MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar bekerja sama Pemerintah Australia melaksanakan program atau revitalisasi pemukiman kumuh dan lingkungannya.
Program yang dinamakan Revitalising Informal Settlements and Their Environments (RISE) itu menyasar pembangunan infrastruktur berkelanjutan untuk kelompok paling rentan dalam uji coba penelitian global.
Salah satu wilayah yang menjadi pilot project di Makassar adalah Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya.
Kawasan itu akan disulap menjadi lokasi pemukiman yang representatif dengan infrastruktur, layanan air bersih dan sanitasi yang memadai.
Penataan kawasan Salodong dimulai dengan peletakan batu pertama intervensi infrastruktur hijau program Rise, Kamis (1/9).
Selain Pemkot Makassar dan Pemerintah Australia, proyek ini juga melibatkan beberapa instansi. Diantaranya Monash University Australia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Universitas Hasanuddin.
Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Danny Pomanto, menerangkan, lebih dari 300 rumah tangga di berbagai komunitas permukiman informal di Makassar akan menerima perbaikan yang berkelanjutan dan peka-air.
Termasuk sistem pengolahan air limbah alami, pemanenan air hujan, toilet, serta jalanan dan akses yang lebih baik.
“Perbaikan ini, dirancang bersama masyarakat, dan akan memberikan sarana sanitasi, air bersih, dan ketahanan iklim bagi ratusan rumah tangga di daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur konvensional perkotaan,” jelasnya.
Danny berharap uji coba RISE dapat membantu mempengaruhi dan menarik investasi di masa depan ke dalam jenis solusi yang transformatif.
Deputy Director RISE yang memimpin pembangunan infrastruktur, Profesor Diego Ramirez-Lovering dari Monash University, mengatakan RISE sedang melakukan penelitian yang intens tentang dampak pendekatan peka-air dalam konteks negara yang sedang berkembang.
‘’Bermitra dengan pemukiman informal dalam penelitian RISE, kami memiliki kesempatan untuk berpikir ‘out of the box’ dan menjadi inovatif,” jelasnya.
Program Revitalising Informal Settlements and Their Environments (RISE) atau revitalisasi pemukiman kumuh dan lingkungannya menyasar lima kelurahan di Kota Makassar.
Antara lain Kelurahan Bulu Rokeng Kecamatan Biringkanaya, Kelurahan Tallo Kecamatan Tallo, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate.
Kelurahan Batua Kecamatan Manggala, dan Kelurahan Untia Kecamatan Bringkanaya.
Direktur Kemitraan Universitas Hasanuddin, Ansariyadi mengatakan, Unhas terlibat langsung dalam riset dengan uji coba pendekatan baru Water Sensitive City untuk pengelolaan air dan sanitasi di permukiman informal di Makassar.
Riset ini diharapkan memberikan temuan baru terhadap inovasi intervensi water sensitive atau nature based diimplementasikan di pemukiman informal perkotaan.
“Di riset ini juga diperkenalkan penggunaan teknologi Smart Septik Tank untuk mengolah air buangan dari rumah tangga dan disaring secara alamiah sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan,” jelasnya. (rhm)
