BANTAENG, BKM — Ketua organisasi non pemerintah Balang Institute Bantaeng, Adam Kurniawan, mengecam PT Huadi Nickel Alloy. Dia menuding perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan bijih nikel dan berlokasi di kawasan industri Bantaeng Kecamatan Pa’jukukang ini, tidak melakukan sosialisasi Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) terhadap masyarakat yang mukim di sekitar perusahaan.
Hal tersebut diungkapkan dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Bantaeng antara perwakilan dari Huadi dengan Balang Institute. Rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Bantaeng, Muhammad Ridwan, juga menghadirkan Direktur Persiroda, Kadis Lingkungan Hidup, Pengawas Tenaga Kerja, mengagendakan tentang Amdal, Senin (29/8).
Menurut Adam, persoalan ini diangkat ke permukaan sehubungan adanya pengaduan warga sekitar. Kata dia, warga mengeluhkan dampak yang dimbulkan pabrik pengolahan bijih nikel. Debu beterbangan, sumur warga kering dan lain-lain.
Adam mempertanyakan ke pihak perusahaan, apakah sewaktu melakukan penambahan lahan, perusahaan melakukan sosialisasi amdal atau tidak? “Warga mengeluhkan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan. Makanya saya tanyakan, apakah ada sosialisasi amdal atau tidak setelah perluasan lahan”, ujarnya.
Manager GA PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia, Lily Dewi Candinegara, mengaku, bahwa sewaktu pertamakali perusahaan tersebut berada di Bantaeng, semua pihak dilibatkan dalam proses penerbitan Amdal. “Semua pihak terkait dalam urusan amdal kita libatkan”, katanya.
Lily juga menyatakan siap memaparkan detai persoalan terkait penambahan area industri. Sementara itu, dia juga meminta agar Balang Institute mengemukakan secara detail tentang keluhan masyarakat.
Kadis Lingkungan Hidup, Muh Nasir Awing mengatakan, PT HNA sudah punya amdal. Mengenai penambahan area, tidak perlu lagi mengurus amdal. Cukup dibuktikan dengan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup) dan RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) secara rinci.
Hingga berita ini ditulis, RDP yang dipantau aparat Polres Bantaeng dan personel dari Polsek Pa’jukukang, masih berlangsung. (wam/C)

