengolahan abon ikan kering dari Dikti. Pemasaran juga menjadi kendala. Demikian pula dengan pemasaran benih ikan lele.
”Akhirnya kami berinisiatif ke Bagian Aset untuk minta tempat lab di luar prodi, tapi masih di bawah naungan Unhas. Akhirnya agrofish market ini hadir,” ungkap dr Ria lagi. (*/rus)

Exit mobile version